Nyanyian Petani - Alfita - Pertanyaan untuk si Pandai Besi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Nyanyian Petani - Alfita - Pertanyaan untuk si Pandai Besi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Nyanyian Petani - Alfita - Pertanyaan untuk si Pandai Besi

Nyanyian Petani

aku berlagu, lagu padi-padi
ditiup angin lepas dari Senori
sayup di sepasang kuping
senyap meningkap kersik ranting

duka mana lagi yang perlu dikasihani
diberi tempat tinggal layak huni?
memang usia makin tua
menguning bagai ruap senja
tapi dadaku masih sewarna muda
rerumputan
di sepanjang pematang

padi-padiku seharga rempah bagi Belanda
atau minyak Saudi Arabia
akan kugantung di ujung wuwung
kutumbuk ketika hari masih dini
untuk ditanak pagi-pagi

senyumku mengembang
kutebarkan di halaman

2017

Alfita

di sore ini, sebelum sama-sama kita beranjak
hujan lebih dulu menjejak
ada dingin sebentar pada dada yang debar

mungkin ada yang terlupa dari sisa
perbincangan
tentang belanda dan jerman
adakah di sana musim hujan?

“aku tidak ingin pergi.” katamu
“ya, jangan pergi. kepergian selalu
mengantarkan
jalan yang panjang. sepanjang usia
kesedihan.” balasku.

di bangku tua ini, dalam kata-kata ‘jangan
pergi’
kugaungkan puisi, nyaring di dada
seperti bunyi lonceng tengah malam buta

alfita, untuk mencintaimu
tak cukup bagiku saat membuka mata
dalam pejam, dalam mimpi dan khayalan
aku juga mesti melakukannya
kekallah bersamaku, sayang
seperti tuhan

2017

Pertanyaan untuk si Pandai Besi

apa yang akan kau katakan
pada pohon yang sebentar ini
bakal kau tebang
dan kau abukan di tungku api?

sudahkah kau berjanji pada gergaji
sebelum pohon menyentuhnya
bahwa setelah ini
tak akan ada lagi kecemasan di dunia?

apa yang kau tahu tentang abu
lahir dari rahim tungku
setelah padamnya api
setelah menghadirkan sebuah gergaji?

pernahkah kau dengar suara abu
berkata pada gergaji dengan memohon
“jangan biarkan ada lagi pohon-pohon
jatuh cinta kepadamu!”

apakah di hatimu pernah bertanya
adakah rasa benci
antara pohon dan gergaji?


2016

Daruz Armedian, lahir di Tuban, 28 November 1996. Menjadi mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan penulis tetap di Tubanjogja.org. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Buku puisi perdananya yang akan terbit adalah Dari Batu Jatuh sampai Pelabuhan Rubuh.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 30 April 2017

0 Response to "Nyanyian Petani - Alfita - Pertanyaan untuk si Pandai Besi"