Asap Riau Tengah Berduka - Pulau Tongah dan Ketenggelamannya - Dondang Budak Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Asap Riau Tengah Berduka - Pulau Tongah dan Ketenggelamannya - Dondang Budak Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Asap Riau Tengah Berduka - Pulau Tongah dan Ketenggelamannya - Dondang Budak Puisi

Asap Riau Tengah Berduka

: Mengenang Masa Kejayaan Kabut Asap

Seperti Bukit Barisan yang tak pernah berhenti berkedip
mencari noktah rimba dan pohon-pohon yang tak bisa
bergerak
dan terbakar. Aku pun melihatmu dengan mata telanjang,
menatap dan membawamu pada kusut kabut
seluruh tubuhmu yang elok
yang sama-sama menenggelamkan kita.

Aku tak pernah tahu di mana letak luka
yang mendarat tepat di ujung bukit ini,
di mana kesedihan hanya kegelapan
yang memerahkan mata.

”Aku biarkan kau mengucek kelopak mata.”

Aku bayangkan batang-batang pohon
di perutmu itu mati dan tak bisa tumbuh lagi.
Harimau-harimau sumatera tak lagi mendiami,
dan di malam hari dalam kesendirian
kau hanya bisa berdoa pada awan-awan.

Engkau akan rapuh, tumbang dan hancur.
Menangis dalam diam,
satu per satu tubuhmu kehilangan keseimbangan
dan terbawa oleh orang-orang.
Senyap, tak ada suara selain patahan-patahan batang,
ranting yang berteriak,
kayu-kayu terpotong dan jatuh,
dan alam terbakar.

”Asaaap.”

Bukit Barisan kini hanya diam
dan berpindah tempat tinggal.
Kau sendirian dan abai.
Aku pun menjauh darimu,
dengan mata merah,
aku tak pernah kembali hingga air matamu
benar-benar menghilangkan semua asap kesedihan ini.

Riau Sastra | 2016

Pulau Tongah dan Ketenggelamannya

Di Pulau Tongah, tak ada bintang malam ini. Langit
tengah biru padam
dan hujan sedang meneteskan air mata. Doa-doa
nelayan tak terkabulkan
saat menghadapi musim penghujan, pulau Tongah
tenggelam dan aku
hanya bisa menangis di atas pohon mangga sambil
mencari ayah,
amak dan ikan-ikan yang tenggelam entah di mana.
Pulau Tongah dan rumah hilang tiba-tiba.

Pulau Tongah Sastra | 2017


Dondang Budak Puisi

datuk, kami budak-budak puisi yang berdondang
di bawah lampion megah
puitislah kata-kata kami
yang tumbuh subur di tepian sungai
tepatnya di samping sampan.

suara kami memenuhi gema
memecah gelas kopi malam hari
hitam kopi pun bersatu, dengan wajah kami
yang samar oleh asap-asap
bekas bakar ikan-ikan sebesar toman,
toman juga memekik
bersatu dengan kami yang berusaha
meleburkan gelas malam.

subuh pun tiba,
entahlah kami berada di mana
kami budak-budak puisi
yang berdondang di tempat sama
namun di sampan yang berbeda
teh mengalir di tenggorokan puisi
ya itulah, kami
budak-budak puisi.

datuk, serentak-rentak berbudak-budak puisi
menatap hijau tepian sungai
mengalir hijau pohon di lubuknya.
tangan kami mengelus mengelus kuning surya
bersenandung-bersarung dinamika.

tubuh kami pun beranjak dari tepian sungai
sambil berdondang kami pulang
Tuk beri kami inspirasi kalimat puisi.

kami akan kembali
dengan dondang berikutnya.

Sepulang Kenduri Puisi | 2016

- Muhammad de Putra, kelahiran 25 Mei 2001, juara 1 Lomba Menulis Puisi Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN 2016 Jakarta). Buku kumpulan puisi tunggal ketiganya Hikayat Anakanak Pendosa (2017). Tunak di Community Pena Terbang (Competer). (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad de Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 14 Mei 2017

0 Response to "Asap Riau Tengah Berduka - Pulau Tongah dan Ketenggelamannya - Dondang Budak Puisi"