Yang Turun di Lembah Bukit Tanah Karo - Menamsil Tutur Merga Silima | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Yang Turun di Lembah Bukit Tanah Karo - Menamsil Tutur Merga Silima Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Yang Turun di Lembah Bukit Tanah Karo - Menamsil Tutur Merga Silima

Yang Turun di Lembah Bukit Tanah Karo

Bintang dari timur, lebih dulu kami mendengar
turut dari gemuruh langit, senyap air sungai dan
bau tanah. Di lembah-lembah perbukitan, kata
kata jitu telah jadi tatak rama-rama mengerami
tiga butir telur.

Dibata Idatas
Ia yang mencipta bayang-bayang, pemilik
payungan langit, namanya direka atas segala
yang tertinggi di semesta. Kami telah temukan
hubungan kami dengan awan, Guru Batara Atas.
Matahari telah mengukuhkan pandangan kami ke
arah atas dan mengajari kami sejarah yang tak
tertulis pada giras. Bagimu litani kami tutur,
digiring tabuh gendang lima sendalanen.

Dibata Itengah
Kami hanya tinggal sebentar, sekadar meminta
pada batu, ketentuan bagi pijakan kami.
Sekiranya kau izinkan, biarlah ia membisiki kami,
bagaimana caranya agar irama yang ganjil, cuit-
cuit si piso surit tak jadi musuh kami ketika
menyemai benih padi di tanah lapang hatimu,
Tuan Paduka Niaji. Di tebing-tebing kami toreh
tabas, larik-larik mantra penyejuk yang
diturunkan Dibata Si Mada Tenuang bagimu.

Dibata Iteruh.
Kegelapan bawah tanah adalah milikmu, maka
suatu nanti akan kami serahkan tubuh kami
dalam pangkuanmu. Tapi janganlah kau turut
tenggelamkan jiwa kami dalam panasnya pendar
magma. Biarlah seribu doa kami padatkan dalam
satu lantun ngandung yang mengantarkan kami
kelak padamu, Tuan Banua Koling.


(Kandang Singa, 2017)


Menamsil Tutur Merga Silima

Tarigan.
Kata-kata adalah milikmu, titian lurus tempat nyanyian
menemukan maknanya serta kesaktian lidah yang tak
melulu bergantung pada tajamnya. Helaan sekali tarik
nafas mesti selalu lolos dari jepitan amarah. Agar
terlihat kelit kelindan jurus lihai silat kalimatmu, lantas
bertemu muaranya juga. Maksud akan selalu
memelukmu selaras dengan kata-kata yang kau pilih
jadi milikmu.

Karo-karo.
Maka pikiran akan selalu berdenting bersama dengan
laku-lakumu. Bersanding ataupun menjurus berbalik
dalam hitungan satu-dua-tiga permulaan gerak
pertamamu. Keduanya menelusup ke dalam luasan
jangkau kata-katamu, bisik-bisik cahayya berpendar
tanpa halau sembilu batasnya. Dan hasrat tak pernah
lamur dalam kepura-puraan dunia, ia selalu
mengajkmu melawat hidup meski sesekali tersesat
pada pijakan kakimu sendiri.

Ginting. 
Menangkap muslihat dan pekat lantang kata-katamu,
hingga lafal tak lagi bisa menentukan kata yang
terucap. Tampillah di tengah lantang jantung siapapun,
sementara keberanian masih mencari tamsil dirinya
dalam gelombang pasir. Ketika sungai-sungai belum
juga menemukan muaranya dalam dirimmu, menyusur
geliat hasrat. Tapi kau selalu menemukan diirmu
dalam keyakinan tak akan tersesat.

Sembiring.
Kedalaman makna telah kau telusuri sejak kesuburan
perasaan sabar telaah kau rawat dalam warna biru kata-
kata. Tampiklah cinta yang menyiasatimu meski abar-
abar kau gatung menutup ruang kosong di sela-sela
ungkapan jantung hatimu. Sesungguh-sungghnya kata
dan raga yang hidup milikmu tak akan
meremangkanmu dengan teka-teki bersilang atau
jawaban penerimaan dari semua orang.

Perangin-angin.
Tambar malem, penyejuk yang telah kau ramu dari
lumat tumbukan petuah. Lidah yang menghibur, telah
menyembunyikan tajamnya sedalam-dalam cermin
menyimpan bayang. Tapi kau selalu menemukan wajah
kata-kata yang berbahagia dalam dirimu. Kau susun
sebagai kesejukan dalam hujan badai atau cuaca panas
sedih sembilu yang lain

(Kandang Singa, 2017)


Marsten L. Tarigan, lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 23 Februari 1991. Buku kumpulan puisinya, Mengupak Api yang Hampir Padam (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marsten L. Tarigan 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 6 -7 Mei 2017

0 Response to "Yang Turun di Lembah Bukit Tanah Karo - Menamsil Tutur Merga Silima"