Waisak - Kamadhatu - Umbul Jumprit - Mrapen | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Waisak - Kamadhatu - Umbul Jumprit - Mrapen Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Waisak - Kamadhatu - Umbul Jumprit - Mrapen

Waisak

Puluhan tahun lampau musim tandur
Aku melihat teratai menjulur di batu batur
Di vihara tua berbunga cinta
Lamat-lamat terdengar kidung Pedupaan
Memecah gumpalan kabut perbukitan
Dan bhiku agung berjubah cahaya malam

Menyalakan 5 lilin dengan api alam
Setelah ribuan umat baik budi
Melampahi ritual puja bakti tangan anjali
Di altar - 3 bhiku, menyuguhkan persembahan suci

Lalu paritta sangha bergaung seperti aum maung
Seketika kerongkonganku tercekat sejenak
Mengharui renungan pelekatan diri
Menakjubi keheningan melampaui puncak

Di pelataran candi Borobudur
Aku menguping dengung mantra sangha
Menyelami kedalaman laut meditasi
Merambati ketinggian langit ruhani
Melepaskan karma : sebab + akibat
Memutus samsara : lahir - hidup - mati
Dan kekekalan itu, anakku : tiada awal + akhir

Bulan purnama malam suci nanti
Akan kusimak khotbah bhiku membabar astamarga
Menuang kebenaran tumpah bersama air berkah
Setelah pencerahan sempurna menerangi stupa
Sesudah paritta kebahagiaan + kesejahteraan dunia
Aku akan menunda kebebasan
Sampai semua makhluk hidup terselamatkan


Kamadhatu

Setelah Wening, sesudah 4 mata angin ciptaning
Semenjak sendok, kendi, pustaka, tasbih
Membalingkan lingkar kekekalan
Diwujudkan adaku tiada awal + akhir
Selorong fana merahasiakan rajah
Tapak tangan dharmacakramudra
Di ruang bawah tanah karmawibhangga

Lebih 10 abad sebelum pohon bodhi beronak
Pertapa agung tubuh kafan budak
Mengacungkan tongkat pengemis bersabda :
”Jadilah dirimu dunia dihasratkan”
Lalu terjadilah adaku dunia hasrat
Dunia menenggelamkan angkara murka
Kepalung batu prasasti setanjung karma

Tetapi tubuh dharma
Tubuh dilimpahi kebenaran + kemuliaan
Mengoborkan pencerahan sempurna
Dikubah nafsu rendah mayapada
Aku melihat ribuan sangha memercikkan air suci
Mem-pradaksina-i candi tangan anjali,
Menggumamkan Paritta + Jaya Manggala Gatha

Dadaku bergetar, sesaat dari puncak stupa
Terdengar denting mangkok nungging bersabda :
”Jadilah dirimu kaki diborobudurkan”
Lalu terjadilah adaku kaki-Borobudur
Dan kamu sekalian makhluk hidup yang disamsarakan
Diharibaan bulan purnama malam Waisak nanti
Diselamatkan kamandalu, kamadhatu di bodhisatwakan


Umbul Jumprit

Setelah diusung menyusuri jalan kampung
Sesudah disemayamkan dalam vihara
Aku teringat sungai Progro
Ibu kandung yang dicintai Sindoro
Terkenang pertapa agung di Temanggung

Semenjak perjalanan gaib memikul doa
Aku melihat bulan purnama
Melimpahi tubuhku dengan cahaya
Dan disaat itulah aku terisak
Menyambut sempurna malam Waisak


Mrapen 

Dari rahim suci yang dinubuatkan semesta
Aku mendengar langkah sangha berdebam
Menyulut obor dengan api alam
Sepanjang perjalanan Mrapen - Mendut
Api menunda mati untuk nirwana abadi

Di kelembutan latar Vihara
Aku menakjubi pancaran cinta sangha
Memuja baktikan api alam dengan paritta
Dadaku bergemuruh seperti mantra luruh
Senja itu juga kuyakinkan karma buruk runtuh
-----------------

*) Es Wibowo, Punakawan Padepokan Gunung Tidar Magelang. Buku Puisinya Jagad Batin (2015. Tahun 2013 menerima Penghargaan Seni Budaya. Sebagai ”Senior Sastra dan Seni Ritual” dari Pemerintah Kota Magelang


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Es Wibowo
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 7 Mei 2017

0 Response to "Waisak - Kamadhatu - Umbul Jumprit - Mrapen "