Ombak Tiris di Bengkalis - Anjangsana Antonio, 2011 - Depan Istana Siak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ombak Tiris di Bengkalis - Anjangsana Antonio, 2011 - Depan Istana Siak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Ombak Tiris di Bengkalis - Anjangsana Antonio, 2011 - Depan Istana Siak

Ombak Tiris di Bengkalis

I.
Ombak tiris di Bengkalis
Buaian ikan-ikan

Temu kilat permulaan bulan
Lepas dayung terigau sampan

Lekas hari berkemas
Tiap ambang pertemuan

Kau baungku, menampik santan
Gurih cerita mendadak rasan

Mungkin kau lebih dulu kutinggalkan
Atau sejak lama aku kau lupakan

II.
Ombak tiris di Bengkalis
Jeda buih dan getaran

Kangen menghala ke ulu batin
Debur ranjang riang pengantin

Tapi tahun ringkas, cemas bersisian
Cekikik lemah kandas dalam rasian

Amboi, terbelah sudah dua daratan
Meski lautmu pasirku bersebadan

Mungkin kau lebih dulu kulupakan
Atau sejak lama aku kau tinggalkan


Anjangsana Antonio, 2011

Tak lagi terikat pada tembuni
Usai terlilit ke inti bumi, tujuh
Petala zaman kini kumasuki, dan
Angin abad 18 tiba-tiba merambati
Lekuk pulau hingga gigir bandar ini

Maka menyelamlah aku, di Selat Baru
Menunggu sebelas juta pasang mata
Ikan sakit di celah berhantu itu
Memberi isyarat makam dituju

Tapi aku tahu, ratusan tahun sudah
Bibir pantai layu, tanjung ditinggalkan
Sejak air tinggi lepas dari kuasa bulan
Bagai pantun tiada daya tak bersampiran

O, abad 18, seruku dari balik cadas
Benang api yang merajut silsilah ini
Camar beterbangan dengan paruh terbakar
Batas kota dagang dihapus tanpa tawar

Maka lebih dalam lagi aku kini
Menyusuri jalan darah sendiri
Dan di tengah, tiga ribu sisik ikan demam
Berlepasan, barisan tongkang kandas dalam
Reruntuhan zaman, pasir bercerai dari daratan

Ketika cahaya kawin di udara, malam jadi
Hujan nilakandi merayu petala berikutnya
Tapi empat abad cukuplah buat mengerti
Pada tembuni itu silsilahku tak ada lagi

Depan Istana Siak

I.
Masih ada jejak sultan
Tinggal di jalur pedestrian
Badai menukik lancang
Tergugu meraih simpang

Simpang adalah ingatan
Ingatan berisi pertanyaan

II.
Mungkin ada pencalang tergusah
Meski kota ini kian tumpas-alah
Keping koin mengalirkan dencing
Antara hari lalu resah berpaling

Barangkali berpaling hanya muasal
Muasal pembangkangan yang kekal

III.
Tapi kota ini kepalang jatuh
Sebelum kakimu menempuh
Sebertaut getar subuh
Dalam cahaya bersepuh

Sepuh mungkin isyarat yang janggal
Janggal bagi jam yang berputar kidal

Di Bandar Serai

Angin lasak di Bandar Serai
Menampar barisan baliho
Sebuah sungai pucat-sawo
Mengalir dari kata anak Sakai

Hutan-hutan terkapar, katalog
Pariwisata menggelar ribuan senja
Bersama angin membuai sebentar
Lalu laut tanpa riak menggelepar

Bukan cinta, melainkan peristiwa
Yang dipugar sebagai cenderamata
Liiontin pirang tibarau, aksesori
Penawar bagi lintuh hari lampau

O, tongkang mainan, dibawa hujan
Angin lasak, barisan baliho ditampar
Saat langit kuning masak, uap kopimu
Mengirimkan satu isyarat kematian




Boy Riza Utama lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 4 Mei 1993. Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Boy Riza Utama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 13 Mei 2017

0 Response to "Ombak Tiris di Bengkalis - Anjangsana Antonio, 2011 - Depan Istana Siak"