Mencintai Bumi Mencintai Diri Sendiri - Di Kota yang Purba - Perjamuan Kota | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Mencintai Bumi Mencintai Diri Sendiri - Di Kota yang Purba - Perjamuan Kota Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Mencintai Bumi Mencintai Diri Sendiri - Di Kota yang Purba - Perjamuan Kota

Mencintai Bumi Mencintai Diri Sendiri

Apakah kau mencintai bumi tempatmu berpijak,
lahir dan mati kemudian?
Mencintai membutuhkan perhatian bagai tiang
penyangga gedung-gedung kota
Tempat kau menghirup udara yang usang
Bukankah kita saling merindukan udara pagi yang
sejuk, burung-burung bernyayi di halaman—
tapi itu mimpi buruk yang tak kunjung kudapati
Apakah kautemui taman-taman kota yang rimbun dan
cuaca sejuk di sekitar tempat kaumengejar impian di
masa datang ?

Belantara kota ditumbuhi hutan-hutan beton yang
menusuk langit—sakit
Bumi terisak, tercabik-cabik, menua, suara-suara
mereka semakin parau
Berteriak di antara riak jalan kota yang menyesakkan
Bencana datang dan kausaling menyalahkan

Bumi tutup usia dan meninggalkan kita pada
kesedihan-kesedihan yang tak kunjung selesai
Cintaimu demikian—putus di persimpangan jalan
Tamat


Makassar, 2017 


Di Kota yang Purba

Di kota yang purba—barangkali kaumenemui
klakson-klakson kendaraan bersahutan di kiri dan
kanan jalan
Belum sempat kaubasuh wajahmu dengan air kopi
yang setiap pagi kaucicipi
Berita duka telah terdengar yang dikabarkan oleh
televisi—tentang seorang anak kecil kehilangan masa
depan
Adalah anak lelaki yang bercita-cita menjadi penyair,
namun tak mampu menentang nyinyir diri sendiri
Patutkah aku mempersalahkan semesta yang kejam
Barangkali bumi—tidak disuguhkan secangkir kopi
dan sepotong roti di pagi hari

Kauhitung kembali berapa banyak kendaraan berlalu
lalang di malam kelam
Di kota yang purba—pohon-pohon ialah asupan
paling langka yang jarang kutemui

Di sini—orang-orang sibuk mengurusi diri sendiri
Setelah beberapa lama saling menjual asumsi
Barangkali kau hanya mendapatkan sesuap nasi
setelah senja berganti
Di kota yang purba sekali lagi, gedung-gedung selalu
berganti warna—berganti kaca pada dinding-dinding
serakah

Kita adalah sepasang tetua yang acapkali menahan
debar di dada, menentang nyinyir diri sendiri
Di museum kota yang usang, sekelompok anak muda
sedang merayakan pesta, bergurau dan bernostalgia
pada masa lampau
Sedang kita—masih dalam keadaan serupa
Menikmati kota yang lusuh oleh usia

Makassar, 2017

Perjamuan Kota

Jalan-jalan basah dan kemacetan dimana-mana
Adakah hari untuk kaumerasakan jalanan sepi, tak
semacet hari ini, tak sepadat ini—ataukah itu tak akan
terjadi di kotaku
Hujan membasahi kepala, ingatan dan seluruh tubuh

Dingin, katamu
Semuanya telah berubah, keramaian kota seperti
penjara, bising dan sesak
Barangkali lewat puisi kaumampu menerka-nerka
beberapa hal yang membuat muak

Aku hendak tualang—jauh di tempat sepi tanpa
bayang-bayang hujan di matamu
Engkau kini menjelma riuh suara teriakan-teriakan
penguasa jalan, egois, marah dan terlunta-lunta
menahan sesaknya jalan raya

Makassar, 2016

Arif Hukmi, lahir di Bombana, Sulawesi Tenggara 10 Desember 1994, saat ini masih berstatus mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Makassar. Salah satu karya puisinya termuat dalam antologi puisi Kuta Dalam Kata-Kata (Bebuku Publisher, 2017).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hukmi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 7 Mei 2017

0 Response to "Mencintai Bumi Mencintai Diri Sendiri - Di Kota yang Purba - Perjamuan Kota"