Angpau - Oen - Lawang Sewu - Gereja Blenduk | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Angpau - Oen - Lawang Sewu - Gereja Blenduk Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Angpau - Oen - Lawang Sewu - Gereja Blenduk

Angpau

Tanda kasih ini dari yang kaya kepada yang
tak berpunya. Untuk memperpanjang hari
Untuk merayakan hati. “Ada tahun yang
menunggu, tak sabar menemuimu.”
Lirih mereka mengucap terima kasih.

Tanda sayang ini dari yang dewasa untuk
yang masih belia. Agar mereka percaya bahwa
masa depan selalu terbuka. “Jadikan almanak
lama sebagai batu loncatan bagi niat baik
dan harapan.” Mereka tersenyum dengan
tatapan sebening embun.

Tanda cinta ini dari yang perkasa kepada
kaum yang lemah. Berharap mereka tahu,
tak semua serakah dan menguasai yang kalah.
“Selalu ada yang tumbuh dan tanggal.
Seluruhnya berputar.” Kepercayaan itu
mereka genggam, tertanam dalam

Jakarta, 17 Januari 2017

Oen

Apa yang kaukenali dari sesapan pertama?

Masa kecilmu: hilir mudik dari lidah ke lambung
Rasa manis yang merata, rasa asam yang melata

Takkan terlupa nama kekasih yang menciummu
Di balik rak baju toserba itu

Kenangan adalah langit sore yang berulang kali
datang, meski kau tak menjumpai
Ia mencatat sendiri pada halaman usiamu
Hal-hal penting yang membuatmu terharu

Apa yang tersisa dari sesapan terakhir?

Sebuah bimbang yang selalu ditimbang
Sekeluar dari kedai es krim itu:
Ke mana kakimu melangkah?

Di baratlaut ada sebuah pasar dan
tempat ibadah. Di tenggara terbentang taman

Bibirmu yang ranum tersenyum
Ada rencana tak terucap
Tetap dikulum

Jakarta, 20 Januari 2017

Lawang Sewu

Tak perlu menghitung penghuni gedung itu
Mereka selalu ramah menyapamu abad demi abad
Atau bercakap seperti para anemer
Pada sebuah biro yang hangat

Sepanjang lorong yang menjadi sela antara
ruang dan taman, tilas sepatu itu bicara
Atau sebetulnya bertanya:
“Kapan pensiun dari perasaan jemu?”

Dalam sunyi yang dikejar waktu, sebagian
besar orang menunggu
Kereta api tiba tak tentu, sebab sejak berangkat
ia membawa ragu dalam gerbong-gerbong masa lalu

“Jangan lupa singgah. Kapan sempat, terserah.”
Mereka merasa hidup ini semacam langsir
Perlu mundur kembali setiap kali jam kerja berakhir
“Aku hanya ingin tetirah, sebelum akhirnya menyerah.”

Kini relung-relung itu tak lagi gelap
Dari jendela kaca patri di loteng, membias spektrum
warna. Separuh cahaya membawa hangat cahaya
Sisanya mengisi laci-laci yang terbuka

Jakarta, 21 Januari 2017

Gereja Blenduk

Misa pertama terhapus sarapan pagi

Di sudut yang karib, aroma soto itu berjanji
Membekali santan kunyit untuk rekreasi
Berjalan riang di terakota yang membentang

Lalu sebuah permintaan terdengar manja

“Aku mau berfoto di teras itu. Buatlah seperti
selembar kartu pos. Dan aku boneka yang lucu.
Berdiri di ambang pintu.”

Terik siang memanjang
Terhidu sengat asap daging bakar
Memanggil-manggil rasa lapar

“Aku mau tambah sepiring tulang sumsum.
Kecap dengan irisan bawang ranum.”

Masih dengan sepatu yang menyimpan tatu,
kita ikuti misa sore
Doa yang terlindung gerimis lebih cepat sampai

“Sebelum pulang, abadikan aku di tengah
merah senja dengan kubah anggun itu.”

Jakarta, 21 Januari 2017

- Kurnia Effendi lahir di Tegal, 20 Oktober 1960, tinggal di Jakarta. Buku terbaru Senarai Persinggahan (puisi, 2016). Kumpulan cerpen Kincir Api (2005) masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award, Anak Arloji (2011) menerima penghargaan sastra dari Badan Bahasa 2013. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kurnia Effendi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 18 Juni 2017

0 Response to "Angpau - Oen - Lawang Sewu - Gereja Blenduk"