Sepasang Jantung yang Berdetak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sepasang Jantung yang Berdetak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:40 Rating: 4,5

Sepasang Jantung yang Berdetak

DINI hari tak juga membuat mataku terpejam. Detak jantungku sangat kencang seperti sedang dikejar anjing. Aku seperti berlari terbirit-birit ketakutan dengan napas tersengal. Batinku gelisah hingga aku tak bisa tidur, yang kulihat hanya lingkar wajah jam dinding yang jarumnya menunjuk angka 2. Juga potongan bayang wajah ibu mirip puzzle terbongkar, berserakan di tembok kamar. Keningnya berkerut, pipinya mengisut, bibirnya kering, matanya beku seperti diselami debu dan ubannya menjuntai tak teratur.

"Apa yang terjadi denganmu, Ibu?" gumamku larut dalam cemas. Sesekali kulirik istriku yang sedang tidur nyenyak dalam keadaan tengkurap. Matanya rapat terpejam, dan tangannya erat memegang sprai. Aku tak ingin ia tahu kalau aku tidak bisa tidur lantaran sedang memikirkan keadaan ibu. Ia pasti akan mengolok-olokku dengan sebutan anak mama.

Kuraih ponsel di meja sebelah ranjang. Tapi nomor tidak bisa dihubungi. Aku mencobanya empat kali. Jawaban dari operator provider tetap sama; tidak bisa dihubungi. Detak jantungku semakin kencang dan pikiranku hanya terpaut kepada ibu. Andai aku dan ibu dalam satu kabupaten, sudah pasti tak menunggu lama, langsung saja aku berkunjung ke rumah ibu. Tapi, rumah ibu dan rumahku berjauhan dan dipisah laut.

Sekali lagi kulirik istriku. Ia masih nyenyak bahkan kini dengan mulut menganga. Aku bangkit menuju jendela, bermaksud menormalkan detak jantung. Gerak langkah tertatih karena tubuh terlampau gemetar. Tubuh yang gemetar bersumber dari jantung yang berdetak kencang. Sepasang tanganku bertumpu di dada, jadi satu; detak jantungku terasa mematuk-matuk telapak tangan seperti jarum tukang jahit yang melompat-lompat di atas kain.

Kusingkap gorden. Di luar, malam sangat pekat. Bulan tinggal sesabit terpacak di ufuk timur, jadi latar bagi rimbun daun mangga yang bergerak pelan dipermainkan angin. Detak jantungku masih kencang, dan wajah ibu semakin terang.

Sudah jadi sebuah kelaziman sejak aku berumur lima tahun, setiap kali jantungku berdetak kencang, pertanda ada sesuatu yang terjadi pada ibu. Demikian sebaliknya, bila detak jantung ibu berdetak kencang, pertanda ada sial menimpaku. Hal itu sudah terbukti berkali-kali. Semua berawal dari kejadian buruk ketika aku masih di taman kanak-kanak, 30 tahun silam. Seniin pagi yang dibalut kabut. Saat kami sedang bermain, tanpa diduga sebuah balok yang digunakan untuk alat peraga tiba-tiba jatuh dari atas lemari, tepat jatuh ke kepalaku. Darah segar mengucur ke hampir seluruh badan. Semua yang ada di sekolah panik. aku terbaring lemah di ruang UKS dengan tangis yang keras. Karena saat itu tak ada ponsel maka kepala sekolah memerintah karyawan untuk menjemput ibu, kebetulan kala itu ibu tidak mendampingiku. Baru saja si karyawan mengangguk di samping kepala sekolah, tiba-tiba ibu datang melesak ke kerumunan orang-orang dan langsung memelukku sambil menangis. Beberapa hari setelah aku sembuh, barulah ibu bercerita saat ia berada di rumah, detak jantungnya berubah kencang. Jiwa ibu gelisah dan wajahku terbayang di benaknya hingga perasaannya tidaak enak, khawatir ada kejadian buruk menimpaku. Dan kekhawatiran itu benar, kepalaku dijatuhi balok hingga terluka.

Sedangkan detak jantungku yang kencang juga terbukti sebagai firasat ketika ada kejadian buruk menimpa ibu, dan itu terjadi berkali-kali. Awalnya terjadi ketika aku masih kelas 2 SD. Pada saat pelajaran berlangsung, sekitar jam 09.30 tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Lantas aku teringat dengan ibu yang terbaring sakit sendirian di rumah. Ketika bel tanda istirahat berbunyi, aku minta tolong kepada penjaga sekolah untuk sejenak mengantarku ke rumah. Dan firasatku benar. Ibu ternyata jatuh tengkurap. Tangannya memegang perutnya yang sakit. Beberapa bagian tubuhnya tampak lembam. Penjaga sekolah yang kebetulan menungguku di beranda tiba-tiba ikut masuk ke kamar ibu setelah aku menangis menjerit-jerit. Lalu ia membantuku menggotong ibu ke tempat semula.

Setelah beberapa kejadian tentang kebenaran firasat detak jantung, pada suatu pagi yang dibeadaki gerimis, sesaat sebelum aku berangkat sekolah, ibu menyisir rambutku dengan sisir kayu. Tangannya yang lembut dan hangat membuatku terdiam karena merasa nyaman dengan sisiran ibu.

"Mid, semenjak Ayahmu meninggal, aku selalu berdoa kepada Allah agar aku dan kamu senantiasa saling melengkapi. Ibu yakin, firasat detak jantung kita yang selalu tepat membaca kemungkinan adalah anugerah Allah agar kita selalu terhubung meski berjauhan hingga kita tetap saling melengkapi," kata ibu kepadaku dengan nada yang agak nyaring. Kulirik wajah ibu yang masih fokus melihat gerakan sisir yang melekat di rambutku.

Kejadian paling mengharukan ketika awal aku menikah. Dua minggu pasca acara pernikahan, tanpa kuduga ibu datang. Jauh-jauh ia harus menempuh perjalanan dari Sumenep ke Banyuwangi hanya karena jantungnya selalu berdetak kencang. Setiba di rumah, ibu melihat aku baik-baik saja, dan aku pun mengaku jika aku tidak apa-apa. Tapi ibu tidak percaya. Ia memaksaku untuk mengaku keadaan yang sebenarnya. Maka demi menghormati kedatangan ibu aku pun jujur, saat itu aku impotensi, dan atas nama detak jantung juga, ibu membuatkan jamu untukku hingga aku jadi lelaki normal. 

"Kita memang dilarang mengingkari detak jantung yang kencang, Mid. Bukan hanya kita, dalam mitos Madura, detak jantung yang lencang itu memang pertanda ada sesuatu yang tidak baik, besok Ibu akan pulang ke Sumenep. Jaga dirimu baik-baik, Nak," nasihat ibu sambil meneteskan air mata, ia merangkulku dalam hening yang memisau.

Kalau pun aku atau ibu berbohong bila ada kejadian yang tak menyenangkan, sebenarnya bukan bermaksud jelek, akan tetapi agar di antara kami tidak ada yang panik.

***
ADA apa dengan ibu? Jantungku masih berdetak kencang. Di kejauhan suara qiroah mulai terdengar dari surau dan masjid. Bulan sabit baru saja menyelinap ke balik awan. Malam mulai beranjak pagi. Sebentar lagi azan Subuh akan berkumandang. Di saat cemas memuncak, seketika ponselku yang berada di meja sebelah ranjang berdering. Segera aku mendekat. Ibu memanggilku. Dengan senang hati kuterima panggilan ibu. Serak suaranya memanggil salam terdegar bagai suara ricik gerimis di awal kemarau panjang. Begitu indah dan menyejukkan. Tapi akku tetap berdebar-debar menunggu kepastian kabar inti yang akan ibu sampaikan sepagi ini. beberapa saat setelah bertanya keadaan keluargaku, tentu setelah kujawab dengan jujur, ibu terdiam sejenak lalu memaksaku untuk mengakui keadaanku yang sebenarnya. Ia tidak percaya jika aku dan keluargaku baik-baik saja sebab semalam ibu mengalami hal yang sama denganku; tidak bisa tidur karena jantungnya berdetak kencang.

"Sebenarnya aku ingin meneleponmu tadi malam, Mid. Tapi karena malam hari, aku khawatir kamu terganggu. Terpaksa HP-ku dinonaktifkan agar keinginan menelepon bisa terkurangi. Aku berjuang sendiri dengan peluh dan air mata untuk memerangi detak jantungku yang kencang sambil membayangkan sosokmu yang jauh dari Ibu. Ayolah jujur, Mid. Apa sebenarnya yang terjadi denganmu?" Ibu terisak dan suaranya melirih.

"Jujur saya dan keluarga baik-baik saja, Bu. Justru jantung saya tadi malam yang berdetak kencang dan membuat saya tidak bisa tidur saampai sekarang. Tadi malam saya beberapa kali mencoba menelepon Ibu, tapi HP Ibu tidak aktif. Saya yakin setiap kali jantung ini berdetak kencang, pasti ada suatu kejadian buruk yang menimpa Ibu. Ayo jujur, Bu?" Tanpa terasa ada linangan air mata leleh melewati pipi. Aku menangis membayangkan tubuh ibu yang mulai membungkuk dengan kerut pipi bergaris-garis yang biasanya dijuntai uban saat kerudungnya tersingkap. Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Kami terdiam, masing-masing dari telinga kami hanya mendengar isakan tangis. Sayup dari telpon ibu kudengar azan Subuh berkumandang dari Masjid At-Taqwa yang ada di samping rumah ibu.

***
AKU tak menyangka hari ini bisa bersama ibu di sini. Menghidu harum kembang di atas gundukan tanah. Kembang yang mulai layu karena telah ditabur kemarin pagi, dan ibu baru tiba hari ini setelah menempuh perjalanan semalam suntuk dari Sumenep ke Banyuwangi.

Ini kali kedua bagiku datang ke lokasi ini setelah di upacara pemakaman kemarin pagi aku sudah di sini dalam keadaan duka. Kemarin malam ketika aku dan ibu sama-sama terganggu dengan detak jantung yang kencang, kukira istriku tidur nyenyak, ternyata ia meninggal, entah kenapa.

Aku tak menyangka hari ini aku bersama ibu di sini; di samping pusara istriku, dalam detak jantung yang sama kencangnya. ❑  (e)


Dikkodik, Maret 2017

* A Warits Rovi: guru bahasa Indonesia MTs Al Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472


Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Waritz Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 7 Mei 2017

0 Response to "Sepasang Jantung yang Berdetak"