Tas Papa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Tas Papa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:00 Rating: 4,5

Tas Papa

NIKEN senang membayangkan papa berpenampilan perlente; kemeja dan pantalon licin diseterika dengan warna yang serasi dan menenteng tas kulit mengkilap. Seorang lelaki akan tampak elegan dan berwibawa bila menenteng tas kulit mengkilap, pikir Niken.

Niken sering bermuka masam bila melihat papa berangkat ke kantor menenteng tas kerja yang sudah sangat kuna. Tas kulit berwarna hitam itu sudah mengelupas di beberapa bagian, warnanya pun sudah pudar. Tas itu, sungguh tak pantas ditenteng seorang kepala SMA negeri ternama seperti papa.

"Tas ini masih bisa Papa pakai, mengapa harus Papa ganti?" jawab papa tersenyum.

"Tas itu sudah ketinggalan zaman, Pa. Nggak mode lagi."

"Siapa bilang tidak mode lagi? Kemarin Papa lihat di majalah, ada iklan tas merek terkenal yang modelya mirip dengan tas Papa."

"Kalau begitu beli saja tas seperti di iklan itu, Pa. Pasti keren. Merek terkenal, kan?"

Lagi-lagi papa hanya tersenyum.


***
PAPA belum pulang, karena ada rapat. Rumah sepi. Niken memanfaatkan menggeledah ruang kerja papa. Niken mencari majalah yang dimaksud papa tempo hari. Benar, tas di iklan itu mirip modelnya dengan tas kerja papa. Tetapi tas di iklan itu tampak lebih elegan dan klasik. Mungkin karena masih baru dan merek terkenal.

Niken mengamati tas hitam dalam ilan majalah itu. Membayangkan, seandainya papa menentes tass itu ke kantor, tentu papa akan tampil elegan dan penuh wibawa. Niken yakin tas itu sangat paantas ditenteng kepala sekolah seperti papa.

Terlintas sepotong ide di kepala Niken. Gadis itu bergegas mengambil ponsel, lantas menghubungi nomor teleppon toko yang menjual tas itu, yang tercantum dalam iklan di majalah. Niken mengangguk-angguk mendengar penjelasan pihak toko bahwa, harga tas itu Rp 2 juta.

Terjangkau, pikir Niken. Tabungan Niken Rp 3 juta lebih sedikit. Tak mengapa bila Niken mengambil sebagian untuk membelikan tas baru buat papa.


***
NIKEN gembira karena papa mau memakai tas kerja baru pemberiannya. Tas kerja bergagang, yang ketika ditenteng papa, makin mendongkrak penampilan. Papa tampak elegan dan berwibawa. Sebulan sudah papa berangkat ke kantor menenteng tas baru itu. Tetapi, suatu pagi, Niken melihat papa menenteng tass lamanya yang mengelupas di beberapa bagian. Tas kuna yang dulu sering membuat Niken bermuka masam.

"Mengapa papa menenteng tas norak itu lagi? Mana tas pemberian Niken?" tanya Niken dengan muka masam.

"Hilang. Untunglah tidak banyak arsip di dalamnya. Kemarin, waktu Papa mampir masjid dekat alun-alun untuk salat Asar."

Niken termangu. Tas mahal hilang begitu saja, tetapi papa tampak tenang.


***
MALAM ini Niken menyelesaikan tugas membuat cerpen dari guru bahasa Indonesia. Tetapi ia kehabisaan kertas. Terpaksa Niken harus mintak kertas pada papa. 

"Ambil saja di ruang kerja Papa."

Di ruang kerja papa, Niken mencari-cari kertas. Niken membuka lemari kecil dan ia terhenyak. Dalam lemari kecil itu Niken melihat tas kulit hitam mengkilap teronggok di bawah tumpukan kertas. Tas kulit merek terkenal yang selama ini dikatakan papa telah hilang di masjid.

"Maafkan Papa. Papa sudah berdusta. Tas pemberianmu tidak hilang, tetapi papa simpan," kata papa yang muncul tiba-tiba.

"Mengapa, Papa?" Suara Niken tercekat.

"Tas kerja Papa yang kamu sebut kuna itu sangat berarti bagi Papa. Almarhumah Mama yang membelikan, pada masa awal kami menikah. Dulu, Papa berangkat kerja membawa tas murahan, karena saat itu Papa masih pegawai honorer, belum mampu beli tas yang layak. Mama membelikan tas kulit untuk Papa dari honornya menyanyi keroncong yang Mama kumpulkan sedikit demi sedikit."

Tubuh Niken bergetar mendengar kisah papa.

"Sekarang kamu mengerti mengapa Papa tidak mau mengganti tas kerja Papa kan?"

Niken tak mampu bersuara. Keharuan menyesaki dadaa. Niken menubruk papa dan memeluknya. Satu-satu, air mata Niken menetes, meleleh di pipinya yang putih dan mulus. Di luar rumah, gerimis mulai turun. 


Sulistiyo Suparno
Krangkoan RT 004/RW 002 Ngaliyan  Limpung Batang Jawa Tengah 51271


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulistyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 16 April 2017

0 Response to "Tas Papa"