Khalwat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Khalwat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Khalwat

AWALNYA, ia melangkah tanpa keraguan dari ruang makan ke kamarnya namun sesaat sebelum tangan kanannya meraih gagang pintu, ia berhenti, menoleh ke arah ibunya yang duduk menatapnya dari kursi ruang makan, seakan ada beban luarbiasa yang menggelayutinya. Itu, kurang lebih, yang dikatakan sang ibu kepadaku kemarin, sebuah deskripsi singkat sebelum ia memutuskan berkhalwat, sewaktu aku dan sang ibu bertemu di supermarket tak jauh dari pondokanku di daerah Ngagel, Surabaya. 

“Lihatlah,” kukutip utuh-utuh ucapan sang ibu, “Betapa yang terjadi di Jakarta, mengganggu kehidupan orang biasa seperti kami yang tinggal di Surabaya,” tambahnya. Aku melihat mata perempuan itu memerah. Reflek, aku mengulurkan tisu yang selalu tersedia di kantongku. Tapi beliau menolak. Kerutkerut di sekitar mata dan bibir beliau beranak pinak secara luarbiasa dalam beberapa bulan terakhir. “Aku hanya ingin ini segera berakhir,” kata beliau lagi sebelum taksi online tiba dan membawanya pergi. Aku menitipkan salam untuknya dan sang ibu berjanji akan menyampaikan salam itu begitu waktunya tepat. 

Aku kembali ke pondokanku, membuka semua akun media sosial yang aku punya melalui ponsel pintarku, mencoba menemukan akunnya. Tapi percuma. Dulu, di sekitaran Januari, ketika selama beberapa hari aku tidak menemukan postingannya di media sosialku, yang membuatku penasaran dan mencoba mencari namanya tapi tak menemukan apa yang aku harapkan, aku mengira telah berbuat keliru kepadanya dan ia memblokir semua akun media sosialku. Kecurigaanku bertambah-tambah lantaran ia juga tidak pernah muncul di Liberia, di mana kami pertama bertemu dan berkenalan dan selanjutnya lebih banyak berjumpa. 

Namun kesibukan datang silih berganti membuat aku melupakannya untuk sesaat. Lagipula, media sosial menghadirkan banyak unggahan dari sekian banyak orang yang membuat ketidak-hadirannya tak ubahnya dengan peristiwa jatuhnya sehelai daun di Taman Bungkul; sepele dan seakan tak mengubah apa-apa. 

Namun daun yang jatuh adalah daun yang jatuh. Ia pernah ada untuk kemudian tak ada. Dan itu berarti perubahan, sekecil apa pun artinya. Pertemuanku dengan ibunya di supermarket membuatku merenungkannya kembali. Dan cerita sang ibu, kini, ketika aku hendak tidur di pondokanku yang pengap, mengiang-ngiang di telingaku. 

Aku tahu riwayatnya berdasarkan ceritanya sendiri. Ia seorang lelaki sepantaran denganku, pindah ke Surabaya dari Lamongan pada tahun 2013, sebulan setelah sang ibu berpisah dengan bapaknya karena tak mau dimadu. Berbekal pendidikan yang layak dan nasib baik, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi yang berkantor di Jalan Kayoon. Aku tak tahu apa jabatannya, namun sepertinya gajinya lumayan. Liberia bukanlah kafe dengan harga espresso yang terjangkau kantong pegawai rendahan. Setidaknya, dalam seminggu, ia tiga kali nongkrong di sana, asyik dengan buku-buku dan gawainya yang berganti-ganti menyita perhatiannya. Empat kali kami duduk di meja yang bersebelahan di ruang merokok, dan pada pertemuan kelima, kami terlibat pembicaraan ringan menyangkut buku-buku terbitan penerbit indie yang marak belakangan ini. 

Rasa-rasanya, hanya buku dan perkembangan dunia literasi yang menarik minatnya. Ia fasih berbicara perihal novel-novel Pramoedya Ananta Toer atau Eka Kurniawan dan puisi-puisi Joko Pinurbo, dan tampak menghindar ketika aku menyinggungnyinggung soal politik. Di kemudian hari, ketika semua akun media sosial kami telah terhubung, aku melihat lini masanya dipenuhi unggahan-unggahan soal literasi belaka dan kebanyakan temannya adalah pedagang buku, penulis, serta penerbit. 

“Ia ingin berkhalwat sampai semua ini selesai,” kata ibunya tadi di supermarket. “Ia benci menyaksikan kawan-kawannya saling mencaci.” 

Aku tak menduga ia akan melakukan hal sejauh itu. “Sebelumnya, ia menutup semua akun media sosialnya. Dan ia bahkan berhenti kerja,” tambah ibunya. 

“Berhenti kerja?” aku mengulang, hampir tak percaya. Aku tahu bahwa dialah satu-satunya penopang kehidupannya beserta ibunya. “Lalu?” 

“Ya mau bagaimana lagi? Ibu sekarang jualan jilbab online. Ia sesungguhnya juga tak menyukai apa yang ibu lakukan. Kau tahulah apa pendapatnya tentang itu. Apalagi sejak ribut-ribut akhir-akhir ini. Agama, uh... menurutnya telah berubah jadi barang dagangan. Tapi mau apa lagi? Kalau tidak begitu, bagaimana kami bertahan hidup. Ia benar-benar tidak mau keluar dari kamarnya. Ia tidak mandi, tidak berbicara dengan ibu. Setiap hari ibu mengetuk pintu kamarnya hanya untuk mengantarkan makanan. Ia tampak kurus dan tidak terawat. Rasa-rasanya, bajunya pun juga sudah lama tidak ganti. Rambutnya awut-awutan, cambang dan jenggotnya juga tumbuh sembarangan,” jawab sang ibu. 

Secara singkat, dapat kukisahkan kepadamu berdasarkan cerita sang ibu bahwa ia, temanku itu, satu-satunya hal yang ia kerjakan di dalam kamarnya adalah menghitung waktu. Ia menatap pergerakan detik jam tangannya, mengamati baik-baik pergantian tanggal, dan mendesah dengan suara-suara yang tidak jelas. Sekali waktu, ia berteriak-teriak histeris meminta ibunya mematikan televisi, atau setidak-tidaknya, menurunkan volumenya hingga suara televisi itu tidak sampai ke kamarnya. 

“Ibu sedang nonton berita Buni Yani,” kata ibunya. 

Ibunya kemudian juga melanjutkan bahwa ia pernah keluar dari khalwatnya. Itu terjadi pada tanggal 15 Februari, sewaktu di Jakarta, orang-orang sibuk menunaikan hak pilihnya. Ia tidak menyentuh gawainya, namun ia tersenyum, mandi, ganti baju, dan makan banyak-banyak. Jam 9 malam, ia menumpahkan hasratnya bertemu keramaian yang telah diredamnya untuk jangka waktu yang lumayan panjang dengan pergi ke sebuah bar di Embong Kaliasin dan tiga jam kemudian, ia kembali pulang dengan muka lesu, jauh lebih lungsur dari sebelum ia memutuskan untuk berdiam dalam khalwatnya yang pertama. 

Di bar itu, kata sang ibu, ia baru mengetahui, berdasarkan hasil hitung cepat, bahwa pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran. Dan dua lelaki mabuk terlibat baku pukul. Yang satu berulang meneriakkan frasa membela agama, yang lain, yang tak kalah mabuk, berbicara tentang kebhinekaan dan ketegasan seorang pemimpin. Itulah menu pembicaaan terakhir antara dirinya dan sang ibu. Ia kemudian pergi ke kamarnya, menempuh khalwat sesi duanya hingga pilkada Jakarta ini benar-benar berakhir. “Ia tak peduli siapa pemenangnya. Ia tak pernah tertarik dengan hal itu. Tapi kau tahu lah...” 

Aku tahu, tentu saja. Aku tahu sepasang kekasih di Mojokerto berpisah karena yang satu menyukai Ahok dan yang lain mendewakan Agus Yudhoyono, aku tahu penghuni kamar pondokan di sebelah kamar pondokanku memutuskan pindah lantaran ia menyukai retorika Anies Baswedan dan rekan sekamarnya menganggap ucapan Ahok di Kepulauan Seribu dipelintir oleh Buni Yani, aku tahu seorang ayah di Jombang berkelahi dengan anaknya karena sang anak melarangnya pergi ke Jakarta untuk berpartisipasi dalam aksi 212, aku tahu bagaimana orang-orang lebih pintar memaki di media sosial dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Dan kini, aku tiba-tiba dilanda ketakutan bahwa khalwatnya mungkin saja belum akan berakhir meski pilkada Jakarta telah selesai. Tak peduli siapa pemenangnya. Kebencian dan caci maki itu, rasanya, akan selalu menemukan jalaran untuk keluar. Sesaat sebelum terlelap, aku mencoba menghitung berapa jarak antara Surabaya dan Jakarta. ❑-e 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 14 Mei 2017

0 Response to "Khalwat"