Tanda Tanya dari Pelosok Desa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tanda Tanya dari Pelosok Desa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:10 Rating: 4,5

Tanda Tanya dari Pelosok Desa

"KAKAK, kapankah dunia mengabari kita?"
Adik yang malang. Hampir sepuluh tahun menanyakan itu kepada kakak yang  tidak tahu pada dunia yang bungkam sampai sekarang. Pertanyaannya diulang-ulang seolah adiknya tidak bisa berkata lagi selain pertanyaannya itu.

REKI, sang kakak, yang tidak pernah sekolah, hanya tahu makan dan minum di gubuk tua milik orang tuanya dulu. Tidak tahu apakah peristiwa penting dalam hidupnya itu. Tidak tahu orang yang mengizinkan orangtuanya dulu mendirikan gubuk yang dikelilingi semak belukar. Tidak tahu jati dirinya, dan mungkin juga tidak mengenal apa itu jati diri. Sesuatu yang dikenalnya hanyalah berrani dan beternak. Menanam, dan mengangon. Mendapatkannya dan dimasak, lalu dimakan selagi hangat. Lelaki kurus itu memang mengetahui manusia bisa terbang, mengenal manusia ada yang tampan rupawan, menjadi putih, dan makan tanpa tangan, hanya ketika dia bermimpi di bawah malam. Nyatanya, tidak ditemui juga orang-orang yang seperti itu. Bahkan saat dirinya rela mati untuk mengembara keluar dari kampung halamannya, hal itu tidka ditemukannya juga. Jarak yang ia tempuh sudah lumayan jauh untuk menemukan manusia seperti dalam mimpinya, tapi mimpinya kandas saat rombongan warga mencegatnya dari segala arah. Akhirnya, dia pun tidak bercita-cita lagi untuk keluar dari desa menemukan manusia seperti dalam mimpinya.

Matahari mulai berada di puncaknya. Sebagainwarga desa menggunakannya untuk emnjemur asinan ikan laut yang sudah ditangkap pada nelayan. Asinan itu dijual dengan cara ditukar dengan barang yang diinginkannya. Tidak peduli besar atau kecil, banyak atau sedikit, banyak vitamin atau sedikit vitamin dari jualannya, jika mereka setuju dengan barang yang diberi oleh pembeli maka mereka akan suka menjual dua kilo ikan asin itu walau dengan satu ikan mas saja. Begitulah rakyat yang sederhana ini. Begitu penuh suka rela dan suka cita. Penuh dengan senyuman tanpa keraguan. Meski nyatanya mereka tidak tahu kalau mereka tidak pernah ada dalam hidupnya para petinggi itu. Bahkan saat terbesit dari pikiran petinggi-petinggi di negeri inii, tmpaknya lenyap begitu saja oleh sebatang rokok dan secangkir kopi di pagi hari. Di siang hari, mereka terlupakan oleh para petinggi negeri dengan rapat dan kertas-kertas berserakan di meja. Dan di malam hari mereka terlupakan oleh hiburan kelab malam yang dihiasi oleh wanita penari telanjang dan bartender yang menyiapkan minuman beralkohol juga diiringi oleh musik yang keras sehingga saat orang bicara pun tidka bisa mendengar dengan jelas dan akhirnya pun, diluapkan. 

Semburan angin melaju emlalui lubang kayu jati yang diarahkan kepada api merah yang memanas. Saat apinya sudah emmbara, Reki mengaduk-ngaduk daun singkong yang dimasak di dalam panci. Aromanya hanya sebatas aroma air yang dimasak biasa. Aroma daun singkong tidak terlalu berasa. Juga tidak tercium aroma rempah-rempahan. Hanya sebatas garam yang ditaburi ala kadarnya. Setidaknya, daun singkong inilah yang sering dimasak oleh ibunya dahulu.

Di ruang makan, sudah tersedia nasi dan tiga belut goreng. Juga daun singkong yang masih panas sebagai lalapan. Terlihat sederhana di mata orang mewah. Tapi terlihat mewah di hadapan makhluk sederhana. Mungkin dunia memang sudah terbalik. Atau orang desa sinilah yang justru tertinggal untuk berbalik. Di saat dunia luar sana sudah emncapai Mars untuk ditinggali, mereka baru mengetahui bahwa manusia bisa makan dengan dua batang kayu. Saat orang-orang kota telah berlimpah harta dan mengadu nasib untuk tahta, mereka baru tahu bahwa ada jalan bawah tanah yang berlimpah emas dan tanah.

Kakak dan adik saling menyuapi mulutnya sendiri. Tidak ada keramaian di dalam gubuk yang sebetulnya lebih pantas disebut sebagai kandang hewan itu. Kotor, bocor, bertanah lantainya, dan yang lebih parah memang banyak hewan yang berkeliaran di dalam gubuk itu. Seringkali Reki, atau adiknya itu mengusir hewan-hewan yang tidak ada pemiliknya: ular. Hewan-hewan itulah yang kerap kali mengganggu kesederhanaan di dalam gubuk itu. Terasa sangat sederhana, sehingga terkadang mereka mendapatkan goresan luka dalam batinnya yang terdalam. Tapi, goresan batinnya itu terobati oleh pengakuan dari tetangga-tetangganya yang juga senasib dengan mereka, bahwa pada suatu waktu tetangganya pun pernah dihampiri oleh ular dan digigit di bagian kakinya. Mereka tidak tahu ular itu beracun, sampai akhirnya tahu setelah tetangganya itu mati tidak kurang dari dua jam akibat digigit ular itu. Tidak ada manusia yang menolongnya, tentu saja. Tidak ada mahasiswa lulusan kedokteran di desa ini. Tidak ada ekstrakurikuler PMR di SMP dan SMA di desa ini. Tidaka da. Hanya sekali-kali saja ada orang dermawan yang membuka pos kesehatan untuk beberapa minggu saja. Setelah itu, banyak orang sakit, bahkan tidak sedikit orang yang tidak tertolong.

"Kak. Kapan dunia mengabari kita?"

Perhatian Reki beralih sejenak ke arah adiknya sebelum kembali ke makanan yang di tangannya. Reki menyuap mulutnya lagi.

Kadang, Reki jengkel terhadap adiknya yang selalu bertanya-tanya tentang hal yang sama. Tidak ada pertanyaan yangs ering diungkapkannya lagi, selain pertanyaan yang tak lama didengarnya tadi. Kadang sedikit berbeda, tapi intinya tetap sama. Reki tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaana diknya itu. Bukan tidak menyayanginya, hanya saja, memang tidak ada sedikit petunjuk tentang jawabannya.

Mereka selesai untuk urusan makanan. Dan mereka istirahat sejenak di ruang makan. Reki melihat adiknya penuh dengan lamunan. Memikirkan bagaimana pertanyaannya itu dijawab oleh kakak satu-satunya yang ia miliki. Kapankah dunia mengabari kita? Hanya itulah di dalam otak mungilnya yang belum membesar dan encer seperti otak Einstein. Bergulat pikir sendiri selama sepuluh tahun belum juga bisa mendapatkan jawaban yang tepat. Karena penglihatannya hanya berada pada rumput, semak, tumbuh-tumbuhan, gubuk, orang-orang desa, laut, hewan-hewan, dan pikirnya, tidak ada hal lain yang cukup aneh sebagai petunjuk tentang kapankah dunia mengabari kita? Kapankah?

Sepuluh tahun seharinya sudah membuatnya menjadi gila. Atau mungkin adik Reki satu-satunya itu memang sudah gila karena pertanyaan yang dilontarkannya setiap ada waktu luang bersama kakaknya. Cukup gilakah bagi seseorang untuk bertanya sesuatu yang sangat penting bagi dirinya snediri? Mungkin hal itu lebih bisa disebut sebagai hayalan yang terlalu tinggi untuk digapai dan digenggam. Tapi bukankah seseorang pun bisa berada di puncak karena dalam setiap satu  langkahnya selalu diawali oelh pertanyaan-pertanyaan?

Reki memperhatikan tingkah adiknya itu yang berbaring di samping piring bekas makan tadi. Tatapannya kosong ke arah langit-langit gubuk. Tidak ada cecak dan serangga yang beterbangan di langit-langit. Tapi Reki tahu apa yang ada di mata sang adik itu: mencoba menelusuri petunjuk atas pertanyaannya. Reki mendesah sambil menundukkan kepalanya yang lelah sehabis dibakar matahari dan mencabuti rerumputan. Otot-ototnya pun sedikit lemas. Tanpa diduga, adiknya pun itu terbangun dan berkata, "aku harus pergi."

Kepala Reki terangkat. Menatap kaget ke arah adiknya itu. Pikirnya, apa yang dipikirkan adiknya itu. Tapi pikir adiknya, kakaknya tidak bisa berpikir apa-apa. Inilah jalan terbaik mencari petunjuk untuk jawaban atas pertanyaannya selama sepuluh tahun ini: mencari keluar desa dan membuktikannya.

"Aku akan keluar desa, kakak." Kepalanya mengarah kepada kakaknya yang masih kaget dengan dirinya. Seketika dia berdiri dan memastikan dirinya layak untuk pergi keluar desa sendirian.

"Apa pun yang terjadi, aku akan keluar desa."

"Jangan gegabah!" ucap reki setelah lama bungkam.

"Ini jalan yang tepat, bagaimana aku bisa gegabah?"

"Jangan gegabah kataku!" Reki berdiri menantangi adiknya itu. Kepalanya yang lemas itu sekarang berdiri tegak tanpa lunglai sedikit pun. Otot-otot yang lemas kini mengeras seperti diisi daya kembali.

"Jangan gegabah."

"Jika aku tidak bergerak, sampai kapan pun aku tidak tahu kapan waktunya dunia mengabari kita. Jika aku tidak bergerak, kakak tidak akan membuka mulut."

"Jangan gegabah. Kamu tidak ingat ketika kakak...."

"Ketika kakak ditangkap warga untuk kembali ke desa dan melupakan impian kakak? Bukankah sebenarnya kita mempunyai impian yang sama selama ini? Kita sama-sama ingin berada di luar desa dan mengerahui apa yang terjadi. Jika sudah seperti itu, kita kembali ke desaa dan kitalah sebetulnya yang mengabari desa ini."

Reki masih terpaku di tempatnya. Menyandarkan dirinya ke tembok dan hanya melihat ke arah lantai. Menunduk, seperti ketakutan bahwa dirinya memang salah.

"Kakak tidka akan punya keberanian untuk kedua kalinya. Jadi aku, sebagai adik, mempelajari keberanian kakak yang pertama kali. Dan karena aku tahu kakak tidak punya keberanian yang ekdua kali itu maka aku yang akan menggantikan kakak." Suara begitu tegas dan meyakinkan. Badannya tegap tidak kalah dengan kakaknya. Pandangannya pun menyiratkan bahwa dialah, sang adik, yang akan membawa kabar untuk desa ini. Membawa kabar tentang kehidupan yang belum mereka jama.***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ray Umam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 9 April 2017


0 Response to "Tanda Tanya dari Pelosok Desa"