Lolong Kematian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Lolong Kematian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Lolong Kematian

Tangis, mungkin lebih tepat sebagai lolongan putriku tidak berhenti kendati pun kami sudah berusaha membujuknya untuk mencarikan seekor anak ayam, pengganti ayam peliharaannya yang mati dengan leher patah. ”Itu bukan patah, tapi digigit binatang dan patah.

Anak kami menepis tikus atau musang sebagai penyebab kematian ayam kesayangannya. ”Mana mungkin musang atau tikus mengejar ayam di siang hari,” ujarnya sambil terisak-isak. ”Sudah jelas ayam Deniza digigit anjing atau kalau enggak kucing,” ujarnya. ”Papa takut sama Pak RT dan Tante Han,” teriaknya. Coba periksa anjing Pak RT atau kucing Tante Han, pasti akan ketahuan penyebab kematian putri,” tambahnya merujuk nama ayam kesayangannya. 

Istriku yang pura-pura tidak mendengar dan langsung masuk kamar. Deniza semakin terisak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Persoalan kematian ayam peliharaan, harusnya bukan masalah pelik, tapi karena Deniza gampang menangis dan tangisannya lebih sebagai lolongan, masalahnya jadi rumit. Setiap persoalan apalagi disertai lolongan anak kami, bisa menjadi masalah keluarga besar, karena rumah kami hanya berbatas dinding dengan Tante Han. Dengan WA grup keluarga, jarum jatuh suaranya bisa kedengaran sampai ribuan mil. Tidak heran, lima menit setelah Deniza menangis istriku langsung berkata: ”Sudah diam, nanti kita belikan ayam pengganti,” ujarnya setengah berteriak. ”Masalah ayam mati saja bisa ribut seluruh dunia,” tambahnya, tanpa menghiraukan wajah kami yang kebingungan dan anakku yang langsung terdiam. 

Dan persoalan kematian ayam Deniza menjadi topik WA hampir seminggu lamanya. Tante Han menegaskan kucingnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian ayam Deniza. ”Emangnya hanya kami saja yang memelihara kucing di sekitar sini,” tulisnya. Sebagai istri almarhum Om kami, tentu saja tidak ada yang berani menanggapi WA Tante Han. Masalah kematian ayam kesayangan Deniza pun tertiup berbagai isu hangat seperti pilkada, rencana perkawinan anak Tante Mia dan juga kondisi Om Ridwan, adik almarhum ibu kami yang semakin parah sesudah terkena stroke. 

Tidak lama anak kami sudah bermain-main dengan ayam kesayangannya yang baru, seekor bekisar jantan muda pemberian pamannya. Ayam yang belum kelihatan jengger dan tajinya itu segera memenuhi kehidupan Deniza. Kamarnya yang penuh dengan buku dan majalah berserakan, semakin berantakan dengan bekisar 5 bulan mondar-mandir di ruangan selalu tertutup, dengan AC yang terus menyala. Istriku hanya menggerutu karena tidak bisa masuk ke kamar Deniza yang sesekali keluar mengambil butiran beras. 

Tentu saja tidak lama untuk menunggu istriku berteriak ketika ia masuk ke kamar Deniza yang seperti kapal pecah dan seprainya dipenuhi kotoran bekisar. Terdengar suara Deniza memprotes mamanya yang berteriak-teriak meluapkan kemarahannya: ”Mama kok harus teriak-teriak, kalau marah,” ujarnya setengah menggerutu dan berbisik: ”Terang saja Tante Han selalu tahu apa yang terjadi, habisnya Mama selalu berteriak.” 

Diskusi mengenai ayam bekisar segera memenuhi WA keluarga kami dengan postingan Tante Han tentang perlunya sangkar untuk memelihara dan merawat ayam bekisar. Besoknya Om Randy, sepupu Tante Han, datang membawa sangkar yang langsung dipasang dekat pohon sawo yang berbatasan dengan pagar Tante Han. Deniza setiap pagi mengganti air dan makanan bekisar yang sesekali mencampurnya dengan belalang dan capung. 

Tiga bulan setelah itu ayam peliharaan Deniza melantunkan kokok pertamanya yang membangunkan seisi rumah. Seharian anak kami bermain dengan bekisarnya yang selalu berkokok setelah menelan habis capung dan belalang yang disuapkan Deniza. Kokok bekisar tidak pelak lagi menarik perhatian lingkungan kecil, dan mengundang Pak RT serta anak-anak yang biasanya main bola di jalan depan rumah kami. Mereka mengerubuti sangkar bekisar dan sesekali anjing Pak RT melolong mengikuti kokok bekisar. 

WA keluarga kami langsung dipenuhi diskusi soal bekisar. Kicauan atau lebih tepatnya komplain Tante Han karena bekisar Deniza tidak berhenti berkokok, entah kenapa disambut gembira hampir seluruh keluarga. Dayat, paman Deniza, memosting betapa spesial dan mahalnya harga ayam bekisar pemberiannya. Om Randy mengingatkan perlunya menjaga kebersihan sangkar dan pentingnya bekisar dimandikan serta ditangani oleh pakar bekisar. Ia menjanjikan untuk memberikan sangkar tambahan dan menyarankan bekisar dimasukkan ke rumah karena jenis yang sudah berkokok dan nyaring bunyinya menjadi incaran pencuri. 

Namun, sejak diberikan sangkar tambahan, bekisar Deniza lama-lama lebih sering menghuni kandang tambahan yang berada di belakang rumah kami. Yayah, pembantu kami yang biasanya telaten mengurus bolak-balik pindahnya bekisar, kelihatannya lebih suka membiarkan ayam jantan itu bertengger di sangkar yang berada persis di pintu kamarnya. Setiap pagi, setelah membereskan semua pekerjaan rutinnya, ia bermain dengan bekisar dan terkadang menyemburkan air ke sekujur tubuh bekisar. Bekisar yang mengepakkan sayap sehabis kena semburan langsung berkokok dengan nyaringnya. 

Mungkin karena lebih banyak diurus Yayah, bekisar kelihatan lebih dekat dengan pembantu kami dibandingkan Deniza. Setiap Yayah lewat, bekisar tidak hanya mengepak-ngepakkan sayap, juga berlompatan di sangkar yang luasnya hanya 1,5 m2 itu. Terkadang kami melihat Yayah menjulurkan lidah dan bekisar seakan meneguk air ludah dari mulut Yayah. Deniza yang melihatnya hanya diam, dan mungkin itu menyebabkan ia semakin jarang mengurus bekisar. Ujian dan berbagai kegiatan sekolah juga semakin menyita waktu anak kami, sehingga bekisar seakan-akan sudah menjadi milik Yayah. 

Perubahan yang juga mulai menarik perhatian kami adalah batuk Yayah. Hampir setiap pagi batuknya bersaing dengan kokok bekisar, membangunkan seisi rumah. Selain itu badannya yang tadinya tinggi besar, lambat laun kelihatan mengurus. Yayah juga semakin membatasi gerak dan kegiatannya. Sesudah memasak, ia sering membiarkan peralatan dapur berantakan. Iyah, pembantu kami yang lebih muda dan hanya bertanggung jawab membersihkan rumah sering mengomel, membereskan peralatan dapur yang dibiarkan Yayah. Tapi entah kenapa Yayah tidak pernah lepas dari bekisar, kendatipun batuknya menyebabkan bekisar tampak sering menghindar. Ia seolah takut kehilangan bekisar, dan bahkan tidak mempedulikan peringatan Deniza bahwa terlalu dekat dengan unggas seperti bekisar juga tidak baik bagi kesehatan. ”Dek, Dek kamu tahu apa tentang bekisar. Mbak Yayah dari kecil sudah memelihara bekisar. Asal dirawat dan dijaga kebersihan kandangnya, bekisar tidak gampang terkena penyakit,” tambahnya. 

Seperti biasa, jika kalah berargumentasi, Deniza mengadu menyatakan bahwa perkembangan kesehatan pembantu kami sebetulnya cukup mengkhawatirkan. Ia bahkan memintaku untuk membawa Yayah ke dokter. ”Bisa jadi Mbak Yayah terkena flu burung,” tegasnya. 

Tante Han di grup WA keluarga kami juga memosting maraknya penyebaran flu burung dan bahayanya memelihara unggas. Sepupu-sepupu kami yang dokter juga menyarankan untuk memindahkan bekisar kami keluar rumah, kembali ke sangkarnya semula, serta juga memeriksakan Yayah ke dokter. Mereka bahkan menyatakan bahwa petugas kesehatan sudah meminta agar unggas peliharaan dimusnahkan karena penyebaran flu burung sudah dalam tingkat yang mengkhawatirkan. 

Tanpa menunggu diskusi di WA grup memanas, kami menyatakan akan segera memindahkan bekisar kembali ke sangkarnya di luar dan juga memeriksakan Yayah ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa pembantu kami segera meminta Yayah dicek ke lab dan tidak lama kemudian menyarankan agar ia menjalani operasi pengangkatan payudara. Menurut dia, pembantu kami terkena kanker payudara, dan jika tidak dioperasi diperkirakan akan segera menjalar ke anggota tubuh yang lain. 

Anehnya Yayah seakan bangga bahwa ia tidak terjangkit flu burung. Setengah berteriak ia menegaskan kepada Deniza bahwa batuknya tidak ada kaitan dengan flu burung. ”Benerkan Dek, Mbak Yayah tidak terkena flu burung.” Kendatipun Yayah tidak memperlihatkan seperti seorang yang terjangkit penyakit serius, kami terus memantau perkembangan kondisinya serta langkah-langkah yang disarankan rumah sakit untuk pengangkatan payudaranya. Namun, setiap kami menyatakan bahwa ia harus siap-siap operasi pengangkatan payudara, Yayah seolah tidak memperhatikannya. Bahkan ia pernah menyatakan jika pun harus operasi ia memilih untuk melakukannya di Yogyakarta, kampung halamannya, didampingi anak serta saudara-saudaranya. ”Biar anak saya yang ngurus, mosok Ibu dan Bapak yang ngurusin saya,” tegasnya. 

Anehnya semakin hari kondisi Yayah kelihatan semakin membaik. Batuknya perlahan menghilang dan selera makannya meningkat seiring berat badannya. Hubungannya dengan bekisar Deniza semakin kental. Hampir tidak ada waktu berlalu Yayah tanpa bekisar. Mungkin karena sudah tidak batuk lagi, bekisar diam saja setiap dipeluk dan dikepit Yayah. Bekisar peliharaan anak kami bahkan lebih banyak berada di kamar Yayah daripada di sangkarnya. Kami semua seolah sudah lupa dengan penyakit Yayah, sampai ketika ia pamitan minta pulang ke Yogya. Ia hanya menjawab singkat ketika ditanya Deniza kenapa ia tiba-tiba pulang ke Yogya: ”Mbak Yayah mau lihat cucu yang baru lahir Dek.” 

Tidak ada yang luar biasa dengan kepulangan Yayah. Sampai sepupu kami menelepon bahwa Yayah minggu lalu meninggal setelah operasi pengangkatan payudara dan dimakamkan di Yogya. Deniza separuh histeris dan setengah melolong menangisi kematian Yayah. Ia berkali-kali menyalahkan kami tidak serius mengobati penyakit Yayah. ”Papa hanya memikirkan uang tanpa memperdulikan kesehatan Mbak Yayah,” ujarnya separuh menangis. Penjelasan bahwa kami sudah menyiapkan semuanya, termasuk biaya operasi Yayah hanya disambut Deniza dengan separuh mencibir. 

Sejak kematian Yayah, bekisar peliharaan Deniza kehilangan kegembiraan. Ia tidak pernah berkokok lagi dan suaranya semakin aneh seolah-olah tercekik dan lalu terhenti. Kokokan pendek dengan suara hampir tercekik semakin sering terdengar. Bekisar anak kami itu juga kehilangan selera makan. Belalang dan capung yang disuapkan Deniza tidak disentuhnya. Upaya Deniza untuk membangkitkan semangat bekisar peliharaan dengan menyemburkan air berkali-kali ke badannya hanya membuat bekisar semakin menekuk kepala dan mengasingkan diri ke sudut sangkar. 

Perdebatan di WA keluarga soal bekisar dan kaitannya dengan kemungkinan meninggalnya Yayah semakin memanas. Tante Han mengancam akan memanggil petugas kesehatan agar bekisar kami dimusnahkan karena dicurigai terjangkit flu burung dan menjadi salah satu penyebab meninggalnya pembantu kami. Semua orang yang tadinya sangat senang dengan kehadiran bekisar bungkam dengan ancaman Tante Han yang akan memanggil petugas kesehatan agar anak ayam peliharaan anak kami dimusnahkan. Perdebatan terhenti ketika petugas kesehatan menyita bekisar bersama dengan burung-burung peliharaan Tante Han. ”Burung tidak kalah bahayanya dengan ayam bekisar sebagai hewan pembawa virus flu burung,” sergah petugas kesehatan ketika Tante Han bersikeras agar burung peliharaannya tidak disita. 

Sejak burung-burung peliharaannya disita, kami sering melihat Tante Han bermain-main di depan sangkar burung peliharaannya yang telah kosong. Sesekali ia terdengar menggumamkan nama Yayah, seolah-olah sedang berbicara dengan mendiang pembantu kami. Ketika ada yang menanyakan bagaimana kabar Tante Han dan benarkah beliau sekarang suka berkomunikasi dengan Yayah, Tante Han mengamuk dan meng-unfriend semua anggota grup serta keluar dari WA grup. Sejak itu komunikasi kami dengan Tante Han terputus, sampai beliau dibawa ke rumah sakit terkena stroke dan tidak lama kemudian meninggal. Ketika muncul postingan di WA bahwa kemungkinan kematian Yayah dan Tante Han terkait dengan ayam bekisar Deniza, diikuti kemudian postingan lainnya, kami mengikuti jejak Tante Han, meng-unfriend semua anggota keluarga dan keluar dari WA grup.


Des Alwi adalah lulusan FISIP UI (1985) dan School of Humanities, Asia Research Centre, Murdoch University, yang kini bekerja di KBRI Roma. Cerpen pertamanya dimuat di Majalah SMA II Padang (1978) dan cerpen keduanya, Ms. Watson, dimuat di Kompas pada 2014 dan masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2015.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Des Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 14 Mei 2017

0 Response to "Lolong Kematian"