Kakekku yang Lain | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Kakekku yang Lain Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:30 Rating: 4,5

Kakekku yang Lain

KAKEKKU yang lain, ayah dari mama yang biasa kami sebut ngoi akong1 (kakek luar) adalah seorang dukun China. Di Bangka, orang-orang memanggil mereka sebagai sinsang. xiansheng2, apabila dieja dalam Mandarin.

Secara umum, xiansheng pada bahasa Mandarin berarti tuan atau bapak dalam bahasa Indonesia. Namun ia dapat juga dipergunakan untuk memanggil guru ( laoshi) 3 dan dokter ( yisheng) 4, atau katakanlah orang berilmu yang dihormati. Begitu pula halnya sinsang dalam bahasa Hakka. Hanya saja, di Bangka, panggilan sinsang sebagai tuan/bapak nyaris tak pernah dipakai. Lazimnya, kami menyapa sesama orang Tionghoa dengan panggilan kekerabatan seperti a suk, a khiu, a pak (paman), a ko (kakak), atau a ku (bung) jika sebaya. Panggilan sinsang dalam bahasa Hakka, di kampung kami, kurang-lebih semakna dengan panggilan sensei dalam bahasa Jepang, dan biasanya kami tujukan kepada para guru sekolah, dokter medis China (yang di Indonesia dikategorikan sebagai tabib dan sering pula disebut sinse), atau ya seorang dukun (nyaris pendeta) seperti ngoi akong.

Kata ibuku, ngoi akong mulai berpraktik sebagai sinsang setelah berhenti bekerja sebagai buruh parit penambangan timah akibat terkena mag akut. Usia akong ketika itu baru sekitar 40 tahun. Karena sebagian anakanak mereka masih cukup kecil, nenek luarku --perempuan berkonde yang selalu mengenakan kebaya encim dengan sarung batik-- akhirnya terpaksa mengambil alih mencari nafkah dengan menjadi pedagang keliling. Ngoi apho5 mengambil pakaian dan kain dari toko-toko di Belinyu atau Sungailiat lalu menjajakannya ke kampung-kampung. Ta Kang Theu6, begitu istilahnya. Dan itu ia lakukan dengan bersepeda, terkadang berjalan kaki berpuluhpuluh kilo sambil menggendong buntalan.

Ya, bisa aku bayangkan kehidupan mereka yang tak gampang pada masa itu. Tetapi janganlah salah sangka, akong tidak pernah meminta bayaran apa pun dari orang-orang yang datang memohon bantuannya. Hanya saja, jika diberi, ia ambil. Jumlahnya pun terserah kepada si pasien. Kadang banyak, kadang sedikit. Semua akan diterima akong dengan penuh syukur. Bahkan untuk orang-orang yang diketahuinya memang kurang berpunya, akong selalu mengembalikan uang mereka. Cuma mengambil kertas merah pembungkusnya saja untuk menghargai niat tulus mereka.

’’Kita tak boleh menyusahkan orang yang sudah susah. Tidaklah baik mencari keuntungan dari penderitaan orang lain. Para dewa akan marah. Akan ada karma,” ujar akong suatu kali. Kepada siapa, aku sudah lupa, tapi masih jelas terekam dalam ingatanku.

’’Kemuliaan hati” ngoi akong membantu orang tanpa pamrih inilah yang membuat namanya terkenal luas ke mana-mana, tak cuma di kampung Parit Empat dan daerah sekitarnya. Dan orang-orang selalu mengenal mama sebagai anak perempuannya. Begitu pula dengan diriku yang hanyalah salah satu cucu luar. ’’Oh! Cucunya Chen Sinsang!” begitulah kata orang-orang setiapkali aku menyebut nama ibuku.

Penampilannya senantiasa mengenakan celana ikat dan lebih sering tak berbaju, dengan badan yang kurus-jangkung dan janggut putih memanjang (yang kerap dielus-elusnya saat sedang berbicara) membuatku suka membanding-bandingkan sosok ngoi akong dengan para pendekar tua dalam film-film wuxia yang kutonton di bioskop atau para pertapa suci dalam cerita-cerita mitologi China yang didongengkan papa atau kakekku yang satu lagi. Ya, sosok dengan moralitas China lama yang rasa-rasanya memang hanya ada dalam dongeng-dongeng klasik. Karakter yang, kau tahu, sudah langka, sekalipun pada zaman kanak-kanakku. Namun demikian, kami --aku, keluarga besarku, dan orang-orang yang kenal pada akong-- mengenang sosok dirinya.


*** 
NGOI akong bukanlah seorang pelaku ritual Tiao Thung yang lazim disebut Thung Se7 seperti ketiga anak lelakinya, paman-pamanku. Tetapi ia membantu orang-orang berdasarkan pengetahuannya yang luas mengenai dunia gaib, alam ruh, dengan petunjuk dari kitab Thung Su8 dan Sam Se Su9.

Yang pertama adalah almanak China kuno yang telah dipergunakan selama berabad-abad dalam tradisi agraris peradaban Tiongkok dan terus diperbarui setiap tahun. Boleh dikatakan kitab ini merupakan semacam percampuran antara primbon dan tambo, dengan konsep dan perhitungan yang demikian rumit dan komplet perihal ruang-waktu. Termaktub di dalamnya antara lain metode ramalan ala Zhuge Liang yang termashyur.

Aku sempat membeli kitab ini di Hsinchu, Taiwan, saat diajak temanku Ajoku Lee menghadiri perayaan Yimin Chiat10 pada bulan Agustus 2016. Namun yang kubeli tersebut merupakan edisi Taiwan. Sedangkan yang dipakai oleh ngoi akong adalah edisi Hongkong yang dengan mudah diperoleh di daerah Glodok. Kedua edisi ini memiliki perbedaan yang berarti. Edisi Taiwan tidaklah akurat dipakai di Nusantara lantaran perkara zona waktu cukup menentukan. Dalam sebuah obrolan di Facebook beberapa waktu silam, penyair Tionghoa Bali Tan Lioe Ie bahkan pernah menunjukkan padaku versi ringkas kitab ini dalam terjemahan bahasa Indonesia yang kukira tak bisa dipergunakan…

Sementara itu kitab kedua, Sam Se Su, secara harfiah berarti Kitab Tiga Kehidupan. Apabila Thung Su dipengaruhi oleh Taoisme, Sam Se Su jelas mengandung ajaran Budhisme yang kental. Tiga kehidupan yang dimaksud di sini adalah alam fana, alam baka, dan alam nirwana, dengan lingkaran waktu yang terus-menerus berkesinambungan, nyaris tak berkesudahan sebelum mencapai ’’pencerahan”.

Karena itu, untuk membaca, memahami, dan mempergunakan petunjuk dari kedua kitab ini tidak gampang. Selain memerlukan kecakapan dalam bahasa Mandarin (dan Hakka), juga dibutuhkan pengetahuan yang memadai mengenai astrologi China, mata angin, kelima unsur alam (api, air, udara, tanah, dan logam) yang semuanya saling kaitmengait, lengkap-melengkapi.

Ya, dengan berpegang pada kedua kitab itulah ngoi akong menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan para siluman, mengadakan kontak dengan orang-orang yang sudah meninggal, mencarikan hari baik untuk pernikahan-pemakaman atau mereka yang ingin membuka usaha, membuang sial dan sengkala, menentukan posisi rumah, dan kadangkala meramal nasib (meski yang terakhir ini jarang sekali ia lakukan).

Kepada orang-orang yang datang memohon bantuannya, biasanya (walaupun tidak selalu) ngoi akong memberikan mereka phu (atau). 11 Akong menulis banyak phu, dan aku suka sekali memperhatikannya menulis phu di kelenteng kecilnya yang terletak di sudut kiri halaman depan rumahnya. Kelenteng kecil itu dibangun dari papan dan beratap genteng, hampir seusia rumah tua yang akong dan apho tempati bersama paman bungsuku beserta anak-istrinya.

Ada tiga buah kamar di rumah ngoi akong. Dua orang pamanku yang lain beserta anak-istri mereka juga pernah tinggal di sini sebelum mereka berhasil membangun rumah sendiri di sisa tanah pekarangan akong yang lumayan luas, di mana seorang saudara mereka, yakni paman tertuaku sudah terlebih dulu mendirikan rumah.

Akong tak pernah membeli tanah. Tanah itu dulunya hutan tak bertuan yang ditebasnya sendiri semasa muda. Pada masa itu, siapa pun boleh menebas hutan untuk kebun atau membangun rumah. Siapa yang dulu menebas, dialah yang punya. Maklum, kendati hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari Kota Kecamatan Belinyu, selama bertahun-tahun lamanya kampung Parit Empat tergolong daerah terpencil. Tanpa akses jalan beraspal, tanpa listrik. Barulah pada tahun 2000-an jalan diaspal oleh pemerintah dan PLN masuk untuk menancapkan tiang-tiang…

Hm, masih segar dalam ingatanku, bagaimana dengan sebatang kuas China yang dicelupkan ke dalam botol tinta merah buatan sendiri, tangan akong bergerak begitu lincah membuat goresan-goresan di atas tiga lembar kertas kuning yang diletakkannya berjajar di atas meja di depan altar Dewa Khi San Lo Mu. Banyak Thung Se menulis phu menggunakan darah (dari lidah yang ditusuki jarum) dalam keadaan sedang trance dirasuki dewa. Namun untuk menulis phu-phu-nya, ngoi akong cukup menanyakan nama dan tanggal lahir para pasien (jika boleh disebut demikian), ditambah jam lahir apabila itu diketahui, lantas membuka Thung Se atau Sam Se Su.

Ada beragam cara penggunaan phu. Tetapi, umumnya, ketiga lembar phu dari ngoi akong yang diberi nomor itu dibakar di atas gelas berisi air putih secara berurutan. Satu lembar diusapkan ke muka dan dada, lembaran kedua diminum beserta ampasnya, dan lembar terakhir dicampurkan ke dalam ember atau bak untuk dipakai mandi. Ada pula phu yang ditempel di atas pintu rumah atau pintu kamar sebagai penangkal bala dan ruh jahat, dan ada yang dilipat lalu dibungkus kain merah untuk dipakai di balik pakaian dengan peniti.


*** 
AKU sendiri pernah mengenakan phu yang dibungkus kain merah (dijahit dalam bentuk segitiga) sampai umur 13 tahun. Aku sudah lupa pada usia berapa aku mulai memakainya, tapi yang jelas setelah aku sembuh dari penyakit misterius yang (maaf) membuat ’’burungku’’ tiba-tiba menciut pada tengah hari.

Konon, menurut ngoi akong, aku digoda oleh Siluman Beringin berwujud sesosok gadis cantik yang berdiam di hutan belakang deretan ruko kami. Siluman ini memang sudah kerap mengganggu orang-orang. Ada seorang tukang daging babi yang mati tanpa sebab musabab sehari setelah ia melihat penampakan gadis itu dan membalas senyumnya yang menawan. Ibuku sendiri (dengan bakat melihat makhluk halus) pernah berkali-kali memergokinya memasuki dapur kami lalu menghilang di balik tungku. Jadi, bungkusan phu- ku itu adalah semacam azimat penangkal, dan lucunya aku sering mengenakannya bersama-sama dengan rosario pemberian pastor Belanda. Ibuku percaya, keduanya ditakuti oleh ruh jahat.

Sudah tak bisa dihitung lagi berapa sering aku minum ampas phu. Nyaris setiapkali aku sakit, mama selalu memaksaku menemui ngoi akong. Obat toko, obat herbal, obat dokter, obat tabib (papa lebih suka menyebut yang terakhir: dokter China!) hanya bisa mengobati penyakit fisik, tetapi takkan mampu mengatasi sakit akibat gangguan makhluk halus --demikian kilah mama berkeras.

Entahlah dari mana dan dari siapa, ngoi akong belajar membaca kitab Thung Su dan Sam Se Su. Mama tidak pernah cerita, akong sendiri juga tidak. Tak seperti cin akong12 --kakekku yang di Belinyu, ngoi akong jarang berkisah dan tak pernah mendongeng untukku. Ia juga tidak membaca koran dan tak pernah terdengar membicarakan politik dengan siapa pun. Sejak tak lagi sanggup berkebun, ia lebih banyak bersantai di rumah jika tidak kedatangan ’’pasien”. Setiap pagi ia akan duduk-duduk di bangku kayu panjangnya di teras sambil mengisap lintingan tembakau ditemani segelas arak putih.

Dugaanku, ngoi akong tak pernah mendapatkan pendidikan China modern seperti anak-anak lelakinya, dan jelas tak mungkin menempuh pendidikan klasik Empat Kitab Lima Pustaka. Barangkali dulu ia hanya belajar baca-tulis sekadarnya di sekolah-sekolah China rendah yang --menurut data yang berhasil kuhimpun belakangan ini-- telah tersebar di banyak permukiman Tionghoa sebelum Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) didirikan di Belinyu pada tahun 1908.

Sejujurnya aku memang tak tahu banyak tentang masa lalu ngoi akong. Mama hanya pernah bercerita kalau semasa muda ayahnya pernah belajar kanuragan dan ilmu kesaktian Mao San13. Ia berlatih pukulan Telapak Petir, kata mama ketika itu, yang membuatku tercengang dan seketika teringat buku-buku cerita silat populer yang kusewa di kios bacaan samping bioskop Gelora. Ya, sampai suatu hari ngoi akong menguji pukulan saktinya itu pada sebatang pohon duku…

’’Batang duku itu hangus menghitam keesokan paginya seperti terkena sam baran petir, dan seorang kakakku meninggal tak lama berselang. Sejak itulah kakekmu memutuskan membuang ilmunya…,” kenang mama dengan nada getir. Sekali lagi aku tercengang.

Banyak orang yang sudah mati juga mendatangi ngoi akong untuk meminta bantuannya menyampaikan pesan kepada keluarga mereka yang masih hidup atau sekadar berkeluh-kesah. Umumnya mereka adalah arwah para tetangga, kenalan, atau yang masih terhitung sebagai kerabat kami. Tetapi sesekali ada juga arwah orang-orang yang tak dikenal oleh akong semasa mereka masih hidup. Kemunculan arwah-arwah itu biasanya menjelang dinihari ketika akong bangun untuk buang air kecil dan minum. Mereka menunggu dan menampakkan diri kepada akong di dapur. 

Tidak semua arwah itu di tanggapi oleh akong. Terutama arwah-arwah yang agak menjengkelkan, yang muncul terus berulang-ulang dan mengeluhkan masalah itu-itu juga atau yang datang hanya untuk mengomel tidak keruan. Namun selebihnya mereka bersikap cukup sopan. Karena itu akong selalu mencoba mendengarkan mereka seperlunya lalu meminta mereka pergi baik-baik setelah berjanji akan menyampaikan pesan mereka. 

Aku dan mama yang tidur sekamar dengan akong dan apho (di ranjang kecil di depan kepala ranjang besi akong) atau di dipan ruang tengah jika cuaca agak panas, kerap ikut terbangun. Maklum, kadangkala arwah-arwah itu lumayan berisik, bahkan ada sebagian kecil yang suka berbuat gaduh: membanting pintu atau menjatuhkan pancipanci dari gantungannya di dinding dapur.

’’Sssttt… Itu cuma tikus, tidurlah lagi,” bisik mama sambil mendekapku. Tetapi aku tak mudah percaya begitu saja. Dari suara mama yang agak kecut, aku tahu kalau ibuku berbohong. Lagi pula bulu kudukku terasa berdiri. Maka aku menutup wajahku dengan selimut dan dalam kegelapan samar-samar aku mendengar suara ngoi akong bercakap-cakap dengan seseorang di dapur.

Rasa takut ternyata tak mampu mengalahkan rasa penasaranku. Suatu hari aku tidak bisa lagi menahan diri dan bertanya pada paman bungsuku tentang apa yang terjadi.

’’Kakekmu kedatangan tamu,” jawab paman kalem. Dan aku terus mendesaknya, hingga akhirnya ia pun mengalah dan memberitahuku: ’’Itu hantu-hantu…” Aneh, alih-alih takut, saat itu aku malah merasa takjub. Aku tahu paman kemudian diomeli oleh nenekku karena menceritakan ’’kenyataan” yang tak baik diberitahukan kepada anak kecil.

Toh, pengalamanku dengan arwah-arwah di rumah ngoi akong tidaklah sampai di sini saja. Berkali-kali kemudian aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ngoi akong melakukan semacam ’’ exorcism”, pengusiran hantu. Tak seheboh film-film Hollywood atau sinetron horor ala Indonesia, akong biasanya hanya mengajak mereka berkomunikasi, menanyakan kenapa mereka mengganggu orang hidup. Kali ini, tentu saja, mereka menjawab akong lewat mulut orang-orang yang dirasuki: para tetangga, orang-orang jauh, dan (sekali) salah seorang bibiku!

Ada beragam alasan yang diberikan arwaharwah itu. Ada yang marah lantaran istrinya menikah lagi, ada yang merasa belum ingin mati, ada pula yang mengaku saat sakit tidak diurus dengan benar oleh menantunya, ada juga yang kecewa karena rumah warisannya dijual. Tetapi kebanyakan dari mereka mengaku merasa diabaikan oleh keluarganya: makamnya jarang diziarahi oleh anak-anaknya atau bahkan tidak lagi disembahyangi.

’’Aku lapar, tidak punya uang, tidak punya baju baru. Putraku tidak pernah lagi membakar uang arwah dan pakaian untukku sejak ia masuk Kristen! Aku malu harus berhutang terus di alam sana...” Begitulah kurang-lebih pengakuan salah satu arwah lewat mulut ’’pasien” ngoi akong yang masih kuingat. Sebagian dari mereka menangis dan meratap-ratap memilukan saat disuruh pergi oleh akong. Tetapi yang paling susah diusir adalah mereka yang mati bunuh diri. Sehingga untuk jenis yang satu ini, akong terpaksa bertindak lebih tegas: membentak mereka dan mengancam akan membakar phu di atas kuburan mereka jika mereka tidak mau keluar.

Bertahun-tahun kemudian, setelah ngoi akong meninggal, aku melihat paman bungsuku, dalam keadaan tengah dimasuki oleh dewanya, mengusir arwah yang merasuki salah seorang sepupuku dengan pedang tajam mengilap…


*** 
KAKEKKU dari Belinyu terkadang datang mengunjungi besannya. Kedua akong-ku itu selalu tampak akur dan akrab. Yang satu rasionalis pengagum Mao yang ’’bertobat” jadi murid Kristus, sementara yang lain lelaki berjenggot panjang yang berkaul kepada para dewa China; yang satu China totok, yang seorang lagi China peranakan. Lucu rasanya jika diingat-ingat kembali sekarang. Namun keduanya tak pernah terlibat dalam perdebatan apa pun. Biasanya mereka cuma duduk-duduk mengobrol santai di teras sambil ngopi. Keduanya agaknya memang sama-sama berusaha mengelakkan pembincangan yang bakal menjurus kepada perbedaan.

Tetapi satu hal yang pasti, cin akong tak pernah mau berada dekat-dekat dengan kelenteng kecil itu. Terlebih jika kebetulan di sana salah satu pamanku sedang melakoni ritual Tiao Thung. Atau, apabila ngoi akong kedatangan ’’pasien”, ia akan bergegas menjauh dengan berpurapura mencari tempat yang nyaman buat merokok. Sampai kini aku tidak tahu apakah hal itu merupakan ekspresi imannya, atau hanya semacam penolakannya terhadap dunia mistik yang dilarang oleh Gereja Katolik Roma.

’’Kalau ada akong di dekat kelenteng, dewanya tidak bakal mau datang,” demikianlah jawaban cin akong saat kutanya suatu hari. Namun ketika ia jatuh sakit parah pada umur 60-an, ngoi akong pun bergegas membuka kitab Sam Se Su untuk mencari petunjuk. Dan tatkala menemukan bahwa ajal besannya itu ternyata sudah mendekat, ia berupaya keras untuk menggeser garis waktu. Hasilnya: cin akong kembali segarbugar sampai belasan tahun kemudian.

Aku sedang berada di dalam kelas mengikuti pelajaran ketika seorang guru memanggilku ke kantor dan memberitahu kalau ngoi akong meninggal dunia. Aku tidak begitu ingat, apakah saat itu aku kelas tiga atau kelas empat. Akong tidak sakit. Ia boleh dikatakan jarang sekali sakit, meskipun usianya sudah 92 tahun dan anak-anaknya selalu mencemaskan kesehatannya karena kebiasaannya merokok dan minum arak.

Ngoi akong meninggal karena tersedak kue thiam pan14 pada Perayaan Thian Chon Ngit15. *** 


Krapyak Wetan, Jogjakarta, Maret 2017


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 14 Mei 2017

0 Response to "Kakekku yang Lain"