Gugatan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Gugatan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:15 Rating: 4,5

Gugatan

Sudarma meninggal siang tadi karena serangan jantung, dan sore ini mayatnya dikubur di sebuah kuburan tua yang ditumbuhi rumput ilalang yang tingginya selutut, dan rohnya dilempar ke neraka oleh malaikat. Andaikan saja ia tidaak mendengar jeritan dan raungan orang-orang yang tersiksa, dan melihat jilatan api di kejauhan, pasti ia akan menganggap dirinya tersesat di sebuah kegelapan malam dengan gelap yang tiada ampun.

KETIKA kesadarannya belum pulih benar, dua penjaga neraka dengan tubuh gempal hitam, wajah bengis, dan bertaring tiba-tiba menyeretnya.

"Bajingan, kau mau bawa aku ke mana?"

Sudarma membentak dan mencoba melawan, tetapi tak digubris.

"Kau mau bawa au ke mana?"

Lagi-lagi tak ada jawaban. Kedua penjaga itu berjalan lurus menembus kegelapan malam sambil menyeret tubuh Sudarma. Setelah melewati jalan dengan kobaran api di kiri dan kanannya, ia diseret melewati anak tangga yang tinggi, entah berapa jumlahnya. Mungkin 2.222 anak tangga, atau mungkin 22.222 anak tangga, atau bahkan 222.222 anak tangga.

Sampai di puncak tangga, tubuhnya dilempar, seperti melempar bangkai anjing ke sungai dan ditinggalkan begitu saja. Ia berdiri dengan susah payah, lalu menengok ke belakang dan tidak menemukan anak tangga yang tadi dilewatinya. Ia hanya melihat api. Api yang begitu besar dan ia tidak pernah melihat api sebesar itu sebelumnya. Hawa panas yang luar biasa, keringat yang meleleh, dan ia mencoba untuk berlari menjauhi api itu. Ia berlari, api itu tetap mengikuti dirinya. Di belakangnya, seperti seekor anjing mengekori majikannya. Setiap menoleh ke belakang, api itu semakin mendekat. Hingga ia merasa lelah, lelah, sangat lelah, lalu terjatuh karena kelelahan. 

”Kau harus dilempar ke kerak neraka.” 

Ia mendongakkan mukanya dan mendapati di depannya berdiri sesosok makhluk aneh. Besar, bertanduk, berpakaian serba putih, dan membawa sebuah buku. 

”Siapa kau?”

”Pencatat perbuatan manusia di dunia.” 

”Apa maumu?” 

”Menyeretmu ke kerak neraka.” 

”Kerak neraka?” 

”Ya.” 

”Salahku?” 

”Banyak.” 

Ia bangun lalu mendekati makhluk aneh itu. 

”Tidak! Aku tidak percaya.” 

”Apa kau tidak percaya denganku?” 

”Tidak!” 

”Apa kau tidak percaya dengan udara dan embus napasmu?” 

”Aku percaya, tapi tidak dengan kau.” 

”Itu aku.” 

”Kau bohong.” 

”Aku ada dalam napasmu, aku ada dalam darahmu, aku ada dalam pikiranmu, aku ada dalam keringatmu, aku ada dalam pembuluh nadimu, aku ada dalam jantungmu, aku ada dalam suaramu, aku ada .... ” 

”Diam kau bajingan! Aku tidak pernah merasa bersalah, semua yang aku lakukan adalah benar. Kau tak berhak menyeretku ke neraka. Semestinya di surga tempatku.” 

”Kau banyak dosa. Tidak pantas di surga.” 

”Aku selalu taat berdoa.” 

”Hanya untuk pencitraan, agar orang-orang memandangmu sebagai manusia saleh, manusia tanpa cela. Doamu tidak tulus, mulutmu busuk. Dan dalam buku catatanku telah tercatat dengan rapi, dan tidak bisa kau bantah.” 

”Bagaimana bisa kau bilang pencitraan? Aku telah berdoa ke semua benua. Aku berlayar dari ujung timur ke ujung barat, dari ujung selatan ke ujung utara. Setiap kuil aku singgahi, setiap tempat ibadah aku singgahi, dan di sana aku berdoa, aku berdoa, dan terus berdoa. Bangun tengah malam aku berdoa, fajar aku berdoa, sebelum mandi aku berdoa, sebelum makan aku berdoa, siang, sore, senja, sebelum bekerja, di jalan, aku selalu berdoa. Apakah doaku masih kurang?” 

”Tidak ada artinya. Doamu tidak tulus. Kau berdoa, tapi kau selalu nyinyir mengurus orang yang tidak berdoa. Mulutmu busuk, membuat banyak orang sakit hati. Apa kau ingat berapa pelacur yang kau sebut anjing karena tidak pernah berdoa dan tidak kenal Tuhan, sementara kau rajin datang ke tempat pelacuran?” 

”Apa salahnya? Aku memperingatkan mereka agar mereka taat berdoa.” 

”Dengan mulut berbisa?” 

Ia terdiam. Saat masih hidup, memang benar ia telah melewati semua benua untuk berdoa. Ia mengejar Tuhan ke mana pun yang ia bisa. Dan saat perjalanannya mengarungi semua benua untuk berdoa, ia juga tidak lupa singgah ke tempat-tempat pelacuran terkenal dan mewah di setiap benua yang disinggahinya. Masih terdengar jelas di telinganya dengus napas pelacur yang ditindihnya. Masih ingat dengan jelas pula bagaimana ia mengumpat dengan kata anjing kepada pelacur yang habis ditidurinya setelah ia menanyakan apakah pelacur itu punya Tuhan, dan pelacur itu mengatakan tidak mengenal Tuhan, dan ia tidak pernah tahu bagaimana pelacur itu akhirnya gantung diri beberapa bulan setelah itu karena sakit hati. 

”Tapi, aku masih punya perbuatan baik. Sewaktu menjabat wali kota, aku membangun banyak tempat ibadah, dan banyak dari tempat ibadah yang aku bangun, biayanya keluar dari kantongku sendiri. Aku mengalokasikan dana sebesar-besarnya untuk pembangunan tempat ibadah, hingga kota yang aku pimpin menjadi kota suci, tempat para dewa, dan para malaikat baik.” 

”Kau membangun banyak tempat ibadah, tapi rakyatmu banyak yang mengemis di pinggir jalan. Uang yang kau sumbangkan atas nama pribadi, kau ambil dari khas kota.” 

”Itu tidak benar. Jangan sembarangan menuduh. Apa kau menguping pembicaraan orangorang yang sakit hati karena kalah saing dalam pemilihan wali kota?” 

”Apakah aku lebih percaya pada lawan politikmu daripada kemampuanku? Aku adalah keadilan, aku bertindak seadil-adilnya kepada semua makhluk. Aku tidak mengadakan yang tidak ada, aku juga tidak meniadakan yang ada. Aku mencatat apa yang ada, dan sebenar-benarnya.” 

”Apakah aku harus mengaku melakukan dosa itu?” 

”Maling tidak selamanya harus mengaku maling.” 

”Rakyatku banyak yang menjadi pengemis, itu karena mereka malas. Mereka malas mencari kerja, mereka hanya ingin hidup mewah, mereka tak mau berusaha. Mereka pemalas! Sudah sepantasnya mereka menjadi kere dan mengemis di pinggir jalan.” 

”Apakah tugasmu jadi wali kota untuk menghukum mereka?” 

”Aku sudah membantu mereka, setiap minggu aku turun ke pelosok-pelosok kota. Aku berkeliling melihat mereka, dan kadang aku memberikan mereka bantuan dari kantongku sendiri. Lewat anak buahku, aku juga telah mengirimkan bantuan kepada mereka. Aku memberikan mereka bahan makanan, pakaian, dan semua yang mereka butuhkan. Membuat banyak program agar mereka tidak miskin lagi. Tapi toh mereka tetap miskin, mereka pemalas. Apakah aku salah?” 

”Apakah menurutmu semuanya itu benar?” 

Sudarma terdiam. Ia tidak menjawab benar atau salah. Ia hanya ingat bahwa ia telah melakukan yang terbaik untuk kotanya. Menjadikan kotanya kota suci, hingga banyak para pelancong datang ke kotanya untuk berdoa, atau sekadar untuk menebus dosa-dosa yang telah menumpuk agar dikurangi setengahnya atau bahkan dihapuskan semuanya. Tapi dalam hal lain, ia juga pernah menggelapkan dana pembangunan tempat suci untuk membelikan anaknya mobil, dan sebuah apartemen untuk istrinya, dan sebagaimana yang dikatakan makhluk aneh itu. Ia juga sering menyumbang atas nama pribadi, padahal uang yang disumbangkan itu milik pemerintah. 

Bagaimanapun juga, hati kecilnya sebenarnya membenarkan semua ucapan makhluk aneh yang berdiri di depannya. Ia memang melakukan apa yang dikatakannya, tetapi ia tak mau mengalah begitu saja. 

”Hei makhluk pembual. Aku tidak percaya dengan semua bualanmu. Aku perlu bukti!” 

”Bukti?” 

Makhluk aneh itu melemparkan buku yang ada di tangannya. Buku itu mengenai kepala Sudarma yang membuatnya sedikit puyeng karena buku itu sangat tebal. 

Sudarma membuka halaman pertama, dan tertulis dengan jelas kapan ia dilahirkan, di mana ia dilahirkan, dukun yang membantu kelahirannya, siapa orangtuanya, dan tetek-bengek lainnya yang berhubungan dengan kelahirannya. Di halaman berikutnya tercatat kapan pertama kali ia melakukan dosa, dan dosa apa yang dilakukannya, dan kebaikan apa pula yang ia lakukan. 

”Sudah cukup?” 

”Belum, aku harus mengecek semua kebenarannya.” 

Makhluk aneh itu tersenyum mendengar jawaban Sudarma. 

Sudarma membuka halaman lain secara sembarang. Di halaman itu tertulis, dirinya sewaktu SD pernah meminjamkan uang untuk temannya yang tidak membawa bekal. 

”Biar kau tahu makhluk bodoh, aku pernah membantu temanku yang tidak membawa bekal saat sekolah dulu. Seharusnya aku dapat sedikit surga.” 

”Aku tahu itu, dan seharusnya kau membaca kelanjutan catatan itu.” 

Sudarma membaca paragraf selanjutnya. Tercatat ia menagih uang itu dua kali lipat keesokan harinya. 

”Brengsek! Seharusnya aku tidak melakukannya,” Sudarma mengumpat dalam hati. 

Ia menutup buku itu dan membukanya kembali dari halaman belakang. Dan tercatat dengan jelas pula, sehari sebelum meninggal, ia meludahi seorang pemulung yang kedapatan mencuri sepeda rusak yang tergantung di belakang rumahnya. Tapi, dalam dua paragraf berikutnya tercatat sehari sebelum meninggal ia menyumbang untuk pembangunan tempat suci di kotanya. 

”Sehari sebelum meninggal, aku melakukan perbuatan yang mulia. Aku menyumbang untuk pembangunan tempat suci, seharusnya itu bisa menebus dosaku. Ini jelas-jelas tidak adil.” 

”Dan di halaman selanjutnya tercatat, kau meminta panitia yang menerima sumbanganmu untuk mencatat namamu di halaman pertama sebuah koran yang terkenal di kotamu.” 

Begitulah, Sudarma mencermati halaman demi halaman buku itu, dan selalu mengungkapkan kebaikan yang telah ia lakukan dalam hidupnya yang ia temui dalam buku catatan itu, dan semuanya mendapat sanggahan yang membuat dirinya tidak bisa melawan. 

”Apakah bisa diakhiri?” 

”Aku belum membaca semuanya.” 

”Masih ada waktu setengah hari untukmu.” 

Sudarma tenggelam dalam catatan-catatan perjalanan hidupnya, dan makhluk aneh yang berdiri di depannya tersenyum melihat manusia yang keras kepala itu. Dalam sejarah penghakiman manusia atas dosa yang dilakukannya di dunia, baru kali ini ia menemukan manusia keras kepala dan merasa dirinya pantas mendapatkan surga atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. 

”Waktumu habis.” 

”Aku belum membaca semuanya.” 

”Tidak ada waktu lagi.” 

”Lagi setengah hari saja dan aku akan membaca semuanya.” 

”Api di belakangmu akan segera menggulungmu.” 

Ia menoleh ke belakang. Ia bergidik melihat api yang begitu besar. 

”Tunggu dulu, di sini tercatat aku pernah berpuasa, dan melakukan malam penebusan dosa sebagaimana yang dilakukan Lubdaka saat .... ”

Ia belum selesai mengucapkan kalimat itu, dan tubuhnya sudah digulung api yang begitu besar, dan makhluk aneh yang ada di depannya tak mendengar apa pun yang dikatakan Sudarma. 


Keterangan: Lubdaka adalah seorang pemburu yang memperoleh surga karena berpuasa dan melakukan malam penebusan dosa saat Siwa Ratri dengan tanpa sengaja saat ia berburu di tengah hutan. Kisah ini diceritakan dalam kitab Siwaratri Kalpa. 


Supartika memiliki nama lengkap I Putu Supartika, lahir di Karangasem, Bali, pada tanggal 16 Juni 1994. Alumnus Universitas Pendidikan Ganesha, jurusan Pendidikan Matematika. Kini mengelola jurnal sastra Bali modern Suara Saking Bali.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Supartika
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 7 Mei 2017

0 Response to "Gugatan"