Cok Bakal - Syajarah - Mendengarkan Kutut Manggung - Perjalanan Lada | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cok Bakal - Syajarah - Mendengarkan Kutut Manggung - Perjalanan Lada Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:33 Rating: 4,5

Cok Bakal - Syajarah - Mendengarkan Kutut Manggung - Perjalanan Lada

Cok Bakal

karena di perempatan jalan 
banyak orang hilang arah 
bertapalah di sini 
menafsir penjuru mata angin 

di perempatan jalan 
para pedagang menoleh kiri-kanan 
mencari arah rejeki 
diamlah menebak pembeli 

di perempatan jalan 
pemuda bertemu pemudi 
janji sehidup semati 
setialah sampai bumi menuntut janji 

di perempatan jalan 
bocah-bocah ditinggal bapak 
hilang arah sabarlah 
seperti bayang-bayang 
bujang merangkap tuan 

di perempatan jalan 
orang-orang bersilang arah 
menjulurlah di sini 
sulur tempat bergantung 

di perempatan jalan 
orang-orang melambaikan tangan 
sabarlah sebagai musim 
selalu siap berganti 

di perempatan jalan 
segala cuaca berjumpa 
kekallah bagai sunyi 
menyambangi hari 

di perempatan jalan 
orang-orang bersilang muka 
gemeretaklah serupa kayu menyala 
tempat bara bertukar rupa 
menjadi api

Mendengarkan Kutut Manggung

aku terseret dalam ceruk-ceruk lembahmu 
di sini adakah jalan pulang bagi para petualang 
yang telah suntuk menggelar pertemuan dari kutub ke kutub 
menandai setiap tikungan jalan dengan wajah pasrah menunggu waktu 

pada notasi-notasi resahmu yang meliuk-liuk aku takluk 
terperangkap lancip sunyi yang menyelinap di kelopak mata 
seribu jejak mengapung di udara 
dan rimbun kata-kata ambyar menjadi mantra 

Ngawi, 2015

Syajarah

semua diciptakan untuk tumbuh 
menghujam lesap ke pusat jagat 
mengacung lurus mengetuk-ngetuk langit 
dari sebulir biji mengembang jadi batang 
menghadang cuaca membaca taufan 

sebulir biji jadi dahan 
menafsir takdir sebelum daun tanggal
memeluk bumi setelah lelah melafal riwayat
bersama silsilah yang digelar serupa peta
amsal-amsal musim dalam jagat gelisah

Solo, 2017

Perjalanan Lada

kau pasti tak percaya: betapa kencang taufan bertiup 
di jaring layar yang koyak moyak ini 
bendera melambai sayu dan letih 
sebotol minuman keras menyendiri di pojok 
bersama kelasi tua yang payah dengan kulit berkudis
meja nahkoda menggelimpang menindih peta yang kumal
almanak yang geripis oleh taring-taring rayap
betapa bisa musykilnya sebuah romantika perjalanan
dan engkau setia bersamanya memahat riwayat
yang tak bosan dikisahkan pada anak cucu
pada jamuan malam dan upacara-upacara

Ngawi, 2016


Tjahjono Widijanto lahir di Ngawi, Jawa Timur, 18 April 1969. Kumpulan puisinya antara lain "Janturan" (2011) dan "Singir" (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widijanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi 10 Juni 2017
 


0 Response to "Cok Bakal - Syajarah - Mendengarkan Kutut Manggung - Perjalanan Lada"