Tinggal Rembulan Tersisa - Ujung Pulau - Di Balik Kabut - Anak-Anak Menggambar Zaman - Warna Yang Memudar - Kepada Bunga-Bunga Jati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tinggal Rembulan Tersisa - Ujung Pulau - Di Balik Kabut - Anak-Anak Menggambar Zaman - Warna Yang Memudar - Kepada Bunga-Bunga Jati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Tinggal Rembulan Tersisa - Ujung Pulau - Di Balik Kabut - Anak-Anak Menggambar Zaman - Warna Yang Memudar - Kepada Bunga-Bunga Jati

Tinggal Rembulan Tersisa 

yang tertinggal di deretan angka-angka
akan kita mainkan bersama kehendak

menambah atau mengurangi
sebatas nilai-nilai ditampilkan
yang tertinggal di mata

perkalian atau pengurangan
memberi makna setiap batas
gerakan coretan di tangan

rembulan menjaga bumi
menanti letak kejujuran hati

- makasar, 102016


Ujung Pulau 

udara yang begitu luas tak terbatas
menjadi begitu asing meski terbuka tanpa pembatas
tetap hanya memberi arti di mana harus berdiri
untuk menantang jarak tersamar

suara tetap tenggelam dari ombak berdebur
di antara pantai melingkari waktu berjarak
dari tempat berbeda menghitung letak pijakan
sementara matahari tetap tenggelam di belahan barat

mata sebagai saksi di batas cakrawala
teriakan itu hanya membawa angin
terasa sunyi dalam belantara air membiru
dalamnya permainan hari belum selesai

- makasar, 102016


Di Balik Kabut

yang lelah berlari dari keterasingan
mencari embun pagi tetap hanya sebatas tanda
pagi sebagai saksi abadi memberi jalan terbuka
kembali bermain dari hari-hari panjang

nafas terus berburu di kediaman semesta
tetap hanya akan membakar dendam tak pernah usai
dari tempat kabut terhampar menantang
bakal menjaga jarak untuk berdiri di tepian pantai

: langit masih sama, seperti di bumiku

- Teluk palu, 102016


Anak-Anak Menggambar Zaman 

ketika anak-anak menggambar kenyataan di mata
merangkai sebongkah kerinduan masa lalu
agar tetap menemukan mimpinya yang hilang
di bawa angin waktu menjadi cerita biru

warna-warna itu sudah menjadi milik kenangan
hanya sebatas dalam angan bertebaran di angkasa
akan dikumpulkan menjadi satu dalam coretan
tangan-tangan kecil menggambar peradaban

- Festifal Literasi Nasional, Palu, 102016


Warna Yang Memudar 

hari memang telah berganti
matahari pagi membawa tanda
dalam hitungan waktu pada napas memanjang
sampai batas tak pernah selesai-selesai

ujung sepi masih begitu nyata di mata
memberi prasasti dari sudut janji
tetap harus dicari dengan langkah
sampai kapan pelangi tetap menjaga warna

- Padhepokan djagat djawa, magelang 42017


Kepada Bunga-Bunga Jati 

berguguran satu demi satu
untuk mencatat masa yang berlalu
di antara aroma telah meninggalkan jejak
kembali pada tanah yang akan menghitungnya
pada garis telah ditentukan dalam musim
akan terus berulang-ulang
mencatat sejarah

- Blora, 32017


*) Triman Laksana, Pemenang I Nasional, Refleksi Literasi, Festifal Literasi Nasional di Palu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud (2016). Mendapat Penghargaan Sastera Rancange, bidang Sastra Jawa (2015). Novelnya ”Menjaring Mata Angin” (Maharsa, Yogyakarta, 2015), Mengelola Gubug Literasi ”Padhepokan Djagat Djawa”. Tinggal di Soto Citran. Jalan Raya Borobudur Km.1. Citran. Paremono. Mungkid. Magelang 56551.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 16 April 2017

0 Response to "Tinggal Rembulan Tersisa - Ujung Pulau - Di Balik Kabut - Anak-Anak Menggambar Zaman - Warna Yang Memudar - Kepada Bunga-Bunga Jati "