Perjumpaan Ombak dan Pasir - Bukit Ratapan Angin - Mahaduka - Surat Cinta - Pecahkan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perjumpaan Ombak dan Pasir - Bukit Ratapan Angin - Mahaduka - Surat Cinta - Pecahkan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Perjumpaan Ombak dan Pasir - Bukit Ratapan Angin - Mahaduka - Surat Cinta - Pecahkan

Perjumpaan Ombak dan Pasir

melewati gelap, merobek hitam
ombak selatan bersayap bentang biru
menghela kabut debudebu
kental di pusaran hening yang dingin

perjumpaan malam ini
pasir gemulai di sepanjang pantai, laguna
juga yang terbawa angin ke lantai pendapa

seraut wajah lebam dan mabok bulan
sepasang matanya berair mata, darah
duduk bersimpuh di dekat jasadnya
cinta yang jauh, cinta yang berdeburan
cinta yang membuatnya pucat mayat

berjumpa lagi di perbatasan malam ini
berkas sinar berpendar menelisik rumputan
di sana, kembang telon bermekaran
dalam hening dingin menggapai lautan
kisah yang belum usai, seperti patahan malam
selalu melahirkan harapan, pagi matahari

Parangkusumo, 280117


Bukit Ratapan Angin

bersimpuh setelah berjalan jauh
di tanjakan berbatu sebelum jatuh
angin merendah
dingin menyergap
dada terbelah

masih tercium bau tubuhmu Kaladote
juga membayang langkah kaki Kalijaga
manekung di antara rumputan basah
lalu gemuruh gelisah angin, bersimbah

pucukpucuk doa
merambati udara
ziarah belum sudah
di sini aku mengaduh

Dieng, 10 Mei 2017

Mahaduka

awal kabisat
cahaya bulan
di kabut padat

Waisak 2561, 11/5/2017

Surat Cinta

- dariave
mata itu tetap tajam, bagai mata elang
bahkan ketika dibelenggu nuju tahanan
sepasang suami istri berpelukan
seperti ada ngilu dari luka yang aneh
luka yang tak ada obatnya
seperti ada nyeri di ulu hati
rasa tak rela kau harus menuju bui.

betapa cinta selalu berhimpit kebencian,
cinta selalu dihadapkan pada keberanian
menaklukkan dirisendiri,
cinta selalu bersedia dikorbankan tanpa mempertanyakan,
cinta selalu menyala meski dirajam sunyi mencekam,
cinta selalu ada dan bersama,
bahkan saat semua orang menganggapmu bersalah.

para wanita menggandeng anakanaknya, kangen ayahnya,
para buruh mengemasi perbekalannya, kangen
pacarnya,
orangorang pinggiran berduyun pulang, kangen kampungnya,
remajaremaja berhamburan ke kuburan, kangen ibunya,
tapi para pejuang akan berpamitan kepada mereka yang
dicinta,
kembali ke medan juang,
menerbitkan perjuangan di manamana.

Dieng, 10 Mei 2017

Pecahkan

yuk pecahkan
gelasgelas kita
tumpahkan isinya
hingga basah
hingga berdarah
hingga tak ada lagi
yang tersisa
di antara kita

Kudus, Januari 2017

- Asa Jatmiko lahir di Purbalingga, 7 Januari 1976. Sajak-sajaknya tersebar di berbagai media cetak dan elektronik, serta terkumpul dalam banyak antologi. Buku puisi tunggalnya Pertarungan Hidup Mati (2000) dan Tak Retak (2016). Kini, buruh yang berdomisili di Kudus ini tetap menjaga kecintaan terhadap teater, dengan mengelola dan menyutradarai NjawaTeater. (44)




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asa Jatmiko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 28 Mei 2017

0 Response to "Perjumpaan Ombak dan Pasir - Bukit Ratapan Angin - Mahaduka - Surat Cinta - Pecahkan"