Ritual Merah dan Mimpi Buruk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ritual Merah dan Mimpi Buruk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Ritual Merah dan Mimpi Buruk

SEINGATKU, masih samar-samar saat ritual diadakan di desaku malam itu. Tetapi masih kuat dalam benakku ketika seorang gadis menangis penuh pilu saat akan dieksekusi, menjadi persembahan roh-roh agung di desaku. Selebihnya aku didekap dan mataku ditutupi ibu. Gadis itu terus terisak pasrah atas kehendak takdir sebagai gadis persembahan. Mungkin saja, terselip dalam pikirannya, sebelum nyawanya mangkat dari raganya: "Kenapa harus aku?"

Aku pun bertanya-tanya, mengapa gadis yang harus dijadikan persembahkan? Sedangkan Suku Ezteca, Suku Maya atau Suku Inca dalam pelaksanaan ritual yang mengorbankan darah manusia sebagai persembahan untuk Dewa Matahari tak memandang laki-laki atau perempuan, sama saja, tuaa muda bisa saja. Tetapi berbeda di desaku yang mengharuskan darah gadis perawan untuk digunakan ritual. Kenapa tidak lembu yang masih perawan atau kambing yang belum tersentuh kemaluan kambing jantan. Di usiaku yang ke-19 tahun, bermacam-macam pola pikir menyuarakan pemberontakan terus berdesir. Menurutku ini adat ak beradab, tradisi sesat. Dan ritual tersebut masih lestari sampai saat ini.

Waktu pun sudah siap dilaksanakan. Terhitung hari ini, sekurang-kurangnay 30 hari mendatang akan dilaksanakan ritual persembahan. Tak lain tak bukan, ritual ini bertujuan menyucikan desa agar aman dari segala malapetaka, dan menjadi desa yang makmur, sejahtera serta damai, tak ada lagi kekeringan, tak ada lagi gagal panen, dan tak ada lagi kerusuhan antarwarga. Ritual semacam itu hanya dilakukan 12 tahun sekali.


***
DELINA tetap  membeku di teras rumahnya ditemani angin malam berdesir pelan. Dingin mengudara membuat siksa batinnya tampak sempurna. Ia menganggap hidupnya seperti sudah berakhir sebelum ia dijadikan persembahan untuk roh-roh suci. Pandangannya kosong, ia sudah menyerah dari peperangan untuk merebut haknya sebagai manusia yang ingin hidup bahagia, bukan manusia yang terkungkung oleh tradisi.

Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu lalu mendekat menuju arah Delina. 

"Maafkan Ibu, Delina. Memang adat kita seperti itu, sejak ratusan tahun yang lalu, adat itu sudah lahir dari desa ini, telah melekat erat dari kepercayaan para leluhur kita. Ibu sebenarnya juga sangat sedih atas hal ini, tetapi Ibu tidak punya kekuatan untuk mencegah takdir yang akan terjadi. Kamu boleh membenci Ibu, membenci Bapakmu, atau kamu boleh membenci adat, tetapi kamu jangan membenci leluhurmu. Kamu akan bahagia bersama roh-roh suci di tempat sana," ucap ibunya..

"Justru yang kubenci adalah para leluhur kita yang menciptakaan adat yang tak punya perikemanusiaan. Adat kita begitu kejam, lebih kejam dari neraka yang diciptakan Hitler!" jerit Delina memecah keheningan malam.

"Jangan berbicara asal seperti itu, Delina. Ibu takut jika roh-roh suci itu marah dan berakibat fatal terhadap kita," sambung ibunya.


***
TERAKHIR kali sebelum ritual berlangsung, aku dan Delina bertemu di pada ilalang luas, hanya untuk memandang bianglala yang melingkar di cakrawala sore hari. Tidak. Tidak sesederhana itu, karena aku rindu dengannya, aku cinta padanya, aku tak mau kehilangan dia.

Kami duduk di tebing yang tak begitu curam. Dan pandangan kami terperangkap padang-padang rumput hijau di depan kami, menikmati semilir angin yang membuat rambut Delina tergerai bergelombang. Begitu segar udara pada sore itu.

"Lihat pelangi itu, indah bukan? Aku rasa, keindahan macam itu tak sebanding dengan kecantikanmu. Kecantikanmu jauh lebih indah," ujarku.

Pipi Delina mulai memerah. Ia hanya masam, sesekali memperlihat lesung pipinya. Sungguh alami kecantikan Delina gumamku. Aku segera sadar dari pengaruh sihirnya.

"Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua. Aku harus bersenggama denganmu. Kita harus lakukan itu supaya keperawananmu hilang, tentunya kau tak mau kan, menjadi persembahan itu kan?" tuturku.

Aku dekap tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku," sergahnya. "Alasanmu bisa aku terima tetapi aku tahu wanita yang baik itu bisa menjaga kehormatannya, memperjuangkan harkat martabatnya sebagai wanita. Apa bedanya kita dengan kambing kalau kita melakukan perbuatan laknat macam itu. Aku benci padamu!" teriak Delina.

Aku hanya menyesali perbuatanku yang serentak karena didasari nafsu terkutuk. Delina pergi meninggalkan aku. Melihat ia meninggalkan aku dengan air matanya yang terjatuh. Ia berlari kecil, sesekali menengok ke belakang ke arahku yang berdiri mematung yang menyesali perbuatanku. Tetapi yang barusan aku lakukan semata-mata karena aku tak mau kehilangan dia, atau mungkin hanya sekadar nafsu belaka. Memang antara cinta dan nafsu sulit dibedakan, bertujuan sama: ingin saling memiliki.


***
AKU menyaksikan kehidupan ini begitu kejam. Apa ini adat yang telah turun-temurun, aku percaya selama ini? Aku baru tersadar dari kebodohanku. Sejak itulah, aku mulai murtad dengan kepercayaan yang ada di desaku. Aku sering menentang acara-acara adat di desaku, termasuk ritual persembahan seorang gadiis yang masih perawan yang akan dipersembahkan kepada roh-roh suci di desaku.

Aku sering bertengkar dengan ayah, sering berdebat tentang adat-istiadat yang menurutku tak masuk akal. Aku berusaha menyadarkan warga tetapi tak ada tanggapan yang baik, semua telah menjadi kepala batu. Seringkali aku mendapat cemoohan. Warga menganggapku sebagai anak muda yang tak tahu diri, tak tahu sopan santun. Teriakan-teriakan kecaman sering terdengar di kupingku.

Sebulan berlalu. Malam purnama, suasana menjadi sakral dan berbagai ritus-ritus dan mantra didengungkan. Menciptakan bayang-bayang kematian, yang mengerikan. Aku teringat peristiwaa 12 tahun silam, ketika orang-orang berkumpul merapalkan mantra-mantra kematian. Dan pada akhirnya aku menyerah dengan keadaan. Ritual berdarah itu tetap berlangsung. 

Aku lihat Delina dituntun kepala ada menaiki panggung pemujaan. Wajahnya pasrah dan pucat, memakai pakaian serba putih. Aku tak tega melihatnya. Segumpal kenangan masa lalu membungkah benakku yang terjadi 12 tahun lalu. Kalau dulu aku didekap ibu dan mataku ditutup, tetapi berbeda malam ini.

Bayangan masa lalu sekilas berlalu setelah beberapa kali kepala ada membaca mantra cukup lantang. Aku semakin tak tega, meski cintaku setinggi langit, sedalam lautan tetap aku tak bisa berupaya apa pun. Delina tampak sudah berbaring untuk dibelah dadanya kemudian diambil hatinya dan darahnya disiramkan ke patung pemujaan. Para algojo sudah bersiap menghunus pedangnya. Aku selalu berharap jika ini bukan nyata tetapi hanya mimpi buruk belaka. Tiba-tiba rintik hujan datang, tajam meruncing menghunjam wajhku, disusul dengan kabut hitam pekat. Sesosok cahaya dari langit menyambar tubuh Delina, membawanya melayang ke angkasa menuju bulan.

Sejak itulah, aku selalu gemar menatap bulan, seakan Delina menyapaku di setiap malam. Menyunggingkan senyuman terbaik untukku. Jika di bulan tampak ada seorang wanita yang sedang duduk, mungkin itulah Delina yang hidup bahagia di bulan.


***
"BANGUN, Nak. Sarapannya sudah Ibu siapkan di meja belakang." Samar-saar terdengar suara ibu membangunkan aku.

Aku membuka mata. Dan, aku menjadi lega, ternyata semua itu hanya mimpi. Aku membuka notifikasi HP, ada banyak pesan WhatsApp dan BBM yang mengabarkan bahwa Delina telah tiada akibat kecelakaan tadi malam.  - (o)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anas S Malo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 16 April 2017

0 Response to "Ritual Merah dan Mimpi Buruk "