Pada Sebuah Panorama - Perihal dan Taman Bunga - Perihal Mata Cahya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Sebuah Panorama - Perihal dan Taman Bunga - Perihal Mata Cahya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Pada Sebuah Panorama - Perihal dan Taman Bunga - Perihal Mata Cahya

Pada Sebuah Panorama

sebuah panorama di kelok jalan
membuat hatimu jatuh cinta
pada jajaran pinus dan cahaya surya
yang membagikan kilau warna perak
hingga permukaan danau di kaki bukit jauh

kau pun berdecak
memandang gugusan awan di selatan perbukitan itu
yang selalu tabah bermain bersama angin
mengubah-ubah diri menyerupai berbagai sesuatu

isyarat kefanaankah?

belum ada mendung di situ
tapi udara telah disejukkan hijau pohonan teh
yang daunnya suka melipur mata para pelancong
dengan senyuman teduh

seekor capung dan sepasang kupu-kupu
terbang berputar di ruang antara keluasan
dan pandang mripatmu
seolah berebut menyempurnakan keindahan
di situ

o, siapa yang tersenyum di Sana itu

Kudus, 092016

Perihal dan Taman Bunga

Ia tidak pernah sekalipun mau membayangkan
tanahmengering
apalagi bunga-bunga melayu mati
sebelum masanya tiba

ia cemas keindahan mendadak hilang
dan taman berubah jadi tempat mesum
remaja baru baleq

maka ke mana-mana ia
membawa perigi
tasik
danau
sungai
bermacam air mata air
di hati

dengan cinta disirami bunga-bunga di taman
segala taman
hingga pun yang di terjauh
jantung kemarau

ia hanya ingin bunga-bunga tetap bermekaran
di mana pun
biar wanginya sampai ke sembarang penciuman
dan menjadikan udara berasa lebih segar
bagi yang berumah tanpa jendela

ia tidak pernah mau sekali pun membayangkan
tanah mengering
sebab lama ia impikan di dadanya tumbuh taman

tempat kembang kuncup aneka bunga
tempat singgah segala gelisah
siapa juga
yang merindu rupa keindahan

Kudus, 092016

Perihal Mata Cahya

jangan tanyakan bayangan apa atau siapa
yang kini acap melintas di kepalaku
selagi engkau masih suka berdiri di situ
bersipunggung dengan mata cahya

tak ada bayangan apa pun di kepala
sebab seluruh isinya sudah kukosongkan
kapan kuputuskan hidup kepada percaya
bersimpuh penuh ke mata cahya

yang lama kucari lewat pengembaraan
yang dahulu suka kumati-hidupkan
atau memain-mainkannya dengan pikiran

jangan tanyakan bayangan apa atau siapa
yang kini masih mengoda di dada
tiada

sebab segala bayangan telah mati
mata cahya menjadikannya sebuah terang
dan ragu dan sangsi
telah menjelma jadi Cinta

Kudus, 2016


Mukti Sutarman Espe, kelahiran Semarang, tinggal di Kudus. Menulis puisi sejak tahun 80-an, yang tersiar di Kompas, Suara Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Republika, Suara Merdeka, Wawasan, Solo Pos, Kedaulatan Rakyat. Beberapa antologi puisi bersama memuat karyanya, antara lain Antologi Puisi Jateng (1994), Maha Duka Aceh (2005), Jogja 5,9 Skala Richter (2007), Hijau Kelon & Puisi (2007), Requiem bagi Rocker  (2012), Negeri Laut (2015), Gelombang Puisi Maritim (2016), 100 Puisi Qurani (216), Matahari Cinta Samudra Kata (2016). Buku puisi tunggalnya Bersiap Menjadi Dongeng

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mukti Sutarman Espe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 30 April 2017

0 Response to "Pada Sebuah Panorama - Perihal dan Taman Bunga - Perihal Mata Cahya"