Uban di Kepala Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Uban di Kepala Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:50 Rating: 4,5

Uban di Kepala Ibu

SORE itu saya menyisir rambut ibu, yang selama ini begitu saya kagumi karena tak pernah sekali pun berubah menjadi uban. Berbeda dengan rambut di kepala saya, yang meski baru sepertiga dari usia ibu sudah mulai ditumbuhi rona putih di helaian dalam rambut. 

”Ibu, rambut ibu benar-benar kuat,” kata saya. 

”Rambut itu simbol kekuatan perempuan. Ibu juga tak pernah sekali pun mengumbah rambut dengan shampo-shampo sepertimu,” jawab itu. 

”Tapi rambut ibu begitu bersih,” saya kembali memberondong. 

Ibu saya terkekeh. Kemudian meraih sisir yang saya pergunakan untuk meluruskan rambut ibu, dia menggelung rambut. Kemudian berbalik menatap wajah saya. 

”Yang namanya barang-barang pabrikan itu selalu berefek buruk,” setelah menggelung ibu beranjak dari bangku. Semburat senja membuat rambut ibu berkilau. 

Saya akui ibu adalah perempuan kolot yang menolak segala macam kemajuan, kecuali listrik dan televisi yang menayangkan gambar bersuara. Itu pun karena radio sudah tak memberi slot sandiwara. Ibu sejak dahulu hanya membasuh rambutnya dengan tumbukan lidah buaya dan sekam arang. Ibu tak suka segala jenis shampo. 

Terbukti benar, bahwa sampai sekarang rambut ibu kuat tak rontok. Hitam tak beruban. Dan legam sempurna. Saya iri kepada ibu. Tapi untuk memulai laku semacam ibu sudah barang tentu terlambat. 

”Bawa ini,” ibu menyodorkan dua papah lidah buaya. ”Rambutmu sudah kering. Butuh nutrisi dari ini.” 

Dari kunjungan sore itu ke rumah ibu, saya beroleh nutrisi alami yang sekiranya mengembalikan keparipurnaan rambut saya. 


*** 
WAKTU bergulir dan berganti. Yang tidak berubah adalah kebiasaan saya mencuci rambut dengan produk kimiawi. Lidah buaya dari ibu teronggok di pojokan troli kulkas bersama aneka sayuran. Saya sudah tidak punya waktu seperti ibu, yang meremukkan sendiri lidah buaya untuk rambutnya sendiri. Manusia seperti saya mungkin ditakdirkan untuk takluk pada kepraktisan. 

Saya hampir terlupa akan lidah buaya dari ibu, hingga telepon dari ayah yang menjadi pengingat. Ibu sakit. 

Saya gegas ke rumah sakit. Dan di sana saya saksikan ibu terbaring lemah di atas dipan yang serba putih. Kepala ibu dibungkus perban. Ada benjolan besar dalam tengkorak kepala ibu. Mau tidak mau, rambut yang paling dikagumi ibu, terpaksa harus dicukur sebagian. Belum lagi pengaruh obat dosis keras yang juga merontokkan keperkasaan akar rambut ibu. 

”Rambutmu sekarang yang lebih bagus” kata ibu. ”Obat benar-benar merusak rambut ibu. Ibu jadi tak berdaya.” 

Ibu berusaha menawarkan kelakar. Kalimat ibu terdengar seperti sebentuk sayatan yang menggerus hati. Saya tersenyum. Namun air mata tak bisa saya hentikan meluruh di pipi. Ada pilu yang pijarnya melebihi kelam rambut ibu. 

Sebulan penuh ibu terbaring di dipan. Rambutnya tak sekali pun ditampilkan. Saya tak tahu apakah rambut ibu kembali segar seperti semula atau tumbuh uban. Setelah ibu sembuh, semuanya akan terbuka. Setelah perban lepas. 


*** 
”RAMBUT ibu sekarang buruk,” ibu berkaca dan menyaksikan rambutnya kini pendek, kusam, dan mulai memutih. 

”Tidak apa-apa, ibu. Yang penting ibu kembali sehat,” jawab saya. 

Ibu berdeham pelan. Tampak betul kekecewaan di wajah ibu. Meskipun sudah berkali-kali saya ingatkan dan dijawab oleh ibu dengan iya, tapi tak juga kembali semangat ibu yang dahulu. Perkara rambut bagi ibu ternyata lebih penting dari sakit. Sudah saya usulkan untuk menutupi dengan kain agar tak malu, tapi ibu tetap tak mau. 

Ibu tak juga membalik. Tubuhnya tak lagi segesit dahulu. Apa-apa harus dibantu oleh ayah. Entah karena penyakit di kepala ibu yang belum tuntas diangkat atau justru karena pikiran ibu perihal rambutnya yang memperparah. 

Sering kali saya saksikan ibu duduk di tubir ranjang menghadap jendela kamar. Dia memegang sisir dan selingkar cermin rias. Dia melakukan gerakan menyisir-nyisir. Seolah rambutnya yang panjang masih bersarang di kepalanya. Duatiga gerakan menyisir, kemudian ibu tersadar. Rambutnya kini pendek. Dia membanting sisir dan cermin. Kemudian tergugu oleh kesedihan yang menyusup. 

Puncaknya, ibu kembali dilarikan ke rumah sakit untuk kedua kali. Tubuh ibu kejang-kejang dan panas tinggi. Mukanya pucat dan memuntahkan kembali apa-apa yang saya suapkan ke dalam tubuh ibu. 

”Ibu yang kuat ya,” saya membisikkan kalimat di telinga ibu. 

Ibu mengangguk sangat lemas. ”Kamu lihat sendiri bukan. Rambut adalah sumber kekuatan perempuan. Simbol perlawanan. Setelah dia rontok, tubuh ibu pun rontok satu demi satu.” 

Saya menangis sambil memeluk ibu. Beberapa helai rambut ibu yang pendek dan memutih rontok dan jatuh di paha saya. ❑ - g 


*) Teguh Affandi, lahir di Blora 26 Juli 1990. Menulis cerpen, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa. Memperoleh Green Pen Award Perhutani. Peraih Pena Emas dari PPSDMS Nurul Fikri. Sekarang berdomisili di Jakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 23 April 2017


0 Response to "Uban di Kepala Ibu"