Di Depan Patung Garam Men Brayut - Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair - Di Muka Topeng Air, di Museum Nyoman Gunarsa - Aku Hadiahkan di Hari Ulang Tahunmu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Depan Patung Garam Men Brayut - Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair - Di Muka Topeng Air, di Museum Nyoman Gunarsa - Aku Hadiahkan di Hari Ulang Tahunmu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Di Depan Patung Garam Men Brayut - Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair - Di Muka Topeng Air, di Museum Nyoman Gunarsa - Aku Hadiahkan di Hari Ulang Tahunmu

Di Depan Patung Garam Men Brayut

ceritakan lagi padaku, Ibu...
anak-anakmu yang tidak akan pernah kembali

bukankah kau
adalah ibu dari lima pandawa...
dan bukankah kau juga
adalah ibu dari seratus korawa...

hingga kini
kau hanya mengakui
melahirkan empat anak
anak-anak yang menyusu
di tubuhmu, seumur hidup:

wayan kaja
menghilangkan diri ke gunung
mencari puncak senyap
mencari kepundan kosong
mencari kaldera hampa

made kangin
menutup mata
mematikan mata api matahari
berjalan dalam gelap
membuka pintu cahaya

nyoman kelod
menghanyutkan diri ke laut lepas
menyelam sejauh palung paling
rahasia rahasia segitiga: lahir-hidup-mati

ketut kauh
menempuh megatruh
bulan sabit, bintang padam, matahari gerhana
di separuh waktu
menempuh megatruh waktu paruh

ceritakan perihal anak-anakmu, Ibu
cerita tentang penjaga empat penjuru angin
angin timur laut, angin tenggara
angin barat daya, angin barat laut
anak-anakmu yang berangkat ke satu arah
namun tak pernah kembali dari arah yang sama

2017


Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair

aku curi
segenap kata        dan bukan kata
yang dijadikan milikmu
untuk menguruk birahi dalam hatiku

hingga,      jadi pantun
tempatku belajar menuntun diri,
hingga,       jadi gurindam
              tempatku mengidam        masa depan,
hingga,            jadi haiku
             tempatku               menjadi Aku
lantas,
untuk mengutuk birahi dalam hatiku
aku hapus pesan pendekmu
yang menghuru-harakan tanganku
: ”puisi, ternyata
hanyalah makam penyairnya
imigran gelap yang berjuang mencapai kekata
puisi,              hanya
              kubur pemimpi basah                       tanpa epitaf
tanpa taburan bunga perkabungan
puisi, hanya sebuah lubang luka
di tanah:                tubuh,         yang tak pernah kering .... ”

2017


Di Muka Topeng Air, di Museum Nyoman Gunarsa

kau bentangkan untukku
lukisan yang tak terkira panjangnya
lukisan yang tak sanggup aku uraikan warna dasarnya

dimulai,                dari lukisan hitam-putih
seorang perupa yang tidak dikenal namanya
yang bercerita tentang ketiga dunia,
dan berakhir,                     pada satu lukisan
yang hanya berupa kanvas kosong
sebuah lukisan tanpa warna, tanpa cerita, tanpa pigura

aku perhatikan lebih seksama
wajahku juga tergantung
di antara topeng-topeng yang matanya terpejam
masing-masing hendak bertutur
tentang silsilah,         asal-usul,              babad
riwayat               awal hingga akhir,               seorang manusia

dan topeng penghabisan
yang mendapat tempat paling gelap
di lantai ketiga museum,
hanya sebuah topeng tanpa wajah
topeng yang memperlihatkan padaku
arah cahaya yang datang
lewat lubang langit-langit
cahaya yang menimpa,            tepat
pada kerut di antara ceruk kedua bola mata

aku pun gugup
aku bergegas
namun selalu saja tak sanggup umtuk berpaling lagi
dari pandangan topeng air
yang tergantung sendiri
topeng,              yang tak seorang pun tahu
berapa sudah umurnya itu...

2017


Aku Hadiahkan di Hari Ulang Tahunmu

aku hadiahkan di hari ulang tahunmu
sebentuk boneka garam
yang menghantarmu ke rumah kawin
yang menemanimu di rumah duka
yang menunjukkanmu rumah ibadah
: di hari paling tua tahun ini
jalani tanpa tertidur tanpa air mata
tanpa bunga sungkawa
tanpa buah tak berbiji
diam                     membisu
ini malam paling malam
tanpa api             tanpa cahaya
maka,
tuhan,                 bersembunyilah
aku akan mencarimu,
sampai
menemukanmu
tak pernah bersembunyi
bahkan
di tempat suci sekali pun

2017




Sindu Putra lahir di Denpasar, Bali, 31 Juli 1968. Kini ia tinggal di Mataram, Lombok. Kumpulan puisinya antara lain Biografi Burung (2013).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sindu Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 27 Mei 2017 

0 Response to "Di Depan Patung Garam Men Brayut - Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair - Di Muka Topeng Air, di Museum Nyoman Gunarsa - Aku Hadiahkan di Hari Ulang Tahunmu"