Sumur Gumuling | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sumur Gumuling Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:43 Rating: 4,5

Sumur Gumuling

Di Sumur Gumiling itu, jarum arloji tak lagi menyimpan kecemasan didera waktu. Di sini, waktu telah istirah, rebah dalam pelukan sunyi yang perkasa.

NAMUN, gemuruh perasaan tetap saja memenuhi rongga dada laki-laki itu. Perasaan gamang yang menerbitkan rasa bimbang mengiringinya memasuki lapisan-lapisan labirin hingga ia sampai di Sumur Gumuling. Penampang sumur yang menyerupai lubang kue donat itu menyergapnya. Juga retak-retak bangunan tembok yang mengabarkan bangunan itu telah berusia ratusan tahun. 

Mata laki-laki itu menyapu ruang sekitar. Bulu kuduknya kontan meremang tapi dia tetap bertahan. "Di Sumur Gumuling, kamu bisa bertemu dengan Pangeran Junggring. Bertanyalah soal nasibmu dan keselamatanmu." Begitu guru spiritual laki-laki itu berpesan.

Meskipun disebut Sumur Gumuling, situs ini sangat jauh dari bayangan orang tentang sumur pada umumnya. Tak ada air di sana. Apalagi kerek dan tali timba serta ember. Yang bisa ditemui hanyalah lubang dengan ukuran sekitar 10 meter, dengan kedalaman sekitar 50 meter. Di sekitarnya terdapat lima tangga terbuat dari susunan batu bata. Tangga itu menyatu dengan tembok tinggi yang mengepung. Tak ada atap. Orang pun bisa menatap bulan dan bintang-bintang, saat langit terang. Banyak orang percaya, dulu di Sumur Gumuling raja-raja Mataram sering semedi untuk mendapatkan pencerahan berupa wisik, bisikan gaib atau ilham. 

Malam telah matang ketika laki-laki itu telah sampai di dasar Sumur Gumuling. Dia pun termangu. Beberapa kali dia menghela napas agar jantungnya kembali normal berdegup. Sekaligus juga untuk mempompa nyalinya. Lama dia menunggu munculnya Pangeran Jonggring. Dia telah menyiapkan segepok pertanyaan. Namun, yang ditemui hanyalah kesunyian. Gelisah pun mulai berkecambah. Pulang adalah pilihan terbaik, begitu dia membatin.

Ketika dia hendak balik arah, mendadak muncul seorang berwajah dan berpostur tubuh sama persis dengan dirinya. Laki-laki itu terpana mengamati sosok laki-laki asing yang kini berdiri hanya berjarak satu meter dari dirinya. Rambutnya ikal, persis dengan rambutnya. Wajahnya oval, sama dengan wajahnya. Tubuh dan gerakannya pun tak bisa dibedakan dengan dirinya. Bedanya, laki-laki yang dijumpainya itu mengenakan baju dan sarung serba putih, sedangkan ia mengenakan baju coklat muda dan celana hitam.

"Maaf, apakah kisanak ini Pangeran Jonggring?" Laki-laki itu masih bisa menangkap wajah orang-orang dalam temaram sinar lampu minyak yang menempel di dinding. Abdi dalem keraton selalu menyalakan lampu itu, setiap hari.

"Bukan. Aku adalah dirimu. Namaku Abinaya." Sosok asing itu mengulurkan tangannya, menjabat tangan laki-laki itu.

Kontan laki-laki itu kaget. Nama itu sama dengan nama dirinya.

"Namamu juga Abinaya? Benar, nama kita memang sama." Sosok misterius itu seperti bisa membaca pikiran dan perasaan laki-laki itu.

Laki-laki itu disergap rasa heran tapi juga kagum. "Tapi namaku Abinaya Agrapana..." Laki-laki itu mencoba mengelak.

"Sama. Namaku juga Abinaya," ujar sosok asing itu.

"Bagaimana mungkin bisa sama?"

"Segala kemungkinan bisa saja terjadi."

"Tapi kenapa wajahmu tampak sedikit lebih tua dariku?"

"Akulah masa depanmu." Sosok asing itu tersenyum.

Laki-laki itu terdiam. Tampak berpikir. Rasa heran semakin berkecambah di benaknya. Masa depan?

"Benar. Akulah dirimu saat kamu nanti berusia 75 tahun. Tentu, jika kamu masih diberi hidup."

Laki-laki itu kembali terdiam. Pikirannya sibuk menghitung usianya sekarang, yang menginjak 51 tahun. Kembali ditatapnya sosok asing itu. ternyata aku tidak tampak renta dalam usia 75 tahun nanti," dia membatin.

Kebahagiaannya pun berbuncah saat mengetahui bahwa pada pada usia 75 tahun nanti dirinya masih tampak gagah, dengan aura wajah yang bercahaya, tidak seperti kondisinya sekarang yang keruh dan gelap. Gumpalan perasaan yang semula menekan rongga dadanya pun mencair.

"Kenapa kisanak menjumpaiku? Apakah kisanak ini utusan Pangeran Jonggring? Jika benar, bolehkah aku menyampaikan beberapa pertanyaan?"

Sosok lelaki itu tersenyum. "Siapa Pangeran Jonggring? Di sini tak ada siapa-siapa, kecuali kesunyian. Dan kenapa kamu heran dengan pertemuan kita? Sejak ada dalam kandungan ibu kita, aku sudah hidup dalam darahmu, dalam detak jantungmu...."

"Kenapa selama ini kita tidak saling mengenal?"

"Karena kamu telah jadi orang asing bagi dirimu sendiri. Bahkan, kamu tak pernah mendengar semua ucapanku yang kukirim melalui gelembung-gelembung darahmu. Juga saat kamu terkerat perkara gawat ini."

Laki-laki itu tersengat. Darahnya berdesir. Wajahnya tampak tegang. "Kisanak tahu perkaraku?"

"Aku tahu sejak pikiranmu bekerja, menyusun taktik untuk mengambil uang proyek bantuan pendidikan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dari kas negara...."

Laki-laki itu kembali tersengat. Jantungnya berdetak keras. Dadanya terasa sesak.

"Waktu itu, aku sudah bilang, jangan ambil hak orang lain. Apalagi hak anak yatim dan orang miskin. Tuhan pasti marah."

Dada laki-laki bertambah sesak. Keringat dingin mengalir deras dari jutaan pori-porinya.

"Tapi kamu nekat. Kamu bersengkongkol dengan wadya balamu di departemenmu dan orang-orang parlemen. Kalian ramai-ramai mengarang proyek. Menyutradarai banyak orang untuk meyakinkan bahwa proyek itu nyata. Dana pun mengucur yang kalian tampung dalam baskom kerakusan. Kalian minum darah anak-anak yatim dan orang miskin. Tanpa malu...."

"Maaf, saat itu aku khilaf."

"Khilaf kok rutin!"

"Maaf, waktu itu ada setan lewat, masuk dalam otakku...."

"He. Jangan mencatut nama setan! Bisa marah dia. Setan itu sama sekali tidak terlibat dalam perkara ini."

"Maksudku bukan setan, tapi iblis...."

"Iblis apalagi. Dia sudah lama pensiun. Dia sudah putus asa jadi penggoda manusia, karena ternyata manusia jauh lebih cerdik, culas, licik daripada iblis. Cepat minta maaflah pada iblis, sebelum dia meremas jantungmu."

Kepala laki-laki itu merasa dihantam palu besar. Pusing yang membadai membuat ia hampir jatuh. Beruntung, tangannya bisa meraih tembok.

"Berapa triliun uang yang telah kamu curi?"

"Saya tidak sempat menghitung...."

"Kenapa kamu datang ke Sumur Gumuling? Mau tobat? Minta ampun pada Tuhan?"

Laki-laki itu terdiam. Sunyi menguasai ruang. Hawa mendadak berubah sangat dingin. Mendadak terdengar suara gemuruh, seperti tembok runtuh. Laki-laki itu pontang-panting menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian suara gemuruh berubah auman suara binatang.

Dari balik kegelapan, muncul binatang menyerupai macan. Hitam. Matanya bercahaya. Binatang itu menerjang laki-laki itu hingga terjerembab di lantai. Kuku-kukunya yang tajam mencakar-cakar hingga tubuh laki-laki itu bermandi darah. Binatang itu hendak merobek leher laki-laki itu, tapi dicegah sosok asing. Binatang itu pun menyelinap dalam gelap.

"Kenapa takut? Binatang itu tadi adalah dirimu sendiri!"

"Kenapa dia malah menyerangku?"

"Binatang itu adalah kerakusanmu. Dia kelaparan. Dia ingin memakan tubuhmu. Jiwamu...."

Jiwa laki-laki itu tergedor. Menggigil.

"Apakah semua ini pengadilan bagiku?"

"Ooo ini baru sebagian. Bahkan sebagian sangat keciiil."

Laki-laki itu gemetar.

"Kenapa kamu lari dari pengadilan? Berapa duit yang kamu berikan kepada mereka yang memasukkan perkaramu ke dalam peti es? Berapa?" Mata sosok asing itu menyala, "Perkaramu tidak bisa dibekukan karena di dalamnya ada api kemarahan anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Api itu berkobar. Membakar hingga melelehkan peti es perkara yang kalian sangka kuat."

Laki-laki itu menunduk. Jiwanya terasa pedih disayat-sayat kalimat sosok asing itu. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Terasa sangat ngilu. Perih. Panas. Dirasakan ada ribuan kalajengking yang merayap dalam tubuhnya. Mereka berdesak-desakan, saling menindih bagai cendol. Kalajengking-kalajengking terus bergerak. menyebar. Menyengat dan menebarkan bisa. Racun itu diserap darah, menyebar ke seluruh tubuh. Tubuh laki-laki itu membengkak. Melepuh. Menggelembung, seperti balon raksasa.

Tiba-tiba tubuh laki-laki itu meledak, tanpa suara. Serpihan-serpihan tubuh terserak di lantai. Lalu terurai, menjadi kristal-kristal yang lenyap dalam udara.

***
Laki-laki itu membuka mata. Selang infus menancap di nadi tangannya. Beberapa wajah yang semula tampak kabur, kini semakin jelas. Ada wajah hakim, jaksa, polisi, kepala departemen, pengusaha, orang-orang parlemen dan orang-orang politik. Laki-laki itu berusaha keras mengingat, siapa saja yang kini membesuknya. Beberapa nama dia ingat. Beberapa nama dia lupa.

"Kami bersyukur, bapak Binaya Agrapana tetap selamat. Tim SAR menemukan bapak dalam keadaan pingsan di Sumur Gumuling. Tempat itu memang terkenal gawat...." Salah seorang pembesuk menunjukkan selembar surat berisi pemberhentian penyidikan perkara. "Tapi sekarang Bapak bisa tenang. Karena ada surat ini. Silakan baca, pak...."

Laki-laki itu hanya bisa huruf-huruf yang tampak berjatuhan dan kabur. Seorang koleganya mencoba membacakan surat itu, lirih, tepat di telinga laki-laki itu. Namun, yang dia dengar adalah raungan binatang hitam lalu disusul jeritan anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Laki-laki itu meronta, menutupkan selimut di wajahnya. Dia terus meronta. Mencoba berlindung di balik selimut yang membungkus seluruh tubuhnya.

Orang-orang panik. Seorang dokter langsung datang. Memberikan pertolongan. Siap dengan suntikan penenang, dokter itu membuka selimut yang membungkus laki-laki itu. Namun, yang mereka lihat bukan pasien bernama Abinaya Agrapana, tapi belatung raksasa. Beberapa kejap kemudian, belatung itu tiba-tiba meledak. Mencipratkan cairan bau anyir. Tubuh dokter dan para pembesuk basah kuyup. Seluruh ruangan pun tergenang cairan busuk.


Indra Tranggono, penulis cerpen dan esis untuk soal-soal kebudayaan dan sosial, tinggal di Yogyakarta. Dua buku cerpennya yang sudah terbit: Iblis Ngabek dan Sang Terdakwa serta disusul Menebang Pohon Silsilah. Cerpennya telah masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas sebanyak 11 kali. Pada tahun 2015, ia menerima penghargaan Kesetiaan berkarya dari Harian Kompas.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indra Tranggono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 16 April 2017

0 Response to "Sumur Gumuling"