Sandal Kiai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sandal Kiai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:44 Rating: 4,5

Sandal Kiai

TIBA-TIBA saja terjadi keributan. Satu per satu orang berdatangan. 

"Seseorang telah mencuri sandal kiai," teriak seseorang.

Semua terperanjat. Santri. Pengurus. Semuanya berkumpul. Para santri berebut untuk keluar. Belum lagi menginjak pintu, pengurus keamanan sudah menghalau mereka untuk tidak beranjak dari tempat. Namun rasa penasaran membuat mereka berbalik arah menuju jendela masjid. Kericuhan pun juga terjadi di antara santri yang berebut mengintip dari celah ventilasi masjid. Apa yang terjadi? Sandal kiai dicuri? Siapa pencurinya? Pertanyaan demi pertanyaan memberondong kepala santri. Bagi kami, apa yang menjadi milik kiai, menjaganya adalah jihad fi sabilillah.

Sementara itu, di luar, seluruh pengurus berkumpul. Kebersihan, diniyah, pengurus pusat, keamanan terutama.

"Bagaimana mungkin sandal kiai ada yang mencuri?" ujar seorang yang menjabat sebagai ketua pengurus.

"Kami baru saja selesai salat berjamaah. Tiba-tiba...."

"Lah. Memangnya tidak ada yang jaga?" ucap ketua pengurus memotong perkataan pengurus lain.

Diam.

"Cepat cari! Periksa seluruh pondok jangan sampai ada yang terlewat!" perintah ketua pengurus.

Seperti kuda yang dipacu seorang joki, semuanya -- kebersihan, diniyah, keamanan dan pengurus pusat -- menghambur ke seluruh bagian pondok.

Hadiran salat Maghrib baru selesai dilaksanakan. Sekitar jam 17.45 tadi, terdengar suara sandal kiai -- tak tik tuk -- berjalan dari ndalem menuju masjid untuk memimpin salat jamaah Maghrib. Para santri, seperti domba dihalau ke kandang oleh seekor serigala, berbondong pergi ke masjid, tak terkecuali aku. Tak ada seoran pun yang rela ketinggalan. Prinsip kami -- santri --- salat jamaah dengan kiai adalah tiket VIP menuju surga. Mana mungkin ada orang yang rela ketinggalan tiket VIP ke surga bersama kiai. Begitu yang sering dikatakan teman-teman di pondok kami. Jadi wajar saja kalau misalnya seketika suasana pondok menjadi lengang. Tenang. Bahkan di satu tempat terlihat angker. Cukup angker.

Karena posisiku berada di dekat pintu, aku melompat -- dengan tangan memegang perut dan pantat takut isi perut juga ikut melompat -- dengan tangan memegang perut dan pantat takut isi perut juga ikut melompat -- keluar masjid tanpa sepengetahuan orang. Aku berlari mencari sandalku, yang seingatku kuletakkan tepat di sisi selatan masjid. Tapi setelah kukira sudah tiga kali aku berjalan mengelilingi mesjid, sandalku belum ketemu juga. Hilang atau dibawa angin, mungkin. Kuputuskan memakai sandal temanku terlebih dahulu. Darurat, pikirku.

Kucari sandal yang paling jendel dari yang terjelek. Kupilih dan kuamati dengan seksama. Sandal yang terbuat dari kayu. Warnanya coklat kehitam-hitaman, atau hitam ada sedikit cokelatnya. Orang Madura biasa menyebutnya sandal pecak. Dilihat dari segi bentuk dan teksturnya mungkin sudah puluhan atau ratusan tahun umurnya. Kalau ditimbang dari segi dosa, kukira hanya seberat biji dzarrah. Ah... kecil, pikirku. Maka kupilihlah sandal itu sebagai kendaraanku.

Berangkatlah aku. Di sebuah tempat yang bisa kubilang levelnya cukup angker di pondokku: WC.

Dengan hanya menggunakan penerangan satu lampu 5 watt, semakin menambah nilai horor saja. Konon menurut cerita santri-santri senior. Sering terjadi hal-hal yang bersifat mistis di sini.

Tiba-tiba setelah sampai di depan salah satu kamar WC yang aku tuju dari awal, terdengar suara teriakan seseorang lalu disusul suara keributan. Tapi karena isi perutku sudah di ujung tanduk, aku tak menghiraukan suara teriakan yang entah dari mana asalnya.

Beberapa menit berlalu. Suara keributan itu sudah tak terdengar lagi. Tapi sebelum itu, perlu kuceritakan, terdengar suara pintu dibuka dengan kasar. Satu. Dua. Tiga. Dan tak terhitung berapa jumlahnya. Beberapa terdengar dekat. Dan beberapa jauh. Aku hanya berpikir, mungkin ada angin puting beliung yang menggebrak-gebrak pintu-pintu pondok atau ada orang gila yang tiba-tiba saja mengamuk atau ada sebab lain, aku tak tahu.

Plong sudah perutku. Tak ada lagi beban yang bersarang di perutku.

Aku berjalan kembali ke musala untuk melaksanakan salat Maghrib yang tadi terhenti di ronde kedua karena suatu hal yang sangat mendesak. Setelah beberapa langkah melewati area kamar mandi yang bersebelahan dengan WC pondok, aku sedikit terkejut melihat kondisi pondok yang tadinya hanya sendiri berantakan, sekarang menjadi benar-benar berantakan. Semua pintu terbuka. Ada yang masih bergerak melambai-lambai diterpa angin, seperti miss universe di atas panggung.

Pintu-pintu lemari terbuka. Baju-bajunya berantakan. Sepatu-sepatu di rak juga berjatuhan. Keranjang-keranjang tempat sabun berserakan. Hanya buku-buku dan kitab-kitab kuning yang tetap di posisinya. Aku melihat kondiri yang sama di setiap kamar yang kulewati.

Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Teriakan. Keributan. Suara pintu digebrak. Kamar yang berantakan. Apa yang terjadi?

Tiba-tiba ketika kakiku baru berbelok di pertigaan di ujung jalan ini.

"Itu dia malingnya," seeorang berteriak sambil menunjuk ke arahku.

Aku terkejut dengan yang diucapkan orang itu. Aku maling? Beberapa kali orang itu mengulangi kalimat itu. Semua orang melihat ke arahku. Tiga orang langsung berlari ke tempat aku berdiri. Pada santri yang dari tadi mungkin hanya mengintip dari celah-celah jendela masjid, kini semuanya menghambur keluar. Dan tanpa kusadari Tiga orang yang tadi berlari ke arahku sudah berada di dekatku memegang erat tanganku. Aku hanya terpaku. Tak ada yang bisa kuperbuat.

Lari? Tidak mungkin. Dan untuk apa juga aku lari? Aku salah apa sehingga harus lari? Lalu seorang lagi segera memegang tangan kiriku yang sedari tadi tak bergerak, kaku. Dan yang ketiga telah berdiri di depanku mengayunkan balok kayu yang bentuknya seperti pemukul kastil kayu ke arahku. Lalu.... ■ (e)

23 April 2017

Riqqi Ramadhan: santri Pondok Pesantren Annuqayah Latee. Lahir di Sumenep tahun 1999. Siswa kelas akhir MA Tahfidh Annuqayah. Aktif di komunitas baca Gubuk Sastra Kita. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riqqi Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 28 Mei 2017

0 Response to "Sandal Kiai"