Pesta Sate Daging Temuan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pesta Sate Daging Temuan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:30 Rating: 4,5

Pesta Sate Daging Temuan

KARIP usul. “Masak gule sajalah kita!” ujar dia sambil mengenang kuah gule terakhir yang ia lahap saat Idul Adha tahun lalu. 

Sodikin menepuk ujung topi kelabu yang bertengger di batok kepala Karip. “Gule, gundulmu! Apa kamu mau duit narikmu buat beli rempah?” 

Tepukan kasar itu melenyapkan bayang-bayang gule kambing yang membuat lidahnya gemetar. “Bikin sate saja. Tidak perlu cari kompor. Modal tungku pakai arang, jadilah sudah! Nanti kubawakan bawang, garam, dan kecap.” 

Kelima tukang becak yang seharihari mangkal di tepi Jalan dr Cipto itu pun bersepakat sudah. Sudah terang bagaimana nasib sekantong daging yang entah milik siapa. 

Para lelaki paruh baya itu melangkah riang bak bocah hendak menyambangi toko kembang gula. Betis berwarna senada akibat bertahun-tahun mangkal di tempat yang sama itu berkumpul mengitari tungku. Sodikin datang menenteng kantong hitam hasil kemujuran. Sore itu Sodikin menjumpai jok becak tuanya ketiban berkah: sebuah kantong plastik hitam berisi segumpal besar daging. Kelima pria itu tak tahu ilmu matematika untuk menggambarkan seberapa banyak daging itu dengan satuan ukur. Yang jelas cukup untuk pesta semalaman. Mereka pikir, sesekali pantas rehat dari kesusahan hidup melarat. 

Tak banyak ritual memasak mereka lakukan. Hanya mengiris daging tipis-tipis, membumbui dengan tumbukan bawang putih dan garam, siaplah daging tertusuk bilah bambu itu untuk mereka bakar. Riang hati mereka, sebab tahun ini taraf hidup mereka meningkat. Biasanya mereka makan daging setahun sekali, saat Idul Adha. Kini, mereka bisa makan daging setahun dua kali. Tak ada tuak atau tembakau lintingan sebagai pelengkap pesta, sebab mereka terlampau miskin buat sekadar beli beras dan sayur. 

*** 
Dua hari selang pesta pora, kelima lelaki paruh baya itu kembali mengayuh becak. Mau panas, hujan, atau panas bercampur hujan, tetap saja mereka mengayuh, seolah-olah hidup mereka adalah sistem ber-setting pabrik. 

Sodikin pasang tampang lesu hari itu. Keempat kawannya telah melanglang Jalan dr Cipto demi lembar-lembar uang ribuan. Namun ia cuma duduk dan menguap. Sesekali berteriak menawarkan jasa becaknya kalau-kalau ada angkot oranye terang berhenti di pangkalan. 

“Mas, becak, Mas?” tawarnya pada penumpang angkutan jurusan Banyumanik-Johar yang turun di pangkalan. 

Pria berambut tipis di dahi itu tampak ragu mendekati Sodikin. Sodikin tahu betul pria itu tinggal di salah satu gang yang berjarak satu kilometer dari pangkalan becak. Jadi sudah positiflah si pria calon penumpang becak yang potensial. 

“Ayo becak, Mas! Mau ke Bugangan ta?” tawar Sodikin bersemangat. 

“Anu, Pak...,” sahut si calon penumpang. “Apa Sabtu kemarin saya naik becak Bapak?” tanya si pria. 

“Lo, ya iya ta. Kan sampean langganan mbecak saya. Ayo saya antar! Hari ini saya beri diskon.” 

“Apa Sabtu kemarin ada barang saya tertinggal?” 

“Barang apa? Seingat saya tak ada barang tertinggal, Mas.” 

“Waduh, bagaimana ya? Saya harus cari ke mana lagi?” 

“Memang barang apa yang tertinggal?” 

“Barangnya terbungkus plastik hitam.” 

Hati Sodikin langsung mengerut bak balon tertusuk jarum mendengar jawaban si calon penumpang. Teringat sebuah kantong plastik hitam yang ia temukan. 

“Sabtu kemarin saya pergi mengantarkan Kakak ke pengobatan alternatif di Jatingaleh. Mbah yang mengobati itu sakti betul! Tanpa operasi, beliau bisa mengangkat penyakit kakak saya. Namun kalau bungkusan itu tidak saya temukan, saya tak bisa melakukan ritual pengobatan yang Mbah sarankan.” Wajah si calon penumpang tampak bingung sambil menggaruk tengkuk. 

“Wah, saya ndak tahu di mana bungkusan itu,” Sodikin berusaha menutupi kegugupan sekaligus penyesalan sebab merasa telah berpesta-pora dengan daging yang seharusnya jadi obat bagi seorang penderita penyakit berat. 

“Sampean betul-betul ndak lihat ya, Pak? Bungkusan plastik hitam kira-kira sebesar ini,” si calon penumpang berusaha mendeskripsikan besar bungkusan dengan tangannya. ìItu berisi tumor kakak saya yang diangkat secara supranatural oleh Mbah.” 

“Isi apa, Mas?!” Sodikin terkejut. 

“Tumor. Tumor itu seharusnya dikubur bersama daun keluwih, daun dadap serep, daun kara, daun cangkring, daun walikukun di sebelah barat rumah, kemudian....” Si calon pembeli menghentikan ucapan sebab Sodikin telah berjongkok membelakangi sambil memuntahkan isi lambung. Lambung yang sejak pagi hanya terisi kopi pun kembali kosong. 

*** 
Atmoko adalah pengayuh pertama yang sampai di pangkalan. Dadanya masih terasa nyer-nyeran selepas adu mulut dengan penumpang pertama yang menawar jasa dengan harga supersadis. Lima ribu rupiah di kantong, keringat di dahi. 

“Sepi sekali ya, Kin?” sapa Atmoko. 

Si lawan bicara bergeming. Bibirnya yang memutih berkerut saja sejak tadi. 

“Kenapa? Habis didatangi tukang tagih utang?” goda Atmoko. Senyum tersungging. Pertunjukan gigi ompong terselenggara dalam tempo singkat. 

“Kita akan mati, Ko....” 

“Hati-hati bicara! Kalau punya firasat mati, jangan ajak-ajak!” 

Atmoko kaget bukan kepalang. Dia teringat mimpinya tiga hari lalu. Deret giginya yang tak utuh tiba-tiba rontok berjamaah. Tak habis-habis rerontokannya serasa sedang mengulum ratusan batu akuarium. Dia pikir mimpi itu pertanda akan ada kabar duka dari sanak-saudara. Namun ia akan kaku sekaku-kakunya bila kabar lelayu justru menimpa Atmoko. 

“Sate yang kita telan kemarin, Ko.... Ternyata itu milik penumpang. Isinya tumor, bukan daging. Kita sudah menelan penyakit,” ujar Sodikin. 

Langsung terasa asin dan masam lidah Atmoko. Perutnya bergejolak, tetapi tak bisa muntah. Ketiga teman pengayuh becaknya merasakan hal yang sama setelah kembali ke pangkalan. 

“Pantas bau anyirnya lebih tajam. Seratnya amat lembek seperti gajih,” ucap Karip pasrah. 

Akhirnya Mursidi berhasil memuntahkan isi lambung, selepas mendengar ucapan Karip. Santoso menyusul akibat melihat cairan beraroma asam lambung Mursidi. 

Astaghfirullah,î batin kelima pria paruh baya itu, mengucapkan zikir yang sama. Batin yang sudah lama tak pernah diingatkan oleh kumpulan kalimat bernuansa ketuhanan. 

*** 
Le, apa yang terjadi kalau manusia menelan tumor? Apa bisa tercerna sampai jadi kotoran?” tanya Sodikin pada Opik, anak bungsunya yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. 

Muncul kerut di dahi si bocah. Otaknya berusaha mengais-ngais ilmu pengetahuan alam yang pernah ia pelajari entah di kelas berapa. 

“Kalau sayur dan buah bisa dicerna, Pak. Kalau daging tidak begitu. Nanti gizinya terserap ke dalam tubuh,” Opik menjelaskan dengan bahasa semampunya. 

“La terus, kalau tumor? Bagaimana nasibnya di pencernaan? Tumor itu kan bukan daging?” 

“Tumor bukan tumbuhan, Pak. Jadi tak mengandung serat. Lagipula orang tolol mana mau makan tumor?” 

“Ya ndak tahu! Wong Bapak cuma nanya-nanya pelajaranmu. Nilai kamu yang bagus pelajaran apa ta?” Sodikin agak gugup, berusaha menutupi ketololan dari sang anak. 

Opik manggut-manggut. Dia menatap rambut ikal keperakan. Rambut sama dengan warna berbeda yang ia warisi dari si bapak. “Aku suka pelajaran agama, Pak.” 

“Bapak tanya lagi sekarang,” mata Sodikin berbinar, “apa hukumnya makan tumor? Haram atau halal?” 

Opik bergidik membayangkan bagaimana jaringan tubuh diolah dan dikonsumsi manusia. “Aku ndak tahu. Yang jelas haram itu babi, Pak.” 

Sodikin menghela napas. 

“Tapi makanan curian juga haram,” sambung Opik. 

Sodikin melotot, seakan-akan ketahuan maling oleh buah hatinya. 

*** 
LIMA hari selepas pengurasan isi lambung, sudah jarang terdengar tawa yang mencairkan kehidupan lima pengayuh yang terlampau susah. Lima hari itu mereka bersikap seolah-olah terjangkiti demam dari negeri Rusia. Lemas, gontai, tak ada gairah, sedikit-sedikit terbatuk. Bicara miris seakan esok bakal mati. Nyeri-nyeri serta meriang memang mereka rasakan. Bukan akibat konsumsi daging abal-abal, melainkan akibat sugesti mereka selepas menelan daging temuan. Lepas tiga puluh lima hari, selembar koran tertiup di Jalan dr Cipto. 

Lembar koran kusam yang hanya dihiraukan oleh pemulung. Andai mampu mengaji alfabet, si pemulung akan tertegun dan membaca keraskeras berita di koran ibu kota provinsi itu: Polisi menyita 17 kilogram daging celeng. Seorang penyembuh alternatif mengaku mampu mengangkat tumor dan kanker dengan kekuatan supranatural tanpa operasi.(44) 


Mustikajati, Mei 2017 

- Niar Cahyani, alumnus Politeknik Negeri Semarang. Kini, pekerja swasta ini tinggal di Ambarawa.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Niar Cahyani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 21 Mei 2017

0 Response to "Pesta Sate Daging Temuan"