Setelah Petang - Kebangkitan - Estuaria | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Setelah Petang - Kebangkitan - Estuaria Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Setelah Petang - Kebangkitan - Estuaria

Setelah Petang

"Pulanglah, berdamailah," kata sebuah suara petang ini.
Suara yang terbang rendah setelah angin kota bersijingkat
ke arah hutan dan wangi cemara tak menghapus
bau hangus jalanan. Penciuman kita telah tahu
ada yang selalu terbakar dalam
perjumpaan dan perpisahan.

Setelah petang kenangan tentang rumah adalah rawa
muncul dan membenamkan kegamangan orang jauh:
ingatan tentang ranjang tua, gonggongan anjing,
foto ayah-ibu, piring-piring beling, akuarium,
kelokan gang sempit, lampu jalan dan kau.

Wajahmu berkelebat seperti arwah para jagal
selepas jam tidur kita, menghantui kesadaranku
dengan kelebat cita, harap, doa, dan putus asa:

kau telah
menjadi dongeng sebelum
para penderita menemukan kata pembuka

kau telah
menjadi jendela yang setia
menantiku pulang untuk mengaku terluka


Kebangkitan

Setelah hari Sabat lewat,
Kau bergegas menuju suatu tempat.
Seolah di situ kepastian menunggu
tapi kau tahu:
tak ada yang tersisa di kubur batu.
Tidak tubuh itu, tak juga penyesalanmu.

Pagi itu, seperti yang telah dituliskan
para penjaga ketakutan seperti orang mati
melihat ada yang hidup, mengalahkan kematian
melihat sang hidup tak bisa dimatikan.

Maut adalah mawar yang gagal berbunga
di tanah ini tapi tumbuh subur di mana-mana
di ladang-ladang yang jauh dari sinarNya.

Kau harus bergegas menuju banyak tempat,
di mana kubur-kubur belum kosong
dan maut mekar di mana-mana
tempat banyak tubuh berbau seperti mayat
karena jiwa dan roh dibiarkan berkelana.

Di tengah kegentaranmu, ingatlah suara iitu:
"Jangan takut. Pergi dan katakanlah
kepada saudara-saudaraKu
mereka akan melihat Aku."

Kau bergeas mencariku ke banyak tempat,
Padahal aku bangkit dalam tubuhmu.


Estuaria

Malam memudar setelah bulan merekatkan butiran cahaya
menusuk iris dengan karat aksara: tak jelas apakah gangsa
magenta atau malah lila, huruf-huruf itu tetap tak terbaca
langit masih akan kelabu dan kau tetap mengelabuiku.

Kita akan pulang. Aku menyeretmu seperti kepiting uca
menyeret hidupnya: sendiri dan terjaga. Di keluasan
pasir pesisir yang asing, mengendap dan menyelinap
menghindari sepasang mata yang membakar sunyiku.
Ia waktu: pokok-pokok hidup yang hangus itu.

Aku menyeret sejumlah kata dalam karapas
melalui jaring kegilaann yang tak bisa kuterabas
tapi kau terus menuju ke laut, tak membiarkan
kata-kata pasang-surut dan terlepas.

"Tak ada yang tetap di estuari,
selain cinta dan ketabahan abadi."



Adimas Immanuel lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 Juli 1991. Bukunya Pelesir Mimpi 92013) dan Di Hadapan Rahasia (2016). Kini ia berdomisili dan meneruskan studi di Jakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 29 April 2017 

0 Response to "Setelah Petang - Kebangkitan - Estuaria"