Harapan Nun Tak Terjangkau - Aku Khawatir Kau - Jikalau Ku Melupakan Aku! - Doa Paling Setia - Pergi - Perjalanan Waktu - Membaca Tubuhmu - Lebih Baik Aku Diam - Perempuan Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Harapan Nun Tak Terjangkau - Aku Khawatir Kau - Jikalau Ku Melupakan Aku! - Doa Paling Setia - Pergi - Perjalanan Waktu - Membaca Tubuhmu - Lebih Baik Aku Diam - Perempuan Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Harapan Nun Tak Terjangkau - Aku Khawatir Kau - Jikalau Ku Melupakan Aku! - Doa Paling Setia - Pergi - Perjalanan Waktu - Membaca Tubuhmu - Lebih Baik Aku Diam - Perempuan Puisi

Harapan Nun Tak Terjangkau

   Menyayangimu sungguh tak mudah,
engkau memberiku perasaan susah.
Tapi apalah Cinta jika tanpa gelisah?
Ternyata Rindu tak mengenal tetirah.
   Mencintaimu adalah ikhtiar terbaik,
mengolah rasa dengan logika terbalik.
Tidak ada lagi yang benar-benar pelik,
selain belajar mendengar hati berbisik.
   Sering ingin kutinggalkan engkau,
dalam kemegahan asmara nan silau.
Harapan semakin nun tak terjangkau,
sejak memilih hidup di masa lampau.
   Mengasihimu adalah
peristiwa hari ini,
   terus berlangsung dan tanpa henti.
Sebab, bukankah kita pernah berjanji
takkan menyerah walau telah mati?


(2016)



Aku Khawatir Kau

   Apa kabarmu pagi ini, Kekasih?
Secangkir kopi yang kau seduh
Untukku mengendapkan sedih
Ampas terserap sekujur tubuh
   Apa kabarmu pagi ini, Cintaku?
Sebatang tembakau mengasap
Dan bibiku yang rindu kau sesap
Aroma ini meletupkan cumbu
   Apa kabarmu pagi ini, Sayang?
Aku khawatir kau tidak kenyang
Dengan siapakah kau sekarang?
Di sini aku menantimu pulang


(2016)



Jikalau Ku Melupakan Aku!

   Jikalau akhirnya kau melupakan aku,
Ingatkan baik-baik geguritan malam itu:
Daunan merangkai bebunyiian syahdu,
Rerantingnya melupakan irama kalbu.
   Kita terdiam di pelatantaran jiwa
remaja,
Menyeduh airmata lalu meneguknya,
Menerima waktu meski terlambat usia
Lantas berdiskusi tentang makna rela.
   Seandainya duduk di rumah sendiri,
Kita niscaya lekas sepakat menyukai
Ngarai dengan hawa dingin dan sepi
Sebagai taman lubuk bagi kata hati.
   Jikalau akhirnya kau melupakan kita,
Cobalah sesekali mengingkari senja.
Jangan lagi kau arsir garis cakrawala
Dengan warna warni mimpi pecinta
   Ini kuhimpun rekah-rekah kesunyian,
Menjadi diam yang tak berkesudahan,
Lantas kuhapus suara-suara keraguan,
Agar aku siap menjumpai perpisahan


(2016)



Doa Paling Setia

   Apakah air mata melupakan
Kelopaknya sejak membasahi
Liuk-lekuk anak-anak sungai
Usai bibir kita bersentuhan?
   Apakah tangis sesenggukan
Yang kau bisikkan kepadaku
Akan menghilang tanpa ragu
Setelah gigil kita berpelukan?
   Apakah peluh di tubuh kita
Seketika pergi dari kenangan
Sejak kita abadikan kerinduan
Sebagai doa paling setia?


(2016)



Pergi

   Pergiku akan lama
Akan sering tak berjumpa
Jagalah rasa paling berharga:
Cinta yang tak kuat sebatang kara.


(2016)



Perjalanan Waktu

   Hari-hari bersama dirimu,
hari-hari mencipta Rindu.
Dan hari-hari sesudahnya,
hari-hari tersusah kita.
   Malam-malam tanpamu,
malam-malam harubiru.
Malam-malam berikutnya,
malam-malam kalut kita.
   Cinta bukan perbuatan,
Rindu bukanlah perilaku.
Segala yang kita rasakan
adalah perjalanan waktu.


(2016)

Membaca Tubuhmu

   Ingin aku jatuh cinta lagi
pada lekuk tubuhmu yang sepi
yang kubaca dengan denyut nadi.
   Kulitmu kusentuh ujung jari,
lurus berserah kaubawa pergi
aku ke taman di langit tertinggi.
   Di sana, di surga tanpa belukar,
ketika duri t'lah meniada dari mawar,
kita berpelukan di telaga kautsar.
   Ingin aku membacamu lagi,
malam ini ketika tubuhmu sepi,
dan tiada selain aku yang memuji.


(2016)


Lebih Baik Aku Diam

   Aku tak kuasa bicara padamu
Engkau udara yang menelan suaraku
Padahal, sepenuh napas aku
mengirupmu
Dari dalam bahkan enGkau
bisa melumatku


(2016)



Perempuan Puisi

   Perempuan penulis puisi
Engkau memberiku melati
Terima kasih t'lah mengerti
Tentang rasa yang pergi
   Begitulah memang sepi
Tak terkatakan tanpa tangis
Sebab segala yang terlukai
Semakin perih jika kautulis
   Pilihlah sajak-sajak terbaik
Untuk kemudian kaubakar
Biarlah s'gala yang tercabik
Menjadi api bagi tembikar
   Puisiku tungku membara
Seluruhnya menjadi sekam
Luka-luka terus kupelihara
Takkan kubiarkan padam


(2017)



Candra Malik, lahir di Solo, 25 Maret 1978. Buku puisinya berjudul Asal Muasal Pelukan (Bentang Pustaka, 2016). Ia juga menulis cerpen, novel, esai, dan buku bertema sufisme. Tinggal di Depok, Jawa Barat. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Candra Malik
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 30 April 2017

0 Response to "Harapan Nun Tak Terjangkau - Aku Khawatir Kau - Jikalau Ku Melupakan Aku! - Doa Paling Setia - Pergi - Perjalanan Waktu - Membaca Tubuhmu - Lebih Baik Aku Diam - Perempuan Puisi"