Kepada Lelakiku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepada Lelakiku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:51 Rating: 4,5

Kepada Lelakiku

MERENDAM kedua telapak kakimu dengan air suam-suam kuku bergaram adalah tugas utamaku saat kau mengunjungi rumah bilikku. Selanjutnya, telapak kakimu kubasuh dengan air dingin dan kukeringkan dengan handuk kecil berbulu lembut, adalah kenangan yang kusimpan dalam perasaanku yang paling dalam. Karena, kenangan itu tidak hanya indah tapi juga memberi arti dalam hidupku. Kau jadikan aku seorang ibu, menyusui dan membesarkan bayi lelaki yang kau beri nama Lanang Buana. Walau anak lelaki yang mewarisi ketajaman sorot matamu dan kekekaran tubuhmu itu tak pernah mengenalmu, sebagai ayahnya.

Kuhitung dengan telunjukku yang kuacung-acungkan di udara hampa, tahun itu memasuki angka ke-23, saat-saat terakhir aku mengeringkan kedua telapak kakimu dengan handuk kecil berbulu itu. Lalu, kau memelukku dengan kehangatan yang membuahkan benih Lanang Buana dalam rahimku. Menjelang pagi kau tinggalkan ambenku—tempat tidur bambu saksi bisu saat kita berdua menyatu dalam puncak asmara. Kupegang tangan kananmu, agar kau menunda langkahmu.

“Maaf, aku harus pergi. Urus saja semua surat untuk pernikahan kita,” katamu, sambil menyerahkan amplop cokelat besar, begitu berat di kedua tanganku.

“Ini apa, Mas?” tanyaku, terkejut, sambil membuka amplop. “Uang sebanyak ini?”

Kau tak menjawab. Telunjukmu yang kau tempelkan vertikal di bibirmu memberiku isyarat agar aku diam. Tapi, aku tak bisa. Aku mencecarmu, menanyakan dari mana asal uang segebong yang kau berikan padaku.

“Aku tak ingin uang sebanyak ini. Yang kuinginkan … engkau, Mas … kau, mengurus surat-surat pernikahan itu—kita bersama-sama. Agar semua orang tahu, kau … kau adalah Lelakiku … kau calon suamiku, bapak dari janin yang kukandung saat ini.”

“Hussss … jangan kau nodai kehangatan asmara kita semalam, juga selama ini …” kau menukas kalimatku, sambil memelukku. “Kau perempuanku, perempuan calon istriku, perempuan yang tidak hanya bertubuh sangat indah, tapi juga kuat … mandiri. Maka, aku memilihmu, pelabuhan asmaraku …!” Pelukanmu makin ketat, sangat ketat, kemudian kau lepas perlahan … tubuhku bergetar.

Kau tinggalkan rumah bilikku, menuju truk yang kau parkir di ujung jalan. Pagi masih berkabut, bayang-bayang tubuhmu yang berbalut jaket dan kepalamu bertopi pet tampak samar-samar. Bahkan, bayang-bayangmu lalu menghilang ketika air mataku jatuh bercucuran. Tak sempat aku menanyakan, kapan kau kembali datang: esok, lusa, atau minggu depan? Perkawinan kujadwalkan awal bulan depan.

***
Namaku sangat singkat, hanya terdiri dari lima huruf: Mirah. Entah itu nama asliku atau nama pemberian Ibu Kardinah, Kepala Panti Asuhan Sekar, tempat di mana aku tumbuh hingga keluar panti—bekerja sebagai pelayan di Warung Sumeh milik Mbok Sinar. Warung Sumeh yang artinya warung yang selalu tersenyum itu berlokasi di wilayah Pantura yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Warung Sumeh berada di antara jajaran puluhan warung lainya yang dikenal dengan julukan: warung remang-remang. Sesuai dengan sebutannya, lampu yang menerangi warung-warung tersebut hanya temaram. Itu kabarnya, atas permintaan para pelanggannya, hampir semua lelaki, menginginkan atmosfer relaks. Maksudnya, menikmati makanan sambil bercengkerama dengan para pelayan warung yang umumnya terdiri dari perempuan muda yang sumeh pula. Tapi kata sumeh, ditafsirkan tidak hanya murah senyum, tapi lebih dari itu—memberi pelayanan asmara.

Tapi, Mbok Sinar tidak pernah sekali pun menugaskanku jadi perempuan sumeh. Ia mempekerjakanku sebagai pelayan murni dari pagi hingga siang menyuruhku melanjutkan sekolah hingga tamat SMA. Ia juga sering mengajakku pulang ke rumahnya, rumah yang sekarang ini kutempati, agar aku tidak tidur di warung. Mbok Sinar menginginkan suatu saat aku bisa bekerja ngantor—jadi karyawati. Cita-citanya, aku bisa diangkat sebagai pegawai negeri. Ia rajin menabung, katanya untuk membiayaiku jadi pegawai negeri alias untuk nyogok. Maka upahku bekerja darinya kuminta agar ia simpan saja. Sejak itu, Mbok Sinar mengangkatku sebagai anak dengan ditandai bubur putih-bubur merah dibagikan kepada para tetangga warung. Kala itu, usiaku memasuki 19 tahun.

Seminggu setelah Mbok Sinar mengangkat anak aku, ia jatuh sakit. Tengah malam, ia mengerang-erang sambil memegangi perutnya bagian bawah. Aku panik. Seorang lelaki bertubuh kekar, turun dari truk yang dikemudikannya, menghampiriku. Ia menolongku membawa Mbok Sinar ke rumah sakit terdekat. Tapi hanya bertahan seminggu, Mbok Sinar lalu meninggal pas tengah malam. Entah mengapa, lelaki bertubuh kekar itu datang kembali saat aku kebingungan membawa pulang jenazah Mbok Sinar. Lelaki bertubuh kekar itulah yang membawa jenazah Mbok Sinar kembali ke rumahnya. Tapi ia lalu pergi seperti angin, tak menampakkan batang hidungnya ketika Mbok Sinar dimakamkan. Baru ia muncul kembali, setahun setelah Mbok Sinar dipanggil-Nya. Ia mengetuk rumah pintu Mbok Sinar, rumah yang kutempati.

“Ohh … sampeyan, Mas? Kok baru kelihatan setelah lama tak muncul? Ada apa malam-malam begini kok datang?” sapaku waktu itu, gugup.

“Tolong, kaki saya sakit,” sahut lelaki bertubuh kekar, bertopi pet seperti biasanya. 

“Ohhhh,” tanggapku, sambil mengamati kedua kakinya yang bengkak.

“Punya garam?” tanyanya, suaranya memelas.

“Punya,” sahutku spontan.

“Tolong, rendam kaki saya dengan air suam-suam kuku bergaram, nanti bengkaknya akan hilang,” pintanya halus dan sopan. “Dua puluh menit kemudian, tolong keringkan dengan handuk ini. Biar nyaman,” sambungnya, sambil menyerahkan handuk kecil kepadaku. Kuamati, handuk itu berwarna cokelat berbulu lembut. Selembut telapak tangannya yang menyentuh ujung-ujung jariku.

***

Lelaki yang bertubuh kekar, bertangan lembut, dan bertopi pet adalah dirimu, Mas: Lelakiku. Lelaki yang kukenal tiga tahun, tapi sangat asing—sebetulnya. Betapa tidak? Aku tak tahu namamu yang sesungguhnya. Kau mengaku sebagai sopir truk, tapi telapak tanganmu begitu lembut. Setahuku, umumnya sopir truk bertelapak tangan kasar, bahkan kapalan. Kedua telapak kakimu juga bersih dan tumitnya utuh, mulus. Tak lazim sopir truk bertelapak kaki begitu rupa. Tubuhmu juga wangi, sewangi rambutmu dan mulutmu. Gigimu juga putih, berderet-deret rapi. Kumismu memang tebal, tapi kala mencium pipiku terasa empuk seperti sapuan beludru. Ketika kau makan, tak terdengar lidahmu berkecap-cepak. Mas, kau mengunyah dengan lumatan santun. Begitu pula saat kau meneguk air. Siapakah engkau yang sebenarnya?

Aku tak berani terus bertanya dan bertanya lagi tentangmu. Bahkan, aku takut menegaskan siapa namamu yang sebenarnya. Kau suruh aku memanggilmu: Mas Gagah! Maka, aku pun memanggilmu Mas Gagah. Kau ternyata tidak hanya gagah raga, tapi juga gagah dalam menuntun jalan hidupku ke titik lebih baik. Kau suruh aku menutup Warung Sumeh, mengganti pekerjaan: jualan kain di pasar. Kau pinjami aku uang untuk menyewa kios dan sisanya kugunakan kulakan kain. Bahkan kau menambah modalku berupa berlusin-lusin kain batik cap dan daster yang kau datangkan dari Pasar Klewer Solo. Katamu, kau ambil dari seorang sahabatmu.

Sayangnya, kau tak pernah mau memperkenalkanku dengan sahabatmu itu. Yo wis. Aku mengalah. Tapi, perasaanku tak enak. Kau terlalu baik padaku. Maka, aku pun memutuskan, menyerahkan diriku untuk menghiburmu. Ya, menghibur ragamu … raga yang ternyata begitu hangat dan membakar keperempuananku. Kegagahanmu membuatku ingin senantiasa dekat dengan dirimu, dalam kehangatan yang membakar tapi aman. Aku pun jadi larut, tak sadar berkubang dosa. Aku dalam kelam.

***
Kau, Mas, Lelakiku ….

Kau tak pernah datang lagi setelah menyerahkan uang yang kusebut sakgunung jumlahnya. Padahal surat nikah itu telah kuurus. Pelaksanaan pernikahan, sesuai dengan tanggal yang kita sepakati bersama. Usia kandunganku memasuki minggu ke-15, lekukan pinggangku pun menghilang. Tubuhku yang langsing mulai menggemuk, benihmu menumbuh subur dalam rahimku. Aku sedih, kau tak juga muncul. Tapi, aku tidak marah—apalagi dendam padamu. Ya, kecewa tentu. Juga, aku takut kepada Tuhan. Aku makin terpuruk dalam kubangan dosa.

Kutinggalkan rumah Mbok Sinar, aku ke Jakarta. Aku menyerahkan diri pada sebuah panti, yang diasuh oleh seorang biarawati. Kuceritakan siapa aku dan janin yang kukandung—dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang kututupi. Kuserahkan pula dua-pertiga uangmu untuk panti yang bersedia menampungku dan menolongku saat bersalin. Bahkan, juga merawat bayi kita. Bayi itu lelaki dan kunamai Lanang Buwana, seperti yang pernah kau bisikkan kepadaku saat aku memberitahumu bahwa aku mengandng benihmu. Nama Putri Rembulan kusimpan, karena itu nama yang kau persiapkan jika aku melahirkan bayi perempuan, benihmu yang kukandung. Mas … Mas … engkau di mana?

***
Seperti yang kau tahu, aku tidak suka nonton televisi. Tapi akhir-akhir ini, sejak aku berada di gerbang memasuki usia kepala lima, aku jadi suka nonton televisi. Kau tahu mengapa? Karena, Lanang Buwana, anak kita, sering muncul di televisi main bola. Ia jadi pemain bola. Tentu, kau bangga jika menyaksikannya. Maka tak heran, jika aku selalu betah di depan televisi menunggu kemunculan Lanang di layar kaca. Ia penjaga gawang yang tangguh, karena bertubuh kekar dan gagah sepertimu, Mas.

Karena prestasi Lanang, aku juga jadi suka baca koran. Yang kupilih, lembar olahraga. Dan, dan … pada suatu pagi aku melihat sosok berwajah seperti wajahmu—wajah yang pernah kukenal dulu, dulu sekali! Wajah itu dipampang di lembar halaman depan. Kuamati dan kuamati, terus kuamati, sampai mataku berair dan tubuhku gemetar.

“Lihat gambar siapa, Bu? Kok serius amat … sampai nangis segala,” suara Lanang lembut, tapi kudengar bernada lantang.

Aku tak mampu menjawab. Kepalaku sangat pening. Lamat-lamat kudengar suara Lanang terheran-heran. “Oh, foto si buron—Gembong Bajing Loncat! Anehnya, dia berasal dari keluarga ningrat … ck … ck … ck … kok bisa ya? Tapi, apa ya yang membuat ibu nangis?”

Aku makin diam. Jantungku ngilu. Hatiku pedih. Lalu, tubuhku tak bisa kugerakkan.

Rujukan
[1] Disalin dari karya Naning Pranoto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tablid Nova" edisi 1274/XXV 23 – 29 Juli 2012

0 Response to "Kepada Lelakiku"