Lenggo Geni kepada Cindua Mato - Mencari Puti Bungsu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lenggo Geni kepada Cindua Mato - Mencari Puti Bungsu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Lenggo Geni kepada Cindua Mato - Mencari Puti Bungsu

Lenggo Geni kepada Cindua Mato

Telah aku himpun berpuluh lesung berikut alu, Kakanda
ketika tiga malam berturut-turut
murai memekik di tandan buah kelapa
dan bengkalai kain selesai kubakar sudah jadi abu,
sudah berupa debu
lesung dan alu kubuat berbunyi bertalu-talu
hingga tanah membikin lindu
lenganku berharap segera terkait tulang belikatmu
rambutku berkibaran sudah sementara angin kosong tiada menderu
entah mambang dari gunung mana
entah hantu dari lembah mana
membikin gerak jantung ini kian menggila.

Telah aku perturut hasrat, kuurut semua kalimat umpat
tapi hidup ini memang benar khianat, Kakanda.

Maka pada tungku dengan api membumbung
di atasnya
kubikin kuali teronggok mengangkang
kuisi pati santan segala rempah
segala daun penggoyang lidah
kuserakkan ke dalam

Tapi jangat bukan lagi jangat
daging bukan lagi daging
ketika gulai menggelegak kutunggangkan ke badan
sakit tidak lagi terasa ke dalam

Telah aku himpun berpuluh lesung berikut alu, Kakanda
kubuat berbunyi bertalu-talu sepanjang malam terbentang
sebagai tanda kangen mendera
sebagai ganti demam tiada terkira.

Depok, 2017


Mencari Puti Bungsu

Pada air tenang dalam talam itu
kembali aku cari tubuhmu

kulihat sebuah dusun tersibak dari balik kabut pagi
barangkali itu kota tersumbul seusai asap berhari-hari

lenguh seekor babi hutan diterkam anjing pada bagian leher
gerung truk-truk tua pengangkut pasir pada pendakian kesekian

rumah oleng dengan tiang hitam
dari peradaban lama
kondominium tegak berjaga
dalam lingkaran cahaya

aku melihat hari lalu sekaligus hari depan saling bertaut
dusun dan kota seakan lempeng mata uang logam bergasing
dan suara-suara, dari rimba raya, dari lingkar luar jalur niaga
dari arah muara, dari arah gudang kina dan gudang tembaga
suara-suara mengendap jauh ke pangkal lubang telinga.

Pada air tenang dalam talam itu
tidak pernah kutemukan lagi tubuhmu

sudah kujatuhkan sehelai demi sehelai rambut
yang tersangkut di bekas sisirmu

rambut jatuh
air membikin riak
udara tersentak lantas bergerak

kecuali bayangan punggung beranjak menjauh
dari dalam talam itu
hari lalu adalah gerak riak menepi
dan hari depan membikin pusaran lamban
ke dalam, pusaran susut kian ke dalam

 Depok, 2017




Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 19885. Buku puisinya antara lain Dalam Lipatan Kain (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 27 Mei 2017

0 Response to "Lenggo Geni kepada Cindua Mato - Mencari Puti Bungsu"