Parmaen Babere - Penunggang Kuda dari Indragiri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Parmaen Babere - Penunggang Kuda dari Indragiri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:32 Rating: 4,5

Parmaen Babere - Penunggang Kuda dari Indragiri

Parmaen Babere

__Srimasponi Lubis

sejumput ayat dalam cerana,
segenap niat di depan majelis,
sudikah kau menggenggam cinta,
si boru na mora lubis yang manis

datu telah memberi isyarat,
sehabis hari panas malam ini,
tujuh percik air putih di kuning mataku,
dan secupak umbut rotan,
akan menawarkan pahit ini jalan

"kok tahu lamak di umbuik,
cubolah digule pade-pade,
kok tahu di lamak hiduik,
manikah dengan gadi Sikape"

semayam emas akan menjelma,
jadi penangkal birahi cintaku,
sebelum kata-kata diungkapkan tetua,
telah

kutimbang-timbang ke arah laut,
kurenung-renung ke arah maut,

sedalam apa kata-kata keramat itu,
hingga tak pernah terdengar kabar,
dimulai dari huruf-huruf
pustahakah,
atau semacam suhuf-suhuf,
hitam-merah-utih benang yang
belum ditenun gadis-gadis desa.

oh, cinta yang marah
malam yang ungu -- penuhi
getar-getar di jakunku,
eratkan kain sungkik
yang melilit di pinggang,
kebatkan kain bersepuh emas,
sebelum jurai-jurai konde
di sanggulnya ditanamkan

gemetar itu, Cintaku,
akan menyembuhkan segala penyakit
di rambutmu yang tergerai,
(yang mengalahkan indah mayang terurai)
yang tercipta dari cintamu
yang keras kepala,
sesayat daging itu jadi
penyembuh segala sakitmu

dengarlah dampeng-dikir di bibir pendendang,
yang menari di pucuk malam.

"babiduk dik ka pulo Hilik,
manjjamu si lauk masik,
bia pun pagi hiduik sakik,
tatop bajalan baduo sairik"

oh, rindu yang keparat,
teregak yang telanjur laknat,
yang mendesah di malam Jumat,
hilanglah, lindanng asoklah imat

: agar bening air suci ini,
menjadi benih yang diberkahi.


Pekanbaru, 2017


Penunggang Kuda dari Indragiri

__Syekh Abdurrahman Siddiq

ia percaya, cinta bisa
terbuat dari waktu,
dari denyut masa lalu
yang hampir padam di dadanya
ketika melihat dunia dari lipatan
catur melayu lama, permainan masa
kecilnya.

ia tak ingin jadi rimaum
terduduk di bawah pohon yang
menunggu tua dan tumbang,
ia ingin menjadi penunggang,
kuda dari Indragiri yang kencang,
berlari mencari segobang-gobang,
cahaya yang ditabung dari pekik elang,
dari ringkik kuda yang ia tunggang,
masa kecil yang ia pelajari
dari gurungnya saat di madrasah,
menaklukkan lawannya di gelanggang

ia juga percaya,
melupakan juga berarti mengingat,
merenungkan diri sebagai seorang
pejalan kaki yang fana di semesta,
dan kemudian berangkat,
sebelum maut melaknat.
ia mengingat usia bisa saja
tiba-tiba dilipat angin musim,
sebelum senja jatuh
tepat di depan matanya,
ia ingat-ingat, apa yang kaubekali
di punggungmu sebelum pulang

ia percaya, ada dan tiada hanya
setipis gerimis jaraknya.
malam jadi baju di tubuhnya,
siang jadi sorban di kepala.
ia juga percaya, penunggang
juga mesti mahir berlayar,
menafsir arah angin
membaca ombak besar
dan angin yang mengguruh,
dan tahu di mana hendak berlabuh

"ayohai kukenali diriku yang mudaah dan lemak,
kunyalangkan mataku yang pernah buta,
memandang bulan dan lelaki yang menunggang,
dan meleburkan kaum-kaum yang lupa"

tiba-tiba ia ingat nenek moyangnya,
yang telah lebih dahulu binasa,
dan ia peraya, cinta bisa terbuat dari waktu,
dari denyut masa lalu, ketika ia mimpikan jadi penunggang,
yang malang, bila lupa cara berwudlu,
dan merenungkan kaum-kaum orang dulu.

Pekanbaru-Padangsidimpuan, 2016



May Moon Nasution lahir 2 Maret 1988 di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Buku puisinya Pedang dan Cinta yang mengasahnya (2016). Ia tinggal dan bekerja di Pekanbaru, Riau. 


[1] Disalin dari karya May Moon Nasution 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 29 April 2017 

0 Response to "Parmaen Babere - Penunggang Kuda dari Indragiri "