Utang yang Tak Terbayar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Utang yang Tak Terbayar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:05 Rating: 4,5

Utang yang Tak Terbayar

MARJO tak tahu harus berbuat apa. Upah sebagai buruh mencangkul tak mencukupi kebutuhan. Kini makan, besok tak mesti. 

Di gentong dapur kadang ada beras, kadang tak sebutir pun. Namun pagi itu dia senang. Dia tak nafsu makan! Sungguh, dia senang tak susah-payah menakar, mencuci, dan memasak beras, meski persediaan beras cukup untuk sarapan dan makan siang. 

Dia termenung, menatap asap dari tungku. Di atas tungku ada kuali berisi air. Meski tak makan, dia tetap harus minum bukan?

Marjo bertanya-tanya mengapa tak nafsu makan. Beberapa saat dia tersadar. Semalaman dia memikirkan cara melunasi utang pada Solihin, tetangganya. “Oh, ini ta penyebab aku tak nafsu makan!” batin dia. 

“Kula nuwun.” 

“Mangga, masuk,” jawab Marjo seraya bangkit. Dugaan dia tepat, Solihin datang kembali seperti kemarin. 

“Masak, Lik?” 

“Iya, Pak. Silakan duduk,” Marjo tersenyum malu. 

“Begini, Lik. Maaf pagi-pagi mengganggu. Saya ingin menagih utang. Dua hari lagi saya ke Tanah Suci. Buat sangu, Lik. Meski tak seberapa, cukup buat beli oleh-oleh.” 

Marjo terdiam. Perutnya berbunyi. Dia mengernyitkan dahi, gelisah. Keringat dingin tiba-tiba membasahi tubuh. Solihin mendengar suara dari perut Marjo. Dia diam sejenak, lalu bersendawa. 

“Maaf, Lik Marjo belum sarapan ya?” 

“Sedang menunggu, belum matang,” sahut Marjo sambil menatap kuali yang hitam pekat. 

“Ya sudah, Lik. Saya pulang. Besok bisa lunas ya? Saya tunggu di rumah.” 

Meski berat hati, Marjo mengangguk. Dia mengantar Solihin sampai depan rumah. Setelah Solihin menghilang dari pandangan, dia berbalik. Matanya berkunangkunang, kepalanya pusing. 

Asap dari tungku memenuhi dapur. Marjo duduk, mengambil sebatang kayu membara dari dalam tungku untuk mengecilkan api. Saat itulah kambingnya mengembik. Ah, dia belum mencari rumput pakan kambing. 

Kini, dia makin tak punya nafsu makan. Dia yakin bisa bertahan dua-tiga hari tanpa makan. Kenyang oleh utang! 

Saat pikirannya berkecamuk, kambing kembali mengembik. Kelaparan. “Ia sangat bernafsu makan karena tak mikir utang!” batin Marjo.

Dia berjalan menuju kandang di sebelah dapur. Ketika dia datang, kambingnya mengembik makin keras dan bergerak makin beringas. Menagih rumput. 

Marjo melihat mata kambing itu tajam meminta. Seperti mata Solihin. Marjo mengambil sabit yang terselip di dinding bambu, lalu berjalan ke belakang rumah. Dia sempoyongan, perutnya perih melilit. 'Duh, perut, bersahabatlah. Dengan sepeser uang ini akan kubeli beras. Bukan beli obat untuk mag!' bisik Marjo sambil mengelus-elus perut. 

Dia memandangi singkong yang tumbuh subur. Tak sia-sia dia menanam. Namun sekitar tanaman itu, rumput meliar. “Ah, rumput ini tak cukup untuk pakan kambing,” bisik Marjo sambil membabat rumput. 

Dia berdiri, melihat daun singkong melambai-lambai tertiup angin. Suara embik kambing mengeras terbawa angin. 

”Daun singkong ini bisa jadi tambahan pakan kambing,” gumam dia sambil memetiki daun singkong. Tak sampai habis, agar bisa dia masak jika membutuhkan.

***
SOLIHIN resah. Marjo belum bayar utang. Dia menunggu di teras. Gerimis dan angin bertiup kencang. Tempias air menerpa wajahnya. Dia berdiri, hendak masuk rumah, menghindari air hujan. 

“Jaga kesehatan. Kalau di Tanah Suci sakit, aku tak bisa khidmat berdoa,” batin dia. 

Sebelum masuk rumah, dia melihat lelaki bongkok datang sambil memegangi perut. Dia pun tersenyum. 

“Wah, nggak bawa payung, Lik?” 

“Tak punya, Pak,” jawab Marjo sambil meringis. 

“Ya sudah, silakan masuk.” 

Marjo menggigil kedinginan, duduk di kursi ruang tamu. Tangannya gemetaran. Solihin masuk ke ruang dalam. Marjo memandangi kaligrafi di dinding. Dia mengeja, tetapi tak bisa. 

“Waduh, kok repot.” 

“Sudahlah, silakan minum.” 

Marjo meraba saku celana yang basah. Terdengar suara gemerisik plastik. Tangan yang gemetaran mengambil plastik berisi uang. Jarinya masuk merogoh plastik dan menarik uang keluar. 

“Maaf, Pak, baru separuh,” ujar Marjo tertunduk malu. 

“Iya, Lik, nggak apa-apa.” 

Marjo bernapas lega. Kepala yang semula menunduk perlahan menegak. Dia melihat mata Solihin meneduh. Seperti mata kambingnya saat dia beri rumput. Tangannya yang gemetaran mengambil gelas minuman di meja. 

“Minum, Lik. Biar hangat badanmu. Habis cari rumput ya?” 

“Tak butuh rumput lagi, Pak.” 

“Lo, kenapa?” 

“Kambing itu sudah saya jual.” 

“Oh! Ya sudah, Lik. Saya berangkat besok. Sampean mau titip doa?” 

“Doakan saya cepat mati, Pak.” 

“Lo! Kalau mati, utang sampean bagaimana?” 

Marjo diam. Ia merasa bersalah. Lalu menunduk kembali. Malu. Tangannya meraba saku yang basah. Salah tingkah. 

“Begini, Lik, saya doakan semoga sampean mendapat banyak rezeki.” 

“Amin,” sahut Marjo lirih dan ragu. Ia masih menunduk. 

Saat itu datanglah serombongan orang. Marjo mendongak dan berdiri, ikut menyalami. Mereka segera duduk menghadap Solihin. 

“Pak Solihin, saya titip doa. Ini buat anak saya, biar jadi anak saleh,” ujar wanita setengah tua bersama sang anak yang duduk bersebelahan dengan Marjo. 

Marjo tak mengerti, mengapa Solihin mendadak jadi seperti dukun? Dia muak, lalu beranjak, pamit pulang. 

Hujan mereda. Namun angin masih kencang, menerpa baju basah Marjo. Meski makin menggigil, dia terus melangkah, melewati jalan-jalan berbatu. Melihat jembatan batang pohon kelapa di kejauhan, tiba-tiba perut Marjo kembali melilit perih. 

"Aduh!" pekik Marjo tertahan, teringat sudah dua hari tak minum obat. 

Dia melangkah hati-hati melewati jembatan. Namun perut yang makin melilit membuat langkahnya oleng. Kakinya gemetaran menahan beban tubuh dan kesakitan. Dia sempoyongan. Matanya berkunangkunang. Ia bersikukuh bertahan, tetapi gagal.

***
Keesokan hari, Solihin bersiap berangkat ke Tanah Suci. Banyak warga berdatangan, hendak mengantar ke bandara. Tiba-tiba tersiar kabar mengejutkan. 

Seorang pengembala kerbau melihat mayat mengapung di sungai dekat sawah. 

“Siapa yang hanyut, Kang?” tanya Solihin. 

“Tak tahu, Pak,” jawab seorang lelaki gugup. 

“Oh itu Lik Marjo!” ujar lelaki lain. 

“Mati?” 

“Ya, mati!” 

“Aduh, dia masih punya utang padaku!” sesal Solihin. 

“Sudahlah, Pak, kan mau berangkat ke Tanah Suci. Doakan saya, Pak. Doakan Lik Marjo juga, semoga diterima Tuhan. Biasanya doa haji mabrur diterima, Pak. Itu kata guru ngaji saya dulu.” 

Solihin agak lega mendengar ucapan itu. “Apakah ini tanda hajiku bakal mabrur? Belum berhaji saja, doaku sudah terkabul. Padahal, sudah kutolak titipan doa Lik Marjo agar cepat-cepat mati,” gumam Solihin sambil menggelenggelengkan kepala. Sejenak kemudian dia tersenyum sembari mengelus-elus dada. Bangga. (44)

Semarang, 7 Januari 2016


Danang Cahya Firmansah menulis cerpen berbahasa Indonesia dan Jawa. Kini, dia bergiat di Kelas Membaca Pram.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danang Cahya Firmansah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 2 April 2017

0 Response to "Utang yang Tak Terbayar"