Kredo Pendidikan - Yang tak Hendak Berhenti Memeluk - Ode buat Morrisey | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kredo Pendidikan - Yang tak Hendak Berhenti Memeluk - Ode buat Morrisey Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Kredo Pendidikan - Yang tak Hendak Berhenti Memeluk - Ode buat Morrisey

Kredo Pendidikan

Undang-undang dasar,
bagimu pendidikan.

Pasal satu, bahwa dengan rahmat
kurikulum yang mahaesa
bangku-bangku ujian nasional
adalah sesungguhnya saksi bisu
pencitraan dan penceritaan:
harap tenang

Pasal dua, bahwa serahmat-rahmatnya
pagar sekolah yang ditutup pukul tujuh,
upacara bendera adalah junjungan
setiap insan demi masa depan,
kedisiplinan

Pasal tiga, sebagaimana nas Ki Hadjar
membangun rukun taman
di dalam dada setiap siswa
adalah hak dan kewajiban!

Yang tak Hendak Berhenti Memeluk

Sebab warna-warna menghanyutkanku, Ibu
kepada angin penghujan yang membuat pintu
kamarku menderit-derit, memintaku,
pulanglah ke suatu masa
berdamailah.

Warna-warna bermunculan dari
lanskap mana saja, dari yang tumbuh
dari yang lenyap, yang akan, yang sedang;
kadang kita lupa pada tanda-tanda
yang membikin cahaya itu bernama.

Lantaran warna-warna yang dilempar
anak-anak kampung selekas bermain
di pinggir kali berair cokelat telah mengubah
pandangku bahwa bayangan-bayangan sore
adalah petunjuk, bahwasanya musim seperti
kaca-kaca yang pecah, membenamkan
seluruh pantulan kelu
yang dibekap waktu.

Di pucuk bunga-bunga plastik
yang entah sebagian dari aku pun
belum mengenal sungguh ini warna
ini aroma, bentur kenyataan atau kepalsuan;
Ibu mengajarkanku bertutur kepadanya:
Kemarilah,
bertandanglah dari ragu
telah kukecup dagumu
telah kutahir mataku
telah kuiris lidahku
yang kaku
menyebut-nyebut
jalan masuk kita teramat
melankolis.

Ode buat Morrisey

Mari masuk mari rasuk
cinta-cintaku, cinta kami
yang terantuk selagi tak
membesuk

Berbahagialah dalam malam
yang cahayanya dikerek purnama
sebelum tahun-tahun menjadi genap
dan gegap bersekutu dengan para
pemecah kembang api; kami tetap
maju meski disaru tetek-bengek
peradaban.

Berbahagialah dalam silsilah
yang dinyatakan antara kenyataan
dan kepalsuan; sebab parasmu
bukanlah bayang-bayang
pada punggung penahan beban
yang wajah luarnya serupa
pucuk-pucuk gunung es.

Berbahagialah dalam terang
yang pendarnya ditarik-ulurkan
sulur matahari, yang kejatuhannya
menumbuhkan segala yang baik
maupun buruk. Berbahagialah
dalam ninabobo para pendahulu
yang barang kali memang
berbuat untuk masa depan;
masa kini buah hasil yang kentara
nama-nama yang melemparkan
asal mula bahasa dari menara;
berbahagialah, bernyanyilah
di samping kami bersama sembilu
syarat rujukan keselamatan.

mari masuk mari rasuk
cinta-cintaku, cinta kami
yang belajar tak terjebak
dari macam rasa kemaruk

Ganjar Sudibyo, ialah penulis puisi, esai, serta resensi di berbagai media cetak nasional. Bergiat mengelola komunitas sastra Lacikata Semarang dan Majalah Sastra & Budaya Kanal. Buku antologi tunggal sepilihan sajaknya yang telah terbit: Pada Suatu Mata, Kita Menulis Cahaya (Epilog: Joko Pinurbo), 2013 & 2015. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ganjar Sudibyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 18 Juni 2017

0 Response to "Kredo Pendidikan - Yang tak Hendak Berhenti Memeluk - Ode buat Morrisey"