Sang Maut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sang Maut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:30 Rating: 4,5

Sang Maut

KARIM sedang mengajar di depan kelas ketika tiba-tiba handphone bututnya berdering. Istrinya menelpon. Dari seberang sana, dengan suara terputus-putus, istrinya terisak dan bilang bahwa anaknya yang terserang demam sejak tiga hari lalu barusan muntah-muntah darah. Karim yang tengah menjelaskan definisi kalimat utama pada murid-muridnya memilih untuk diam sejenak, seperti patung di muka kelas. 

Selanjutnya, dengan gegas ia meninggalkan tugas pada murid-muridnya: untuk mengarang pendek sepanjang satu paragraf dan memilah kata utamanya. Satu menit kemudian, Karim telah melesat ke jalanan dengan motor bebeknya. 

Di sepanjang jalan menuju rumah, tubuh Karim terasa sangat dingin. Kuduknya bagai meremang. Ia membayangkan bocah ciliknya tengah terkulai di atas dipan, dengan mata memejam, dengan tarikan napas berat. Seperti hari-hari sebelumnya. Bocah empat tahun itu mengalami demam tinggi sejak tiga hari lalu, dan Karim maupun istrinya belum sempat membawanya ke dokter. Istri Karim tengah hamil tua, tak mungkin memboyong bocah itu seorang diri ke dokter. 

Di balik helm dengan kacanya yang sudah buram, air mata Karim mulai menggenang. Semua itu pasti salahnya. Ia lebih mementingkan murid-muridnya. Ia lebih khawatir kalau murid-muridnya ketinggalan pelajaran daripada anaknya sendiri yang tak doyan makan. Kini, semuanya sudah terlambat. Istrinya bilang bocah itu muntah darah. Pasti ada yang tidak beres. Sesampainya di rumah, Karim berjanji akan langsung pergi ke rumah Pak Haji untuk meminjam kol. Ia akan minta tolong pada Nurman, tetangganya, untuk menyopiri kol tersebut sampai ke rumah sakit di kota kabupaten. Mereka pasti bersedia, mereka adalah para tetangga yang baik dan peduli. 

Karim terus melaju, dan langit mendadak kelabu oleh mendung. Sekelabu nuansa hatinya. Mohon jangan hujan dulu, pinta Karim dalam hati. Namun langit tak mendengar. Gerimis perlahan turun, gemertap menimpa kaca helm yang dipakai Karim, hingga membuat kaca buram itu semakin buram. Pakaian dan tubuh Karim mulai kuyup. Ia lupa membawa jas hujan. Kemarin lepas ia pakai, jas hujan itu ia jemur dan ia lipat, tapi lupa dibawa. Kini, hawa dingin itu semakin menyusup ke kuduk Karim. Ia benar-benar ingin mengumpat. Namun, mengumpat hujan rasanya seperti mengumpat Tuhan. Dan tentu ia akan merasa berdosa bila harus mengumpat Tuhan gegara hal sepele macam hujan. 

Apapun yang akan turun dari langit detik itu, Karim tak akan peduli, ia akan terus melajukan motor bututnya, menembus apa saja, demi sampai ke rumah. Ke muka anaknya yang tengah berjuang melawan sakit. Bahkan seandainya dari langit akan turun hujan batu, Karim akan tetap melaju, tak peduli batu-batu itu meremukkan tubuhnya. Selama ia masih bernapas, ia akan berusaha untuk sampai ke muka anaknya. 

Hujan batu tidak turun, hanya angin dan luapan air yang semakin menjadi-jadi. Bagai sebuah muslihat. Karim melajukan motornya lebih kencang lagi. Tak peduli pada jalanan yang licin. Tak peduli pada deru angin yang seakan menumbangkan tubuh ringkihnya sekaligus motor bututnya. Tak peduli pada lalu-lalang kendaraan lain yang berkali-kali hendak menyambar motornya yang kuyu itu. Tak peduli pada apapun, selain anaknya. 

Hingga di jalanan menurun itu, segala diri Karim telah dikuasai emosi. Ia lupa bahwa ia juga harus menjaga dirinya tetap utuh sebelum sampai rumah. Di jalanan menurun itu, sebuah truk pengangkut batubata berhenti mendadak di hadapannya. Hingga motornya yang melaju kencang itu menubruknya tanpa ampun. Sebuah benturan yang kelewat keras. Motor butut itu terperosok nyaris masuk ke kolong truk, tubuh Karim terpelanting. Benturan itu seakan redam oleh deru angin dan hujan. Para pengendara berhenti untuk menolong Karim atau sekadar menengok keadaannya. Di bawah guyuran hujan, Karim merasakan nyeri yang begitu hebat di kepalanya. Darah encer itu terbilas guyuran hujan sampai ke muka. Ada rasa asin di mulut. Ada air mata yang samar bercampur air hujan dan asin darah. 

Karim bangkit, tak memedulikan kerumunan orang yang menatap cemas kepadanya. Tak memedulikan pakaiannya yang amis terendam cairan merah. Karim menoleh kesana-kemari, mencari-cari motor bututnya. Beberapa meter di hadapannya, motor itu tergeletak dengan setang remuk dan pelek roda depan melengkung bagai diremas oleh tangan raksasa. 

“Tolong! Tolong antar saya pulang! Saya harus segera pulang! Anak saya sakit! Barusan istri saya menelpon, dan anak saya muntah-muntah darah!” ujarnya terbata, mengiba-iba. Seorang lelaki yang mengenakan jas hujan warna putih meraih tangannya dan memapahnya pelan-pelan. 

“Saya akan antarkan bapak sampai ke rumah,” seru lelaki berjas hujan putih dengan wajah samar tertutup kerudung yang juga berwarna putih. 

“Bapak tak apa-apa, kan?” Tanya yang lain. 

“Hati-hati, pelan-pelan saja,” ujar yang lain pula. 

“Saya titip motor saya,” bisik Karim entah pada siapa, “Tolong bawa ke bengkel. Di atas jalan tanjakan itu, di kanan jalan ada bengkel.” 

“Iya, Pak, beres,” jawab entah siapa. Dua orang yang juga mengenakan jas hujan, melangkah ke arah motor remuk itu. Sementara lelaki dengan jas hujan putih itu membantu Karim naik ke motor, sebelum akhirnya melesat menembus hujan yang tak juga reda. Dalam sisa perjalanan pulang itu, Karim bagai mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya ke punggung lelaki berjas hujan putih yang melaju dengan tenang di bawah hujan. Tak ada katakata sepatahpun muncul antara keduanya. Perjalanan itu terasa begitu lama. Begitu jauh. Dan hujan seperti turun untuk selamanya. Seperti orang mengigau, Karim membisikkan arah jalan ke rumahnya di setiap belokan dan perempatan. Lelaki yang memboncengnya itu hanya mengangguk. Hingga sampailah motor itu di muka rumahnya yang becek dan telah dijejali orang. 

Lelaki berjas hujan putih itu melaju pergi, bahkan sebelum Karim mengucapkan kalimat terima kasih. Melihat para tetangga telah berjubal di rumahnya, rasa cemas itu memaharaja. Karim tahu, pasti sudah terjadi apa-apa dengan anaknya. Sambil menyeru nama anaknya, Karim menghambur tanpa kata permisi, melewati orang-orang yang bercakap pelan di teras rumahnya. Di ambang pintu, di muka ruang tamu, tubuh Karim gemetar, hampir melorot. Beberapa orang tengah duduk bersila mengitari jenazah yang telah ditutupi kain batik, membacakan doa dan ayat-ayat suci. Tak butuh waktu lama bagi Karim untuk menyadari keberadaan istrinya yang hamil tua tengah duduk memangku anaknya dengan mata sembab di muka jenazah. Bocah itu baik-baik saja. Lantas, yang tertutup kain itu jenazah siapa? 

Bagi Karim, pertanyaan itu masih belum terjawab dengan gamblang, bahkan meski ia telah melihat seonggok nisan yang tersandar di dinding dan ditulisi huruf arab sambung: kaf fathah, ra kasrah, ya sukun, dan mim. Di bawah tulisan arab itu, terleter pula tanggal, bulan, dan tahun kelahiran yang sama persis dengan kelahirannya. Juga tanggal kematian. 

Karim menyapa orang-orang, bertanya-tanya, siapa yang mati di rumahnya? Dan... sekarang pukul berapa? Tak seorangpun menghiraukannya. Lantunan doa dan ayat suci terus mengguyur sederas hujan di luar sana.*** 


Malang, 2016 


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Kini bermukim di Malang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 9 April 2017



0 Response to "Sang Maut"