Yanwa Tanarsu - Daki - Bibir Merah Delima | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Yanwa Tanarsu - Daki - Bibir Merah Delima Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:59 Rating: 4,5

Yanwa Tanarsu - Daki - Bibir Merah Delima

Yanwa Tanarsu

Dirimu ada dalam diriKu 
Kita saling melengkapi 
Serupa madu pada sari bunga 
Seperti bintang dalam galaksi 
Lalu, mengapa kau berjalan tak tentu arah 

Langkah letihmu telah mengikis waktu 
Dalam labirin itu kau serupa Minotaur 
Berapa tumbal lagi kau inginkan 
untuk sampai pada kesejatian 

Sejak kau dilahirkan 
kegelapan telah mengintai dan mengujimu 
Namun, kau cuma menebar senyum 
Itulah sebabnya Aku mencintaimu 

Kau ingat? Seekor monyet siluman 
menjilati ari-arimu, lalu perutmu 
digerogoti cacing-cacing desti 
Kau nyaris sekarat 

Sebilah keris kecil milik dukun sakti 
merasuki keningmu begitu hangat 
Dukun itu mati usai menyembuhkanmu 
Kau berutang padanya 
Dan, karma bekerja dalam dirimu 

Dukun yang lain memberimu sekeping uang kepeng 
ketika kau menangis meraung di siang lengang 
Dukun itu juga mati usai menghiburmu 
Dan, roda karma terus berputar dalam dirimu 

Sebagai kawan seperjalanan, 
kematian begitu mengakrabimu 
Serupa langkah dan bayangan 
Seperti bibir dan senyuman 

Aku merindui kenakalan masa kanakmu 
Ketika kau bermain begitu riang 
bersama memedi, dedemit, danyang 
di tepi sungai, di ladang keramat, di gigir jurang, 
di pesisir pantai, di petilasan tua, 
di gunung dan hutan larangan 
Kau kasihi batu-batu, 
kau cintai pohon-pohon 
Hatimu terharu pada hewan terlunta 
dan kaum teraniaya 
Kau tumbuh dan hidup dalam cahaya bulan 
Itulah sebabnya Aku mengasihimu 

Suatu waktu, kau berusaha mengenali diri 
Merambah jalan yoga-semadi 
Mengumpulkan cahaya niskala 
dengan doa dan mantra 
yang bergetar dan menggema 
dalam bejana jiwa 
Empat saudara dari gua garba 
memberi restu dan melindungimu 

Namun, di waktu yang lain 
kau melupakan empat saudaramu 
Bahkan, kau lupakan dirimu 
Bagai kerbau dungu 
kau berkubang dalam lumpur 
yang kau buat sendiri 

Kini, kau membangun labirin 
menjebak diri dalam pusaran waktu 
Kau mendekam serupa Minotaur 
menunggu pembebasan 

Bebaskan dirimu! 
Dan, datanglah padaKu 
seperti dahulu 

(2017)


Daki

Jangan jadikan aku pupur 
yang melapisi wajahmu 
bila membuatku makin jumawa 
dan silau akan pesonamu 

Jangan jadikan aku gincu 
yang memoles bibirmu 
yang gemetar penuh ragu itu 

Cukup jadikan aku daki 
yang melekati kakimu 
Hingga aku makin paham 
segala jejak langkahmu 
membawa silam menjauh 

Kata-kata yang berhamburan dari mulutmu 
telah membinasakan bunga dan lebah madu 
Hutan-hutan pun ranggas 
dalam naungan musim tak tuntas 

O, lidah lembut yang menyesap beragam rasa 
mengapa dusta melekat bagai benalu 
Menjauh dari cahaya, 
kau merambah kelam demi kelam 

Sebagai daki, aku merasa cukup 
mencintai tapak kakimu yang tak indah itu 
Meski kau selalu mengingkari lidahmu 

(2017) 

Bibir Merah Delima

wahai, bibir merah delima 
beraroma arak dan tembakau 
aku sungguh merindukanmu 
seperti remang subuh 
menanti cahaya pagi 

rambutmu yang tergerai 
serupa hutan tropika 
memeram rahasia pengembara 
ranum pinggulmu 
pertapaan kaum sadhu 

kukenang suaramu renyah 
seperti gairah hujan 
menyelinap ke dalam jiwaku 
di lelangit kamar sepasang cicak saling tatap 
aku bergumul dengan bantal dan selimut 

bibir merah delimamu 
yang beraroma arak dan tembakau 
muncul dari dinding kusam kamarku 
kujulurkan jemari tangan 
tak ada yang bisa kuraih 

nyanyian kodok seusai hujan 
bau bunga kamboja di atas meja 
seperti ingin meringkus malam 
tenggelam dalam lamunan 

di ujung kasur 
seekor kucing mendengkur 
jarum jam seakan berhenti berdetik
aku makin kehilangan cara 
untuk sekedar terlelap tidur 

(2016)



Wayan Jengki Sunarta lahir di  lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Buku terbarunya adalah novel Magening (2015) dan kumpulan puisi Montase (2016)



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wayan Jengki Sunarta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 1 April 2017

0 Response to "Yanwa Tanarsu - Daki - Bibir Merah Delima"