Sajak Bubur - Pulut Hitam: Kelam dan Harapan - Sajak Bihun dan Mi Tiau | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sajak Bubur - Pulut Hitam: Kelam dan Harapan - Sajak Bihun dan Mi Tiau Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Sajak Bubur - Pulut Hitam: Kelam dan Harapan - Sajak Bihun dan Mi Tiau

Sajak Bubur

bubur yang kau rasa itu sebenarnya
adalah juga hidupmu.
manisnya tak jauh dari keunggulan
yang telah kau raih.
tawarnya tak lepas dari himpitan pahit kegagalan dari
segala tapak menjejak.

pulut hitam—berkuah—menggigit di lidah.
mengena saja di hati. lezatnya sangat sesuai
untuk melunakkan hatimu yang beku. menghapus
dari keprihatinan yang membatu.

kacang hijau—berkuah—melesap membasuh hatimu.
menghijaukan pikirmu ketika keruh kelat tanpa
tahu akibat. dirimu tiba-tiba menyimpang adat.

antara keduanya, bubur memberi warna.
luapan derajat dan metafora dunia. mendadak saja
seperti kau meniti harap yang alih-alih tuntas sudah.

2016

Pulut Hitam: Kelam dan Harapan

mau juga kau cicip bubur pulut hitam meski niat
tertambat kacang hijau. terpaksa juga kau menerima
keremukan akibat tak seberapa penghasilan.

meski keringat seperti air terjun di tubuhmu…

nasib yang kau terima sehitam bubur itu.

meski kelat, asin, namun sedikit manis
akan juang jua dirimu menerima renjis.
meski pusing mencengkeram kepalamu…

di sana, barangkali dendam bersemayam.
ketidakadilan
terpenjara atau telah mengerucut jiwanya. khidmat
yang berselimut dusta. debur lumur dosa, oh, kau mampu
juga mengejek keabsurdan dunia.

meski keram menjalar dan mencabik kakimu…

perlu katamu tanpa harus merasa manis bubur itu.
bubur yang dipadu gusar hati yang nyasar. atau
perlu menatap jauh, lebih dari harapan untuk
bersantap riang di anjung rapuh.

meski sesak mencekik erat batang lehermu…

mau juga kau cicip bubur pulut hitam meski gusar
masih menjalar. kata-kata kau labuhkan di penjuru
kuahnya. menyatu bersama redam kehidupan—
bolehlah
untuk segera dilupakan.


2016


Sajak Bihun dan Mi Tiau

/1/
kau bilang aku seperti lidi. baris demi baris berpagar
lapis oleh putih ketara zat kepalsuan itu.

kau bilang aku seperti garis. tanpa ada penambahan
warna oleh tinta apa pun juga, semacam cara yang
biasa.

tapi aku bihun, si culun yang terpuruk bertarung.
tapi yakinlah bahwa aku petarung di kala kau lapar
mengenyangkan perutmu.

/2/
kau bilang aku seperti tangkai sapu. menyepak harap
yang kandas dari serpih-serpih yang terbuang itu.

kau bilang aku seperti kawat. berpilin lekat mengikat
berderet membiar kehidupan lewat tanpa ampun dan
sebab.

tapi aku mi tiau, kenyal lezat mengharum bercampur
garang lada merah yang mengelas lidahmu. dikala kau
merajuk airmatamu akan mengalir khidmat dan
kegemukanku akan mengenyangkanmu.

2016

Riki Utomi, lahir Pekanbaru 19 Mei 1984. Buku fiksinya Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Menggerakkan Komunitas Cahayapena. Mendapatkan penghargaan Acarya Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Tinggal di Selatpanjang, Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Utomi

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 7 Mei 2017

0 Response to "Sajak Bubur - Pulut Hitam: Kelam dan Harapan - Sajak Bihun dan Mi Tiau"