Surat - Yogyakarta di Sudut Malam - Purnama di Pintu Kemarau - Halimun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Surat - Yogyakarta di Sudut Malam - Purnama di Pintu Kemarau - Halimun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Surat - Yogyakarta di Sudut Malam - Purnama di Pintu Kemarau - Halimun

Surat

Dalam kotak mimpiku surat ilalang tanpa sayap darimu
hinggap. Sejuta kata terpahat di dalamnya diantara ruas
dan ruas.

ìBawakan aku fajar sebelum matahari menggelinding
mengoyak-moyak anyelir-anyelir yang mengungup di
pelataran kalbu perempuan kabut memekat.î

Maka segera kucari matahari di segala sudut kota, di
pertokoan, di warung remang-remang, di stasiun, di kotak
surat, di bawah bantal, di balik awan, di daun
rumputan, di rinai hujan, di pekik kelelawar, di atas
menara, di arca-arca dewata, di mata pena, di saku
celana, di telaga warna. Tak nampak jua batang
hidungnya.

Bulan sabit terikat di dalam sajak-sajakku. Bibir tanpa
gincunya mendesis binal seperti ular. Menelusuri saluran-saluran
air mencari serumpun makan malam.
Hendak ku bawa bulan ke pangkuan jemari-jemari
kayumu yang menelungkup, lalu apakah jemarimu kan
terlentang? Lalu kau semakin mengerang?

Tintaku seketika membeku menjadi abu lalu terbang
bersana kepak lembut sayap-sayap malam. Mata penaku
seketika pecah ujungnya membuat mozaikmozaik
air mataku air matamu di daun langit

Yogyakarta di Sudut Malam

Di sini kita berhenti sejenak
Setelah kaki-kaki kita menapak
Waktu dan jarak
Di emper toko ini kita diam
Khusuk dengan nafas tembakau
Yang kita pilin bersama letih
Setelah jiwa-jiwa banal kita
Diguyur gegap gempita masa
Tak ada nyawa yang sempurna
Apalagi jarak masih menganga


Purnama di Pintu Kemarau

-Para Penari Dames

Plak plak kopyak kopyak. Rebana ditabuh perlahan oleh
tangan kekar para penyadap nira dan pemanggul kayu
gelondongan. Itu salawat senantiasa mengalun. Dan
gadis-gadis ranum dari kaki gunung memainkan lincah
lentik jemari dan gemulai tangannya. Dan keanggunannya
biarkan tetap memesona dalam labirin misteri.

Penggoda tuan-tuan yang melekat padanya, sekian
lama penari Dames semakin tenggelam dalam kelam.
Seni budaya religius adiluhung tersobek pada kisah
kaum paruh baya. Sebagai saksi moncernya Dames
zaman dulu. Mereka dielu-elu, namun mata binal tajam
menatap selalu. Hingga anginlah semakin menenggelamkan
mereka dan menghilang.

Kau tengah berkubang di dalamnya. Membawa citra penari
Dames yang telah lama pudar kembali berkibar. Tak
ada lagi penari yang tak kembali ke rumah usai panggung
paripurna. Tak ada lagi penari yang menggoda dengan
kerling dan kissbye pada mata liar para penonton.
Tak ada lagi hujan saweran di tengah panggung oleh
pemilik lembar ribuan berperut buncit.

Manifestasi jiwa revolusi membabat kompeni. Puanpuan
berlaku gemulai, namun jiwa kekar bagai pendekar
yang tak pernah lepas dari doa-doa. Kini hanya
ada penari Dames yang anggun dalam pesona misteri.
Tertepa sinar purnama di pintu kemarau kala mereka
menari.

Halimun 

Angin beku setajam sembilu
Mencongkel mata malam
Di darah yang meleleh dari lebam luka
Terreduksi rindu merah jambu
Rindu senandung kelelawar
Rindu air mata bintang-bintang

Senyum siapa yang hanyut dibawa gigil angin?

Kerinduan pada letup bibir merdumu
Kerinduan merajam tubuhku keping-keping
Kerinduan mengoyak malam puing-puing
Kerinduan membunuhku tanpa pilu


*) Ryan Rachman, lahir di Kebumen, 12 Januari 1985. Tinggal di kaki Gunung Slamet Dusun Bukung RT 18 RW 9 Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga, Jateng. Bergiat di Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katas)-e

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ryan Rachman
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 14 Mei 2017

0 Response to "Surat - Yogyakarta di Sudut Malam - Purnama di Pintu Kemarau - Halimun "