Cerita Pembersih Muntah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Cerita Pembersih Muntah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:33 Rating: 4,5

Cerita Pembersih Muntah

DIA pandai membuatku tertarik ceritanya. Walau aku menduga dia hanya meracau, seperti kebanyakan penghuni bangsal lain. Tapi semakin aku menyimak semakin aku berpikir ada cerita di dalam racauannya.

"Mereka mengurungku, menganggapku gila, bahkan mengancam akan membunuhku, karena aku mampu melihat sesuatu di dalam muntah itu, sedang mereka tidak dapat melihatnya," katanya.

Dia menyingkir ke sudut ruang, duduk di kursi yang ada di situ. Aku sedang membersihkan lantai bangsaal. Setiap gerak mengepel lantai yang kulakukan agak mendekat ke arahnya, dia menyambung lagi ceritanya.

Dia bersungut-sungut. Sebelum dibawa ke sini, dia dikurung dulu lebih sehari semalam. Dengan rinci dia bilang: kamar tempatnya disekap tak berjendela, hanya ada empat lubang angin di bawah plafon, dari mana dia bisa pula tahu kapan waktu siang dan waktu malam berganti.

"Kenapa kamu dikurung?" tanyaku, tetap menggerakkan batang pengepel ke lantai tanpa menoleh.

"Karena aku terlalu jujur," balasnya. "Seandainya aku tidak mengatakan yang sebenarnya, seperti yang aku lihat dengan sangat jelas di dalam tumpukan muntah itu, mungkin mereka tidak mengurungku."

Aku menoleh. Ingin kupastikan apakah dia serius dengan ceritanya.

"Tidak ada juga gunanya aku berbohong pada orang-orang yang menyekapku itu," sambungnya. "Aku kan sudah bercerita ke mana-mana, ke banyak orang, dan mereka tahu itu. Pura-pura saja mereka menanyaiku. Hanya ingin memastikan jawabanku."

Tiba-tiba dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke samping kepalaku. Dia berbisik, "Mereka mengurungku, karena mereka tidak suka kalau aku ke mana-mana bercerita tentang isi tumpukan muntah itu. Sst, kau mau tahu, apa isi muntah itu?"

Secepat dia bertanya, secepat itu pula aku menggeleng. Teraduk lambungku bila harus mendengar secara detail apa isi setumpuk muntah.

***
PADA saat lain, kudatangi tempat tidurnya. Aku penasaran cerita tentang 'kemampuanya' melihat isi tumpukan muntah!

Dia meneruskan dulu ceritanya waktu dia disekap di kamar itu. Dia bilang, selama sehari semalam itu, lorong-lorong ususnya terus bergemuruh menahan lapar dan lelah. Yang terus dia ingat adalah sekantong gorengan yang dibelinya, yang terpelanting sehingga isinya terburai. Itu terjadi saat dua lelaki tegap menghadang langkahnya, lalu mengepitnya.

Pangkal lengannya begitu ngilu, karena kedua pengepitnya lebih tingggi darinya. Kedua kakinya melayang terseret menuju mobil. Dia disurukkan ke jok belakang, diapit oleh kedua tubuh tegap tadi. Kuakui, dia pandai bercerita. Aku merasa ikut menyaksikan kejadian itu, padahal aku hanya membayangkannya.

Dia mengkeret. Tubuhnya terasa kian mengecil terjepit di antara tubuh besar di sisi kiri-kanannya. Dia baru tahu kenapa dia dibawa paksa, ketika dikurung di dalam kamar itu. Ternyata itu akibat dari kemampuannya melihat isi tumpukan muntah.

"Mereka sangat marah lalu mengancam akan membunuhku," lanjut ceritanya. "Itu karena mereka tau aku suka bercerita ke mana-mana, ke setiap orang yang kutemui dan mau mendengar ceritaku. Bahkan aku pernah bercerita ke wartawan, juga ke kelompok tertentu yang tanpa aku tahu itu adalah musuh-musuh Bapak."

Kutatap lekat parasnya. "Bapak? Bapak siapa?"

Wajahnya terdorong, hampir menyentuh telingaku. Bulu kudukku sedikit meremang karena geli, saat gerak bibirnya yang berbisik menyentuh cuping telingaku.

Apa yang dibisikkannya, membuatku menganga. Sejenak aku sangsi; mungkin inilah racauannya yang sebenarnya. Namun, dia menghilangkan keraguanku pada lanjutan ceritanya.

"Aku bekerja di rumah Bapak sebagai tukang bersih-bersih, seperti pekerjaanmu di sini. Di rumah dinas Bapak yang begitu besar dan megah, tukang bersih-bersih banyak. Namun, cuma aku yang dipercaya membersihkan muntah Bapak."

"Sakitkah Bapak itu?"

"Sepertinya tidak. Malah kelihatan sangat sehat. Hanya seperti kebiasaan. Bapak suka sekali muntah, dan terus saja muntah. Mungkin serupa candu; dia terus melakukannya, dan muntahnya semakin banyak saja. Sampai berceceran di lantai. Kalau tidaak aku bersihkan, dan dibiarkan saja terus menumpuk, butuh tempat besar untuk menampungnya. Mungkin tempat seluas satu kampung."

Aku mulai merasa kurang nyaman. Sebelumnya aku lalai memikirkan untuk apa dia dibawa ke sini. Sekarang aku mulai memikirkannya.

Dia sepertinya tak memedulikan reaksiku. Masih saja meneruskan ceritanya, "Sebagian dari muntah itu aku simpan di gudang."

Aku menyergah kaget, "Untuk apa?"

"Aku yakin, Bapak akan memberikannya padaku. Tidak ada orang yang akan menjilat, apalagi menelan kembali muntahnya, kan?" Dia tertawa lagi. Aku berpikir, dia terlalu banyak tertawa ketika bercerita.

Wajahnya begitu cepat berubah, menjadi sangat serius dan tegang. "Kau belum juga mau tahu apa isi muntah itu?" tanyannya. Kali ini dia tidak memberiku kesempatan menggeleng; dia terus bercerita.

"Sini, kubisiki...." Gerak mulutnya menggantung. "Tapi ini rahasia. Jangan ceritakan kepada siapa-siapa, kecuali kau juga ingin bernasib seperti aku; dikurung dan dianggap gila."

"Kamu kan telah menceritakannya ke mana-mana?"

"Makanya aku diambil paksa, dikurung, lalu dibawa ke sini." Dia menggeleng-geleng. "Mereka yang mengurungku itu malah mengancam akan membunuhku bila masih suka ke mana-mana bercerita tentang muntah Bapak. Dan mereka menuduh aku telah dibayar oleh musuh-musuh Bapak, lawan-lawan politik Bapak, untuk menjatuhkan nama baik Bapak, agar tidak terpilih lagi jadi kepala daerah. Makanya aku cuma mau bercerita kepada kamu."

Aku pikir dia mulai ngawur. Aku hendak beranjak saat dia menyambar tanganku, "Eh, kamu yakin tidak mau dengar?"

Wajahnya terdorong lagi, hampir menyentuh telingaku.

"Di dalam tumpukan muntah Bapak, aku melihat ada rumah-rumah mewah, apartemen, mobil-mobil keluaran terbaru. Ada juga tumpukan emas batangan, berkopor-kopor uang dolar, dan ada wanita-wanita simpanan."

Hendak kujauhkan telingaku dari gerak-gerik bibirnya, tapi tangannya ternyata sedang merengkuh pundakku dan menahannya.

"Bapak memuntahkannya, karena sudah terlalu banyak di dalam perutnya. Kupikir dia memakan semua itu dengan cara tidak halal, makanya perutnya terus mulas, membuncit karena tidak muat lagi menampungnya...."

Kudorong kepalanya, dan kusentakkan tubuhku menjauh, Kutatap parasnya yang berubah sedih.

"Kamu juga tukang bersih-bersih di sini seperti aku, yang sudah kuangga sebagai saudara, tapi ternyata tidak percaya pada ceritaku."

Aku membalik badan, dan mulai berpikir: sebaiknya dia memang tinggal dulu untuk dirawat di sini, di rumah sakit jiwa tempatku bekerja ini. ■ (e)

Parepare, April 2017

* Pangerang P Muda: guru SMK, menulis cerpen sejak 1987. Tinggal di Perumnas Wekke'e Blok E No 82 Parepare Sulawesi Selatan 91125.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Pangerang P Muda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 14 Mei 2017

0 Response to "Cerita Pembersih Muntah"