Ramak Tasup | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ramak Tasup Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:54 Rating: 4,5

Ramak Tasup

ORANG-ORANG di Kampung Banyubiru memanggilnya Ramak. Ramak dari kata rama, artinya bapak. Tidak semua bapak dipanggil ramak. Hanya dia seorang saja yang dipanggil demikian.

Ramak Tasup lulusan Sekolah Angka Lima pada zaman Belanda. Karena itu ia bisa menjadi pegawai negeri, guru di sekolah rakyat atau sekolah dasar zaman sekarang. Ia juga petani. Malam hati, Ramak Tasup mengajar pemberantasan buta huruf di rumahnya. Murid-muridnya? Semua orang kampung yang belum bisa membaca dan menulis.

Ramak Tasup berputra delapan. Cita-citanya mulia. Ia ingin semua anaknya menjadi guru. ”Karena guru itu sangat terhormat!“ katanya kepada anak-anaknya.

“Coba lihat di desa kita, semua orang jika ada kesulitan maka mereka akan bertanya kepada guru!” katanya bangga.

Dari delapan anaknya, enam sudah menjadi guru. Anak nomer tujuh sedang menempuh pendidikan sebagai calon guru. Dan kos di kota. 

Suaru hari anak ketujuh datang kepadanya. Agus yang tengah ia banggakan, menyampaikan permintaan.

“Pak aku minta sepeda motor!”

”Apa? ulangi apa yang kamu minta?” tanya Ramak Masup dengan nada tinggi.

”Aku minta sepeda motor!”

”Bapak tidak ada uang!”

”Jual saja sawah Bapak!”

”Tidak akan Bapak jual! Sawah itu menghasilkan padi, untuk makan kamu, kakak-kakakmu dan adikmu!”

”Jual satu sawah saja, Pak! Untuk apa Bapak punya sawah banyak-banyak?” Agus merajuk dan mendesakkan keinginannya. Ia berharap ayahnya mengabulkan perminataannya. 

”Sawah tidak akan Bapak jual!” kata Ramak Tasup lagi dengan suara lebih keras. ”Bagi orang desa, sawah itu hidup kita! Sekali orang jual tanah, ia akan jual tanah terus sampai kere! Duit itu seperti air, merembes ke mana, habis tidak terasa! Orang akan jadi menderita seumur hidup!”

”Tapi aku sekolah tanpa sepeda motor tidak enak. Aku tidak bisa lincah mengikuti berbagai kegiatan seperti teman-teman lain!”

”Kamu sekolah saja dengan baik. Biaya sekolah dan kos tetap Bapak kirim tiap bulan. Untuk makan sehari-hari ambil beras di rumah. Masak sendiri! Prihatin jadi orang!“ kata Ramak Tasup sambil beranjak dari ruang tamu meninggalkan Agus terpekur sendirian.

”Punya Bapak kok kolot, tidak mau maju, dan tidak mau kalau anaknya enak hidupnya!“

Agus bangkit, berdiri dan membanting meja di hadapannya sampai pecah berantakan. Ia bergegas mengambil beras dan keluar dari rumah. Setengah berlari, ia panggul sekarung beras menuju bus antar kota. Sepanjang perjalanan air matanya mengalir. ”Aku disuruh prihatin terus...,“ rintihnya dalam hati.

***
TIGA bulan Agus tidak pulang. Sementara ayahnya rutin mengirim uang bulannya. 

Suatu siang, tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba Agus muncul dengan muka tegang di hadapan Ramak Tasup. 

”Aku minta keluar dari sekolah, Pak! Aku mau keluar! Karena menjadi guru bukan cita-citaku. Jadi guru tidak bisa kaya!“

Wajah Tamak Rasup langsung memerah, penuh amarah! Ia seperti disambar petir di siang bolong. Tangannya gemetar, dadanya terasa sesak. Salah seorang anaknya berani memberontak. Dan itu dianggap sebagai penghinaan. Pandangan mata Ramak Tasup nanap. Dengan sigap ia ambil balok kayu untuk menakut-nakuti anaknya yang tidak tahu diri. Lalu keluarlah dengan lantang suaranya yang parau, ”Minggaaat! Minggat dari rumah ini! Lebih baik Bapak kehilangan satu anak daripada punya anak berani menentang orangtua!“

Agus bukannya lari, tapi malah menantang bapaknya. ”Aku tidak takut, Pak! Ayo pukul aku! Pukul aku!“ Suasana makin tegang. Ibunya yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran antara anak dan bapak di balik pintu kamar, beringsut keluar melalui pintu belakang. Rupanya orang-orang kampung sudah berdatangan mendengar keributan di rumah Ramak Tasup. Dua orang bergegas menangkap Ramak Tasup, dan yang lain menangkap Agus. Mereka berusaha melerai agar tidak terjadi perkelahian.

”Cepat kemasi barang-barangmu dari rumah ini! Makin cepat kamu pergi makin baik! Biar mata dan hati Bapak tidak sakit!” Ramak Tasup tetap tidak bisa mengendalikan emosinya.

Dengan hati yang hancur dan tubuh yang lunglai, Agus melepaskan diri dari orang yang menangkapnya. Ia masuk rumah dan mengambil pakaian secukupnya lalu keluar lagi tanpa menoleh pada Ramak Tasup. Ia melewati ibunya, melirik sebentar, lalu ia sambar tangan kanan ibunya. Ia ciumi tangan ibunya sambil menahan perasaan. Ibunya memeluk Agus sambil terisak, 

***
BERTAHUN-TAHUN Aguas meninggalkan kampung. Ia tidak menjalin komunikasi lagi dengan orangtua dan saudara-saudaranya. Bahkan ketika ibunya sakit keras dan merindukannya, Agus tidak pulang.

”Mana Pak, mana anakku Agus. Dia anakku yang paling ganteng. Aku rindu padanya.“

”Dia sudah tidak rindu lagi, Bu. Kalau dia rindu pasti dia akan pulang. Jangan kau pikirkan dia lagi.“

Entah apa yang ada dalam pikiran Ramak Tasup. Ia tak juga mempunyai keinginan untuk mencari Agus demi istrinya. Dalam rintihan sakit si ibu selalu mengigau menyebut nama Agus. Kerinduan yang sangat mendalam dari seorang ibu terhadap anak yang ia lahirkan. Badannya makin hari makin melemah. Tubuhnya mulai kurus kering, matanya cekung dan tatapannya hampa. Ia sudah tidak kuat lagi bangun. Sampai hari akhir dipanggil Tuhan, istri Ramak Tasup tidak bisa bertemu dengan Agus. Ia meninggal dalam pelukan anak bungsunya. 

***
HARI-HARI sepi Ramak Tasup sepeninggal isterinya. Ia lebih sering berdiam diri. Duduk di bangku salah satu sudut ruang tamu dan memenjamkan mata. Seperti posisi orang sedang meditasi. Jika sudah demikian anak bungsunya yang menemani tak berani mendekat.

Suatu pagi yang cerah, ketika Ramak Tasup kembali terpekur di bangku yang sama. Tiba-tiba ia measa ada orang mencium kakinya. Ia masih belum membuka mata. Ia pikir mungkin anak bungsunya mau minta sesuatu. Heran juga mengapa sampai mencium kakinya. Namun ia terkejut ketika orang yang mencium kakinya berkata, ”Bapak, aku mohon ampun….”
Ramak Tasup kenal sekali suara siapa itu.

”Pak, aku mohon maaf. Aku anak Bapak yang durhaka. Aku bertobat, Pak. Aku menyesal akan kelakuanku. Tuhan sudah menghukum aku. Aku tak bisa lagi mencium kaki Ibu. Sekarang ini aku mencium kaki Bapak, ampunilah aku,” kata Agus terbata-bata. Air matanya tidak kuasa lagi ia bending. Tumpah basah di kaki bapaknya.

”Dari mana kamu tahu Ibu sudah tidak ada,” tanya Ramak Tasup lirih masih dengan posisi sama. Tetap duduk di bangku dengan mata terpejam.

”Dari Lik Marto. Kami berjumpa di Lampung secara kebetulan.“

”Jadi selama ini kamu di Lampung?“

”Ya, Pak. Aku bekerja sambil kuliah! Aku sudah lulus S1 Pak. Aku sudah mapan di Lampung. Aku sudah punya rumah, mobil, pekerjaan yang baik. Bapak, liat itu istriku, Nina dan anakku, Petra.”

Ramak Tasup tak sabar lagi, ia membuka matanya dan berdiri kaku. Mulutnya kelu tak bisa bicara. Hatinya tergoncang. Ia melihat Agus masih bersimpuh di depannya memakai baju batik rapi. Di pintu ruang tamu, ia melihat seorang perempuan muda ayu sedang menggendong anak kecil berusia dua tahun. Di halaman tampak dari jendela sedan hitam terparkir. 

Yogyakarta, 24 Maret 2017


Rafael Priyono Mintodihardjo, Pegiat seni, tinggal di Manuka Condongcatur Sleman Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rafael Priyono Mintodihardjo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 2 April 2017



0 Response to "Ramak Tasup "