Bayang-bayang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bayang-bayang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Bayang-bayang

"JIKA tak bisa memiliki jiwa dan ragamu, aku akan berusaha untuk memiliki dan mencintai bayang-bayangmu, Mas Joko," gumam Lalia sambil memperhatikan sosok gagah pemuda idamannya: Joko.

Lalia menyadari dirinya hanya anak yatim yang miskin, ibunya seorang tukang cuci pakaian. Sedangkan pemuda idamannya itu adalah putra Pak Kades. Rasanya mustahil bagi gadis miskin bisa hidup bersama dengan anak orang nomor satu di desanya itu. Tapi karena cintanya sangat alam dan tulus, Lalia ingin memiliki pemuda itu, walau sekadar bayang-bayangnya.

Tiap sore, Lalia disuruh ibunya mengantar pakaian yang habis dicuci dan diseterika ke rumah Pak Kades. Lalia bisa melihat Joko sedang asyik dengan tabletnya di beranda.

Biasanya, ketika sedang bertatapan mata dengan Joko, hati Lalia bergetaran, lantas keringat dingin membasahi lehernya. Rasa gugup menderanya. Tapi setelah itu hatinya sangat lega.

Namun, bagi Joko, hatinya biasa-biasa saja ketika bertatapan mata dengan Lalia. Sama sekali tak tertarik kepada anak si tukang cuci pakaian itu. Meski wajah Laila cukup manis, di mata Joko bukan apa-apa dibanding dengan wajah-wajah teman kuliahnya.

Laila pun menyadari betapa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Karena itu, ia merasa pesimis untuk bisa memiliki jiwa dan raga Joko Ia ingin berusaha agar bisa memiliki pemuda idamannya itu, walaupun hanya bayang-bayangnya saja. Ya, mungkin ia akan berhasil memiliki bayang-bayang pemuda idamannya itu untuk kemudian dicintainya.

Begitulah, setiap habis sembahyang, Lalia berdoa agar dirinya bisa memiliki bayang-bayang pemuda idamannya. Sambil berdoa, dibayangkannya pemuda idamannya tersenyum ceria. Ajaib, tiba-tiba Lalia seperti bisa benar-benar memiliki bayang-bayang Joko. Kapan saja Lallia pun bisa bercengkerama dengan bayang-bayang itu. Kadang-kadang bayang itu berubah wjud menjadi sosok utuh Joko yang mengajaknya berkencan sebagaimana seorang suami mengajak kencan istrinya. 

"Kini aku merasa sudah menjadi istri Mas Joko." Lalia bergumam sambil menerawang sehabis kencan dengan bayang-bayang pemuda idamannya.

Suatu sore, ketika melihat Lalia nampak tersenyum ceria sambil berdiri di depan pintu, ibunya menegurnya dengan heran. "Kuperhatikan sejak sebulan lalu kamu tersenyum-senyum sendiri. Memangnya kenapa kamu?"

Lalia tak mau menjawab pertanyaan ibunya. Biarlah ibunya makin penasaran. Tapi ibunya tidak mau penasaran. Dibiarkan Lalia hidup dalam dunianya sendiri, dunia gadis yang menginjak masa dewasa. Biasanya, gadis seperti itu memang sering mudah dimengerti oleh ibunya karena ibunya juga pernah mengalaminya. 

***
SEJAK masa kampanye pilpres lalu, sejumlah ibu-ibu jatuh cinta kepada Jokowi yang suka tersenyum ceria. Senyuman laki-laki flamboyan yang akhirnya menang pilpres itu betul-betul membuat mereka suka menerawang, lantas mencoba untuk memiliki bayang-bayang Jokowi.

Bahkan, agar setiap saat bisa merasa dekat dengan Jokowi, sejumlah ibu juga menyimpan foto laki-laki kerempeng tapi tampak kuat itu di dalam dompet.

Di satu rumah, pada suatu malam, terjadi pertengkaran suami istri gara-gara sang suami memergoki istri sedang mencium-cium foto Jokowi yang disimpannya di dompet.

"Kamu tak usah cemburu, Mas. Aku mencintai Jokowi sudah final, tak bisa diganggu gugat. Kalau kamu cemburu dan keberatan, silahkan ceraikan aku." Sang istri bicara tegas sehabis menciumi foto Jokowi yang disimpan di dompet.

Sang suami mencoba mengerti betapa cintaya sang istri kepada Jokowi tak perlu dicemburui. Percuma cemburu kepada istri yang mencintai laki-laki yang posisinya jauh di atasnya.

"Kalau setiap istsri yang mencintai Jokowi diceraikan oleh suami, di negara ini pasti akan ada puluhan juta janda dan duda," sang istri bicara lagi.

Sang suami bungkam. Dirinya merasa seperti sedang berhadapan dengan orang gila. Jika orang gila ditanggapi kata-katanya, bisa ikut gila.

"Kamu harus belajar mengerti hati perempuan yang sudah lama merindukan pemimpin yang merakyat. Jika rindu itu kini berubah menjadi cinta membabi buta ya wajarlah. Intinya, tak ada salahnya aku mencintai Jokowi, meskipun seperti sekadar mencintai bayang-bayang." Sang istri kembali bicara dengan mata menerawang.

Sementara itu, di seluruh pelosok negeri ini ternyata banyak rakyat yang terpesona kepada bayang-bayang jokowi. Mereka suka menerawang membayangkan masa depan yang serba indah.

Mereka membayangkan bisa bersepeda bersama Jokowi. Mereka membayangkan bisa makan di warung kaki lima dengan Jokowi. Mereka pun membayangkan bisa tidur di istana negara dengan Jokowi. Dan mereka sangat girang ketika membayangkan sedang sakit dan dirawat di rumah sakit dengan gratis sementara sekolah anak-anaknya juga gratis.

Entah sampai kapan mereka hidup dalam dunia bayang-bayang yang pasti jauh dari kenyataan. ❑-e


Kota Wali, 2017

*) Asmadji As Muchtar, Lahir di Pati, 6 Juli 1961. Wakil Rektor III Unsiq Wonosobo Jawa Tengah. Banyak menulis cerpen, puisi dan esai, juga menerjemahkan kitab-kitab kuning. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asmadji As Muchtar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 21 Mei 2017

0 Response to "Bayang-bayang"