Pecahan Kesedihan - Mata Hujan - Pecahan Senja - Malam - Cahaya Pagi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pecahan Kesedihan - Mata Hujan - Pecahan Senja - Malam - Cahaya Pagi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Pecahan Kesedihan - Mata Hujan - Pecahan Senja - Malam - Cahaya Pagi

Pecahan Kesedihan

senja tiba dengan irama gerimisnya
membasuh perih para pecinta doa-doa
pecah menuju retakan waktu dalam
rakaat angin bayang wajahmu menembus
daun jendela mengukir luka pada ruap rindu
dalam bening matamu mengalir sebuah telaga
begitu air mata jatuh ada percik kata-kata
merambat sebagai pecahan kesedihan
lalu dari goresan namamu puisi terbit
bersama ledakan cahaya

2017

Mata Hujan

:Ardisa Nadilestari
matamu seperti mata hujan yang
menembus daun jendela ada ruap
rindu berdenting di cangkir kopi
lalu kesedihan seperti irama gerimis
membasahi wangi tanah doa-doa
setegar batu karang yang digarami lautan
lalu bayang wajahmu menari dalam pusaran waktu
mengirimkan cinta pada lorong kesunyian

2017

Pecahan Senja

ruap cahaya bergetar menuju
rongga dada memberi petunjuk rindu
bagi langkah kaki yang berjalan menuju
sebuah jalan doa-doa membasahi daun-daun
gugur hingga retakan cinta terburai seperti
wangi udara dalam keheningan senja masih
setiakah luka membuka daun jendela
memberi usapan kesedihan tersimpan
rapi bersama butiran air mata

2017

Malam

bulan menari di altar langit
menembus kebisuan para pejalan
di sebuah kedai kopi ruap rindu
berdenting memecah hening
seluruh kenangan adalah pisau
yang mengiris buah apel merah
seorang gadis dengan gincu tebal
menembuskan doa pada deretan trotoar
berharap tuhan memberikannya sesuap roti
untuk dikunyah dengan butiran air mata
membaca kota dengan tangan berdarah
hingga setia pada dingin kesunyian

2016


Cahaya Pagi

ketika cahaya pagi membuka
lembaran rindu menuju tempurung waktu
selalu ada yang bergerak semisal kesedihan
begitu tawar seperti roti tanpa selai
bayang wajahmu masih menjerat
dalam ingatanku menebas setiap
helai napas dihempaskan sang angin
doa-doa bergerak seperti kumparan awan
dan cinta kita seperti matahari dan langitnya
bergerak menuju sebuah jalan luka

2016


Arfani Budiman, bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS), komunitas sastra yang lahir dari rahim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Civitas Akademika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Buku puisinya Pengakuan Bulan Literat 2013.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arfani Budiman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 21 Mei 2017

0 Response to "Pecahan Kesedihan - Mata Hujan - Pecahan Senja - Malam - Cahaya Pagi"