Laki-laki Senja dan Aku, Si Pemancing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Laki-laki Senja dan Aku, Si Pemancing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:54 Rating: 4,5

Laki-laki Senja dan Aku, Si Pemancing

AKU, Si Pemancing

Aku mulai kisah ini dari diriku sendiri. Benar, banyak orang menduga aku laki-laki si penderita. Karena mereka bilang hidupku tak berpunya. Memang, jika tetanggaku memiliki rumah mewah, atau agak mewah, aku rumah bertipe seadanya: ukurannya sangat cocok untuk rumah tipe RSS. Mereka memiliki mobil, atau honda misalnya, aku hanya sepeda kayuh keluaran tahun lama pula. Beberapa kali mereka menyindirku supaya mengganti kendaraanku itu dengan honda keluaran terbaru. Kalau tidak Meo, Vega R, atau Honda Supra, tapi begitulah aku, laki-laki si pemancing tetap tak mau tahu.
“Aku rasa, Pak Kusin bisa membeli honda, kenapa harus bertahan dengan sepeda kayuh itu,” celoteh Kahar temanku yang sama-sama bekerja di kantor kelurahan. Mungkin dia sudah bosan melihat penampilanku.

“Aku menikmati hidupku dengan sepeda itu,” jawabku santai.

“Tapi sudah ketinggalan zaman. Orang sudah berganti-ganti membeli honda kenapa masih bertahan dengan sepeda kayuh, kan tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Sepeda kayuh itu membuat hidup begitu lamban. Kalau tidak bisa membeli langsung, dikreditkan bisa, pak.”

“Ah, kalau soal kredit mengkredit, itu bukan tipeku, Kahar. Biarlah aku tak punya daripada mengkredit. Kalau soal lambat, perasaan belum pernah aku terlambat masuk kantor. Iya kan?”
“Ya, sih.”

“Tapi, apa tidak capek mengayuh sepeda?”

“Capek? Ah, tidaklah.”

“Apa bapak tidak bosan?”

“Tidak juga.”

“Tidak?”

“Ya.

“Bagaimana kalau bepergian bersama keluarga, apa mereka dibonceng di atas sepeda?”

“Keluargaku tidak suka bepergian, Har. Jika kami pun pergi bersama-sama, kami lebih suka naik angkot.”

“Ah, heran saya,” jawabnya sambil menggeleng kepala. Lalu dia diam. Memperhatikanku yang lagi sibuk mengetik daftar nama-nama warga hari itu di kantor kelurahan tempatku bekerja.

Begitulah aku menjalani hidup, penuh dengan kesederhanaan. Dan aku selalu menikmatinya. Tidak, tidak aku saja, tapi istriku juga dan dua orang anak perempuanku. Dia seorang istri yang benar-benar mempunyai selera yang sama. Tidak banyak menuntut. Menerima aku apa adanya. Pada kedua anak kami, selalu kami tanamkan sifat kesederhanaan itu. Mereka tidak boleh terpengaruh dengan modernisasi: bila kawan-kawan mereka selalu memiliki handphone yang mewah karena selalu mengikuti model baru, anak kami tidak boleh seperti itu. Mereka juga kami larang agar tidak suka pergi ke pusat perbelanjaan, karena di sana hanya penuh dengan godaan barang-barang mewah yang menyesatkan. Mereka kami anjurkan agar hidup hemat. Tidak suka berfoya-foya. Mereka juga kami anjurkan agar betah di rumah sehabis pulang sekolah, kalau tak mengaji ya membaca buku pelajaran. Dan alhamdulillah, mereka patuh pada kami. Tidak seperti anak-anak zaman sekarang: suka membangkang perintah orang tua.

Sungguh, kami sangat menikmati hidup dengan gaya seperti itu. Kami selalu mensyukuri karunia Tuhan yang telah Dia berikan pada kami. Tidak pernah kami mengumpat, mengapa kehidupan kami tidak seperti tetangga yang bergelimang harta. Istriku pun tak pernah mempersoalkan mengapa gajiku sebagai pegawai kelurahan tidak terlalu besar, karena ia tahu aku hanya tamat es-em-a dengan jabatan yang tidak terlalu tinggi. Aku merasakan hidup begitu indah. Apalagi istriku sangat mengerti hobiku: memancing ikan di muara.

Biasanya, sehabis pulang dari kantor aku akan pergi ke muara. Muara itu berupa pertemuan antara air laut dan air tawar. Memang sore hari akan banyak orang memancing di sana. Dan biasanya, bila waktu magrib akan tiba, baru aku akan pulang ke rumah.

Para tetanggaku, sering pula mencemooh tentang hobiku itu. Mereka menganggapku melakukan pekerjaan tak berguna. Lebih baik waktu digunakan untuk keluarga, katanya. Tapi aku, laki-laki si pemancing selalu menampik dugaan mereka.

“Memancing melatih hati kita lebih bersabar,” jawabku ketika Pak Salim yang bekerja sebagai kepala sekolah yang tinggal di depan rumah kami mencemooh suatu hari.

“Ah, mana bisa. Kalau karakternya memang sudah penyabar, ya tetap penyabar. Atau, memang Pak Jahir tak bisa penyabar lalu sampai kini terus belajar?” ujarnya terkekeh.

Dan aku juga terkekeh mendengar celotehnya. Menikmati lelucon itu, tapi Pak Salim seperti heran: mengapa aku tak marah? Bagiku buat apa marah. Toh, marah hanya membuat kita akan naik darah. Lalu penyakit darah tinggi kambuh. Biarlah dia menduga-duga tentang hidupku sendiri. Yang terpenting dari semua itu aku menikmatinya. Ya, menikmatinya.

***

Laki-laki Senja


Kini tentang laki-laki senja. Aku sungguh tak tahu namanya hingga sampai hari ini. Sejak berkenalan hingga kami begitu akrab, tidak pernah kami memperkenalkan nama diri. Entah mengapa begitu. Sungguh sampai kini aku tak tahu jawabannya. Mungkin kala itu kami terlalu larut dengan kebersamaan kami: sibuk dengan ikan, air yang tenang, umpan pemancing yang sering habis dimakan ikan tetapi ikannya selalu lepas. Atau, karena kami juga terlalu sibuk menertawakan kebodohan orang-orang yang melintasi jalan tempat kami memancing. Memang, setiap kami melihat wajah mereka di saat mengendarai mobil atau honda roda dua misalnya, kami sama-sama melihat ada keterburu-buruan di sinar mata mereka. Lalu kami menertawai mereka. Mempergunjingkan mereka. Mengapa begitu sesibuk itu diburu waktu? Sungguh, di mata kami mereka begitu bodohnya.

“Lihat mereka itu, sibuk sekali, entah apa yang mereka kejar. Cepat sekali dilajunya kendaraannya. Kasihan mereka, ya,” celotehnya.

“Ya, maka berbahagialah kita,” jawabku pula.

Begitulah si laki-laki senja itu kini, dia telah kena candu memancing. Dulu, kau tahu? Dia tidaklah seperti itu. Aku pertama menemukannya dalam keadaan muram. Seperti berjuta-juta kesedihan di raut wajahnya. Dia termenung di tepi ujung muara ini. Di saat pertama terpikir olehku: mengapa ada laki-laki seusiaku itu memendam kesedihan di wajahnya? Tidakkah itu begitu cengeng? Atau, begitu beratkah derita yang ia alami sehingga ia terlihat begitu bodoh?

Aku lalu bercengkerama dengannya. Membicarakan tentang laut: nelayan yang melempar jala, ombak di pantai yang ramah serta pulau-pulau yang terlihat menyembul dari laut. Dan dia menyambut keberadaanku dengan kegirangan. Lalu aku mengajaknya memancing.

“Dalam hidupku baru pertama kali ini aku memancing. Selama ini tak pernah,” ujarnya.

“Benarkah?”

“Ya. Habis selama ini aku tak punya waktu untuk itu. Lagian, memang tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa sebagian waktuku akan kuberikan untuk memancing.”

“Betapa malangnya,” ujarku lagi.

“Ya, betapa malangnya. Baru kurasakan kenikmatannya duduk sambil melempar pancing. Di sini bisa kulupakan kesulitan hidup. Kepala yang pusing bisa hilang di sini. Mungkin ikan-ikan di laut ini yang melarikannya ke tengah samudra yang jauh itu,” jawabnya tersenyum.

“Ya, ya.”

“Mengapa tidak semenjak dulu kita berkenalan. Tentu aku tidak akan bertahun-tahun dirajam kesedihan.”

“Kesedihan. Ham, bisakah kau ceritakan kesedihan itu di sini?”

“Sebenarnya aku sudah bisa melupakannya. Tapi hanya di sini, ketika aku memancing. Nanti bila sampai di rumah, kesedihan itu akan muncul lagi. Oleh sebab itu aku ingin saban hari di sini, biar kesedihan itu tak akan aku rasakan lagi.”

“Begitu beratkah beban itu?”

“Entahlah, soal perempuan memang membuat kepalaku begitu rumit.”

“Kamu bertengkar dengan istri?”

“Bukan bertengkar. Tapi kami telah bercerai dua tahun yang lalu. Dan aku tak bisa melupakannya semenjak itu.”

“Masih mencintai mengapa dicerai?”

“Dia berselingkuh dengan laki-laki lain.”

“Berselingkuh? Ah, zaman sekarang sudah edan. Tidak lagi laki-laki yang berselingkuh.”

“Mungkin kesalahanku juga. Ketika kawin dulu istriku berusia muda. Kala itu aku sudah tiga puluh lima dan dia baru sembilan belas tahun. Mungkin di matanya aku sudah tua. Ya, mungkin aku memang sudah tua. Usiaku kini sudah lima puluh dua.”

“Sudah tak kuat ya,” tanyaku tersenyum.

“Ya, ya, ya. Tidak seperti muda lagi, he he,” jawabnya tersenyum.

Mungkin tiga bulan lebih kami selalu memancing bersama-sama di muara itu. Menikmati kebersamaan dengan penuh keceriaan. Dia seperti sangat bahagia. Mungkin benar katanya, di sini, kesedihannya seperti dibawa lari oleh ikan-ikan ke samudra lepas sana.

***
Tapi, suatu hari, dia tidak datang. Saat itu aku benar-benar merasa kehilangannya. Aku merasa kesepian tanpa kehadirannya. Aku merasa butuh keberadaannya. Lalu kucari namanya di handphoneku. Di handphoneku itu kutuliskan inisialnya dengan sebutan Laki-laki Senja.

“Hallo, kenapa tak datang?” tanyaku penuh heran saat itu.

“Tidak. Aku tidak bisa datang lagi,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Ternyata apa yang telah aku lakukan denganmu bersama ini tidak membuat aku bahagia. Aku ingin mencari ketenangan tanpa batas waktu …. Aku telah menemukan jalan lain menuju kebahagiaan itu.”
“Maksudmu?”

“Mesjid. Mesjid saudaraku. Jalan Allah. Bukan laut, bukan pantai, bukan menunggu ikan yang melelahkan. Seorang ustad telah memberikan jalan itu padaku. Berhentilah seperti aku. Jangan memancing lagi ketika suara azan menyeru. Kau dengar kataku?”

Itulah percakapan terakhirku dengannya. Semenjak mendengar penjelasannya itu aku tak pernah lagi menghubunginya. Mungkin sekarang sudah satu tahun lamanya. Mungkin juga sekarang dia sudah menjadi seorang ustad yang memberikan ceramah dari mesjid ke mesjid. Tapi kini aku masih seperti yang dulu juga: suka memancing, memandang laut, menatap pulau, menikmati hembusan angin serta mengumpat orang-orang yang lalu lalang dengan raut ketergesaan mereka. Entahlah, mengapa semua itu masih kulakukan. Meski suara azan terkadang sudah berkumandang.

Banda Aceh, 2010


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Farizal Sikumbang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1276/XXV 6 – 12 Agustus 2012

0 Response to "Laki-laki Senja dan Aku, Si Pemancing"