Wasiat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Wasiat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:05 Rating: 4,5

Wasiat

BIBIR ranggas Maryam mengembang. Menyapa kebahagiaan yang terselip di antara lipatan-lipatan baju dan selimut yang akan menjemput buah hati rebah di pangkuan dengan manja dan berucap “Ummi”. Layaknya seorang ibu, tentulah Maryam akan menyambut hangat seraya membelai penuh sayang sambil berucap, “Kau mirip Ummi”.

Lapuk di usia tua tanpa seorang momongan merupakan hidup yang paling sunyi. Menyakitkan. Maryam tak ingin itu terjadi. Seperti hal ibu-ibu yang lain, ia ingin menceritakan kisah hidupnya agar hikmah senantiasa berjalan kepada anak-cucu.

Serpihan bayangan dua belas tahun silam melekat di kamar. Bayangan yang sering menidurkan dalam angan—dan terkadang menderai tangis. Kehilangan merupakan siklus kehidupan. Samsuri, suaminya tak kembali setelah menemukan alamat Tuhan. Dia meninggalkan Maryam dan ketiga anaknya: Lu’a, Fathor, serta Ulfa anak ketiga yang kemudian ditahbiskan sebagai seorang anak yatim. Samsuri meninggalkan Ulfa saat tak tahu apa-apa, kecuali merengek apabila Maryam tidak memasukkan putting susu ke mulutnya.

Tapi, malam itu, peristiwa yang paling mencederai perasaan akan membias cahaya seterang matahari. Sebentar lagi Ulfa akan menjadi pelengkap hidup. Pelengkap keluarga yang tawanya akan pecah bersama kedua kakaknya.

Ibu tetaplah ibu. Meskipun jarak tak bisa lagi diukur atau dihitung, sejauh apa pun, ibu akan selalu ingat akan ceceran darah yang menggumpal dan mengerat menjadi seonggok daging. “Aku ingin pulang, aku sudah tak kuat. Bawalah semua anak kita ke Madura,” wasiat Samsuri, sesaat sebelum berpulang ke rahmatullah.

Samsuri meminta Maryam merapatkan wajah Ulfa. Lelaki itu mengecup kening anaknya yang akan ditahbiskan zaman sebagai seorang anak yatim. Penyakit yang diderita selama tiga bulan terakhir telah mengantar tidur panjang berselimut tiga lapis kain kafan. Ulfa yang masih berusia dua bulan, matanya berkeliaran. Tak tahu arti orang berduyun-duyun berkifayah dengan menenteng kiloan beras.
Tujuh hari berselang sepulang suami, Maryam berkemas hendak pulang ke tempat asal, Madura. Sebagaimana wasiat Samsuri, ia akan membawa ketiga anaknya. Bukan berarti Maryam tak sayang pada keluarga Samsuri. Ia hanya mencoba untuk tidak melanggar pantangan seorang istri yang selalu patuh pada suami. Maryam tak akan membawa apa pun kecuali pakaian dan kenangan sangat berharga dengan dan dari suaminya.

“Kami tak keberatan kau membawa semua anakmu. Tapi, tak baik kau membawa Ulfa. Anak itu masih terlalu kecil. Perjalanan Jember-Sumenep terlalu melelahkan. Izinkanlah barang sejenak kami mengasuh,” mohon Habiya, adik kandung Samsuri. Seperti air yang mengalir, permintaan itu semakin dikokohkan oleh mertua perempuan, bibi, nenek, dan tetangga dekat.

“Ya, nak! Siapa lagi daging Samsuri yang tersisa bila kau membawa anak-anakmu,” timpal ibu mertua.

“Ini wasiat Abi, aku harus melakukannya, Mi,” kata Maryam kukuh.

“Maryam! Kau tahu sendiri, abimu—bapak mertua—meninggal jauh sebelum Samsuri pergi. Aku hidup sendiri. Izinkan tawa cucuku menghilangkan bayangan anakku,” bibir janda tua itu semakin mengerut.

Sadarlah Maryam bahwa kehidupannya bukan hanya di Madura. Madura hanyalah tempat dilahirkan, merangkak, dan bermain. Sementara Jember adalah tempat memaknai kehidupan, kemandirian, dan bermasyarakat. Tak bisa dinafikan anak-anaknya juga darah ibu mertua yang telah melahirkan Samsuri. 

Ibu mertua hendak bersujud mencium kakinya. Oh, tidak! Betapa berdosa bila sampai terjadi. Maryam kalah dalam persidangan sore itu. Ia tidak mau berdiri di atas keegoisan. Perempuan tua di depannya juga ibunya, yang secara resmi dibaiat saat persaksian ijab-qabul. 

“Setamat SD, ibu akan mengembalikan padamu,” janjinya.

Mendung berselimut. Gerimis hampir tumpah. Setidaknya ucapan itu membuat Maryam pergi dengan kepala tegak, sebagai titik simpul bahwa Ulfa akan kembali, berkumpul dengan Fathor dan Lu’a.

***
WAKTU merangkak pelan. Menunggu Ulfa tak ubah menunggu kedatangan seekor kura-kura yang masih sedang menunggu seekor siput.

Sunyi berdendang. Angin meliukkan dhemar kambheng yang dikelilingi bubur tujuh warna di atas baki. Pendar mata Maryam lebih redup dari bias itu. Membayangkan kerinduan yang amat beku dan membatu. Di sisi atas cahaya itu, sepasang mata tak pernah lelah menatap. Sorot mata dari sebingkai foto usang.

***
UDARA pagi menyisir tubuh yang mulai tak terbiasa dengan udara dingin. Maryam merasakan hal yang sama pertama kali dalam rentang kepergiannya berpijak di rumah lama itu. Rumah yang telah melahirkan dan membesarkan ketiga anaknya, sampai si suami menutup usia.
Maryam menarik senyum, meski hati berkata lain karena—tidak tahu persis wajah anak yang pada waktu kecil ditafsirkan mirip ummi—merasa Ulfa tidak turut serta bersama sanak saudara yang tengah menyambut.

Pintu bermotif bunga matahari membukakan kembali lembaran hidupnya. Mendadak Samsuri keluar menyambut hangat. Wajahnya semringah. Ia mendekat. Semakin dekat. Sebagai seorang istri, Maryam ingin mencium tangannya dan—kalau perlu—membuatkan secangkir kopi hangat. Lalu, sadarlah kalau angan sedang mempermainkannya.

Di atas televisi hitam-putih, berdiri sebuah pigura kecil berukir kayu, bertulis ‘Selamat Menempuh Hidup Baru’. Di samping tulisan, tetap dalam pigura, foto sepasang kekasih berkalung kembang melati. Maryam menunduk. Beberapa titik air berpendar di lekuk matanya. Gagal memulangkan air mata. 

Bukankah kedatangannya untuk menjemput Ulfa? Anak yang selalu dijanji-janjikan akan diantar langsung bila sudah tamat SD? Tetapi, mengapa sampai di rumah itu yang selalu berkelebat adalah bayangan Samsuri? Ah, sudahlah! Bukankah suami dan anak merupakan lakon utama dalam sebuah pementasan keluarga?

Tak banyak yang dikatakan Maryam. Ia tengah sibuk berbicara dengan benda-benda mati dalam bahasa kalbu. Pada sebuah lemari, ia menemukan sepotong gambar wajah bidadari kecil. Rambutnya sebahu. Ya, Allah! Anakku telah menjadi gadis kecil nan cantik, batinnya. Mata gadis itu teduh seperti suaminya. Alis mencuat seperti alis Maryam serta dagu yang tipis. Ulfa yang ditaksir mirip Maryam ternyata mirip Samsuri.

“Ummi, Ulfa di mana? Dari tadi saya tak melihatnya,” Maryam tergerus nafsu.

“Istirahatlah dulu, Nak. Kau masih lelah. Nanti kita bersama-sama ke pesantren,” jawab ibu mertua ramah.

“Pesantren?”

“Ya!”

“Kenapa dimondokkan? Bukankah Ummi berjanji mengembalikan Ulfa jika sudah tamat sekolah? Ummi ingat, kan?” Maryam kecewa.

“Sabar, Nak. Izinkan Ummi mendidiknya menjadi perempuan solehah sepertimu.”

“Aku ingin ke sana!”

“Aku akan mengantarkanmu. Tapi janganlah kau bawa Ulfa sekarang. Dia baru menemukan kehidupan baru di sana.”

Sanak saudaranya tidak bisa menahan kehendak Maryam mengunjungi Ulfa. Kesepakatan alot terjadi; tak boleh seketika langsung membawa Ulfa. Meski raut muka Maryam berubah keruh, berangkatlah dengan mertuanya.

Di halaman pesantren berjubel puluhan santri. Maryam tak bisa memastikan apakah anaknya juga berada di kerumunan itu. Dalam benaknya kembali terlintas murid-murid dulu yang pernah diasuh bersama Samsuri di sebuah surau kecil. Saat keluar masuk menunggu panggilan salat maghrib. Atau ketika sedang mengaji alif, ba, ta, tsa ….

Sesaat sebelum menit berdetak, seorang gadis kecil berkerudung putih melabrak dan jatuh di pelukan ibu mertua. Ulfa! Maryam tak bisa membendung kerinduan yang mencari. Hangat dan bening. Rindu yang telah bertahun mengarat disalurkan pada gadis bermata lentik itu. Ulfa mendelik. Sesaat gadis itu memanggilnya dengan sebutan Ummi. Oh, betapa sejuk hati Maryam oleh lafal itu.

“Ulfa betah di sini, Mi. Mereka semua baik pada Ulfa,” tuturnya polos.

Maryam jadi sangsi. Apakah tetap akan membawa pulang? Haruskah seorang ibu merenggut kebahagiaan baru anaknya? Menghiraukan permohonan mertua? Oh, Ulfa anakku, seandainya abimu tak berwasiat demikian, aku tak akan mengusik kebahagiaanmu di sini. Aku juga tak akan rela meninggalkan nenekmu sendiri. Tapi ketahuilah sayang, hari Ummi juga sepi. Kau tahu mbakmu Lu’a telah menikah dan ikut suaminya, sedangkan Fathor sedang menempuh S2 di Surabaya, batin Maryam bergolak.

Bagaimanapun ibu adalah seorang yang telah melahirkan ke dunia. Kasih sayang nomor wahid. Tapi sayang, hari ini seorang ibu merasakan sebuah kekalahan. Kekalahan oleh perasaan sendiri. Maryam tidak dapat mendongakkan kepala. Hari itu, ia tidak bisa memulangkan Ulfa ke pelukannya.

***
DAN pada hari yang kesekian kali, Maryam menyisir kerinduan. Pada hatinya, menanyakan kabar Fathor, bagaimana keadaan di Surabaya? Pada perasaannya, bertanya tentang Lu’a, berbahagiakah bersama suami? Dan pada kerinduan ia bertanya mengenai Ulfa, maukah bila diajak pulang ke Madura?

Oh, menyakitkan bila Maryam menatap foto Samsuri. Rasa bersalah bergelayut seketika bersitatap. Penyesalan yang tak mampu menggariskan dirinya sebagai istri solehah. Sungguh merasa sangat berdosa Maryam tak bisa mengabulkan wasiat Samsuri. Selalu ada perasaan tak tenang ketika bersitatap dengan foto usang itu. Maryam sangat membutuhkan tawa Ulfa sebagai pengganti pada tawa-tawa yang sudah pergi karena kesibukan masing-masing. Ia mengukuhkan diri berangkat ke Jember tanpa sesiapa yang mengetahui. Tujuannya satu, menjemput Ulfa! Ia cukup muak dengan janji-janji yang diucapkan oleh keluarga Samsuri. Kehendaknya berani bertaruh merasa berada pada wilayah yang benar. Ulfa adalah haknya. Darah dagingnya.

“Ulfa, Ummi menjemputmu. Kita akan pulang sekarang ke Madura. Aku sudah mengurusi segala kebutuhanmu,” ucap Maryam.

“Bagaimana dengan sekolahku di sini, Mi?”

“Semua sudah diurus. Ulfa hanya tinggal ikut Ummi,” jelasnya.

Kebetulan tadi di sekolah Ulfa diajari tentang cara menghormati seorang ibu. Bagaimana agama melarang berkata ‘Ah’ pada ibu, apalagi menolak. Jadi, tak ada alasan bagi Ulfa menolak ajakan Maryam.

Maryam merapatkan diri, mengumpulkan keberanian menghadapi hari esok yang tak terbayangkan kerasnya. Demi seutas senyum, semua harus dipertaruhkan.***

Sumenep, 9 April 2012

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fandrik Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1278/XXV 20 – 26 Agustus 2012

0 Response to "Wasiat"