Apotek di Jatinegara - Menunggu Oto - Apa itu Komunis? - Salida Kuarsa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Apotek di Jatinegara - Menunggu Oto - Apa itu Komunis? - Salida Kuarsa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Apotek di Jatinegara - Menunggu Oto - Apa itu Komunis? - Salida Kuarsa

Apotek di Jatinegara

Istriku menyuruhku membeli pompa tetak
aku katakan kepada penjaga apotek
karena tidak dapat susu dari ibunya
anakku merengek sepanjang malam
penjaga apotek itu kukira orang terpelajar
yang sekolah lima tahun di laboratorium
dan telah pula menjadi urbaan. Jadi hanya bisa diam.
Tak pandai berbasabasi macam di kedai kopi.
Yang kuingat darimu memang hanya itu
hanya apotek di Jatinegara itu
aku pernah tinggal seminggu
tidak berapa jauh dari situ
di rumah pamanku almarhum
yang meninggal ditabrak kereta
yang punya empat pintu toko sepatu
kini toko-tokonya itu telah dijual istrinya
entah kepada siapa, lalu toko-toko itu 'direnovasi'
menjadi hotel kelas melati, tempat orang berzinah
kamar menginap pasangan mesum.


Menunggu Oto

Setiap hari aku lewat di situ, memandang kolam yang lapang
tak terdengar kecipak ikan, hanya pendar redup bohlam
dari langit-langit langkan
rumah beratap merah bata
mungkin ada poskar tergantung di dinding, jejak air sirih mengering
aku tidak bisa tidak menoleh pada tiang-tiang dari kayu ruyung
berukir bunga cengkeh, dan lukisan mooi indie-- dokar di tepi sungai
kereta api di jembatan tinggi.
Lalu aku dengar suaramu
melambai-lambai.

Tapi aku sedang di kereta bara yang melesat kencang
dari cerobongnya mengepul asap hitam
aku melihat hutan terkelubak pada cekung matamu
sawah dan ladang yang dipindahkan ke gerbong-gerbong berat ini
menuju lain pelabuhan
dan kapal-kapal kosong muatan.

Setiap hari aku lewat di situ, melihat kolam yang keruh air
ikan-ikan putih mati mengapung dan daun keladi kuning lepas ke saluran tandas
membawa sisa minyak dari dapur, rumah dengan dinding warna timah
tidak bisa tidak aku menoleh pada ukiran petai cina di pinggir jendela
pedati dari zaman Padri dan tiang bajak
yang patahh tersandar
di suar luar.
Serupa tungkai-tungkai kakimu.
Tapi tak ada lagi suaramu, melambai-lambai. serupa dulu, lenguh sapi pun
tak terdengar, dari kandang di belakang, hanya tersisa bayangan
ladang jagung, terpencil di tepi bukit, lobak busuk dalam karung
dan musim kering
merontokkan daun,
kuli-kuli membuat jalan membelah perbukitan
lalu segerombolan laki-laki murung
lari dari rodi, lari
ke kota-kota jadi pialang.
Aku melihat kau menunggu oto
di halaman berpendar bohlam.
Hari cepat betul jadi kelam.

Apa itu Komunis?

Ibumu takut pada oto dan sepur
sebab keduanya bisa membunuhmu
tapi padaku tidaak
aku memberi hidup
berkelimpahan seminggu
lalu miskin berbulan-bulan
tapi aku bisa menggendongmu di pundaku
aku bisa melemparkanmu tinggi-tinggi ke udara
aku mau saja jadi petani di sini
tapi ibumu tidak punya tanah
karena tanah sempit orang pergi ke kota
jadi tukang catut
pulang bergigi emas
berjas tebal di hari panas
kau merasa heran
mengapa dulu banyak komunis di sini
tanah subur, matahari lembut, ada gunung sedia
saban tahun menyemburkan abu
tapi tanah kurang
berebut tanah
jadi melarat
jadi komunis
tapi ibumu hanya takut pada oto dan sepur
apa itu komunis! katanya padaku.

Salida Kuarsa

Ketika anak-anak terbangun malam
ibunya malah mematikan lampu
dan menghidupkan lagu qasidah

pada saat itu aku teringat ladang ayah
di kampung-kampung masa kecilku
yang hanyut ke muara bersama bah.

Masa lalu serupa orang-orang
berkulit gelap tetapi bermata biru

dulu Peranggi suka berlabuh di pulau ini
menyisir garis pantai dan ke darat dengan sekoci

dan kembali dengan iring-iringan pedati penuh padat
mengupah sais-sais setempat mengangkut lumpur mengandung

surai-surai emas
akar-akar kuarsa

ke teluk ini

tempat penyu-penyu datang
membuat lubang-lubang pasir.

Ketika anak-anak terbangun lama
mereka mencari-cari rambut ibunya

ketika terjaga malam, aku mencari-cari rambut istriku
mengelus-ngelusnya mesra bagai itu ladang masa lalu

yang dibawa berlayar
kapal berlambung besar.


Deddy Arsya, tinggal di Sumatera Barat. Buku puisi pertamanya, berjudul Odong-Odong Fort de Kock (2013), terpilih sebagai Buku Sastra-Puisi Terbaik Tahun 2013 Pilihan Majalah Tempo. Buku puisinya yang kedua, Penyair Revolusioner, akan terbit tahun ini (Grasindo, 2017)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 13 -14 Mei 2017

0 Response to "Apotek di Jatinegara - Menunggu Oto - Apa itu Komunis? - Salida Kuarsa"