Kucing Kesayangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kucing Kesayangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:00 Rating: 4,5

Kucing Kesayangan

HARI SABTU ANNA datang dengan membawa kucingnya.
 
Sophie sudah pernah melihat foto Anna, yang disimpan Gordon dalam lacinya. Ternyata orangnya lebih menarik. Dari jendela Sophie melihat Anna mengeluarkan kucingnya. Anna, mantan istri Gordon, adalah penulis di sebuah majalah di Boston. Ia juga menulis buku cerita anak namun tak berhasil diterbitkan. Ia pendek dan kurus, dengan payudara kecil dan berambut hitam tebal sepanjang bahu.

Anna meninggalkan Gordon karena laki-laki lain. Sekarang ia meninggalkan laki-laki itu juga, dan katanya perlu bantuan Gordon untuk memelihara Violet, kucingnya, sampai ia mendapat apartemen.

Kemarin ia menelepon dan meninggalkan pesan, menyebut dirinya sebagai Anna Phelan—nama belakang Gordon; secara hukum mereka masih suami istri—dan mengatakan, “Kita perlu bicara. Tentang Violet.”

Sophie memutar rekaman pesan itu berulang-ulang, mendengarkan suara berat Anna yang bernada bossy, dan bertanya-tanya siapa gerangan Violet itu. Ketika Gordon pulang dan menjelaskan bahwa Violet adalah seekor kucing, Sophie bilang ia konyol kalau mau berbicara dengan Anna, apalagi membantunya.

Tapi sekarang laki-laki dewasa itu—dan seorang dokter gigi pula—berdiri di depan rumah dengan kotak kotoran kucing dan mainan berbentuk lumba-lumba di tangannya.

Mereka menaiki tangga. Anna meletakkan kantong makanan kucing dan mengelap tangannya dengan celana jinsnya. “Well, kau pasti Sophie.” Ia tertawa. “Gordie banyak bercerita tentangmu.”

“Aku juga banyak dengar cerita tentangmu,” jawab Sophie.

Beberapa kali Anna mondar-mandir ke mobil untuk mengambil berbagai perlengkapan: kotak pasir, sekop, mainan, bola kain, obat-obatan, makanan kering, makanan basah, mangkuk, kalung. “Mengerikan,” kata Sophie melihat tumpukan perlengkapan itu di dapur.

“Tenang,” kata Gordon. “Cuma sebentar.”

Akhirnya Anna membawa kucing itu.

Violet berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. Ia mencengkeram kaus Anna. “Ia takut berada di tempat baru,” kata Anna sambil membelainya. “Iya kan manis?”

Kucing itu menjilat pipi Anna. Sophie manahan napas; tak terbayang lidah kecil hewan itu menjilatinya.

Gordon meraih kucing itu, dan dengan nada seperti berbicara kepada anak kecil ia berkata: “Kau suka di sini kan, Violet? Pasti kau suka. Mau kenalan dengan Sophie?”

Sophie menjauh. “Tak usah.”

“Kau tak takut kucing, kan?” tanya Anna.

“Aku tak takut, hanya saja tak suka.”

Gordon menyodorkan kucing itu kepada Sophie. “Ini, coba kau pegang, supaya ia terbiasa denganmu.”

“Tidak, tak perlu.”

Gordon mendekat.

“Gordon,” katanya.

Laki-laki itu membimbing tangan kecil hewan itu, melambai kepada Sophie. “Hanya Violet mungil saja, kok,” kata Gordon.

Anna tertawa. “Sini, Gordie, berikan kepadaku.” Ia menimang-nimang kucing itu dalam pelukan sembari mengelus-elus kepalanya. “Sayang …. Hei, dengar suaranya.”

Mendengar suara kucing itu, Sophie merinding. Dapurnya mulai diwarnai bau kucing.

Dalam perjalanan keluar Anna berhenti di ruang duduk dan mengamati gambar yang tergantung di atas sofa, bunga dengan benang sari merah membesar. “Aku punya teori tentang orang yang menyukai karya O’Keefe,” katanya.

“Kau mesti menulis artikel tentang itu,” kata Sophie. “Atau mungkin menulis buku.”

Sophie meraih surat kabar, duduk dan berpura-pura membaca. Gordon mengantar Anna keluar, berdiri di depan rumah sampai wanita itu berlalu dan melambaikan tangan seperti orang tolol.


SOPHIE DAN GORDON belum enam bulan berhubungan ketika akhirnya memutuskan untuk menempati rumah di Packard Street. Hari pertama mereka di sana diwarnai dengan pertengkaran. Itu terjadi ketika Gordon mengangkut tempat tidur ukuran queen yang dulu ditidurinya dengan Anna.

“Keluarkan, sebelum rumah ini kena kutukan,” kata Sophie.

“Demi Tuhan, kenapa kau ini? Percaya takhayul?

Berkali-kali mereka saling mendorong, Gordon memasukkan, Sophie mendorongnya keluar. Mula-mula Sophie mencoba bersikap manis tetapi akhirnya ia memaksa, “Kita pakai tempat tidurku. Titik.”

Gordon mengingatkan, tempat tidur Sophie ukuran double. “Kurang besar untuk tidur berdua.”

Sophie tersenyum dan mengatakan, tempat tidur double dirancang untuk berdua. “Itulah sebabnya diberi nama seperti itu,” jelasnya.
“Dua orang kerdil, barangkali. Bukan dua orang ukuran besar.” Gordon menurunkan tempat tidur tadi dan mengusap keringat di dahinya dengan sapu tangan.

Gordon keras kepala—bahkan seperti banteng; menurut Sophie, mungkin harus bergitu untuk dapat masuk sekolah kedokteran gigi—dan tampaknya argumen mereka akan terus berlangsung sepanjang malam hingga nantinya mereka mesti tidur di rumput. Akhirnya Sophie mengajaknya pergi membeli tempat tidur baru. “Ukuran queen,” kata Sophie. “Setuju?”

Gordon menghempaskan pundak. “Baiklah.”

Sophie mencium pipinya. “Sekarang, tinggalkan barang itu di garasi. Lebih baik lagi kalau kau bakar.”

Akhirnya Sophie menang. Setelah itu menyusul benda-benda lain. Dapur, kursi, sofa—semuanya dibawa Gordon dari perkawinannya terdahulu. Semuanya jelek: tiruan benda-benda antik, kursi Victoria imitasi, poster-poster murah yang biasa dipasang remaja di kamar kos. Gordon dan Anna membeli barnag-barang itu ketika baru menikah, sebelum mereka mempunyai uang—“Atau selera,” tambah Sophie.

Sekarang Sophie dan Gordon sudah empat bulan tinggal bersama, dan ia singkirkan benda-benda rongsokan tadi serta mendekor rumah mereka dengan gaya baru. Di tengah-tengah ia letakkan sofa kayu ek bermotif oranye biru. Sophie juga memasang lukisan O’Keefe di sana-sini serta menggantung kepala sapi dan tembikar Indian.

Wanita itu delapan tahun lebih muda daripada Gordon, namun setiap kali meringkuk di sofa baru itu dan mengagumi hasil kerjanya, rasanya Sophie tak percaya dirinya cukup berpengalaman juga tentang hidup ini. Kehidupan itu tergantung bagaimana kita membuatnya; kebahagiaan itu adalah sesuatu yang kita ciptakan, bukan sesuatu yang kita temukan. Ia berlangganan koran minggu Times; ia mendapat gaji besar sebagai public relation di Ionic Software Corp; sampai sebelum kedatangan Violet ia merasa hidupnya lebih bahagia daripada yang ia harapkan. 


MEREKA MENARUH KOTAK kotoran kucing dan mainannya di sudut dapur, dekat pintu belakang. Kemudian Gordon tergesa-gesa pergi. Katanya ia terlambat untuk pertandingan golf.

Violet bermain-main dengan bola mainannya. Terdengar bunyi gemerincing ketika bola itu menggelinding di lantai. Waktu kucing itu mencakar-cakar kotak kotorannya, Sophie mulai merasa mual. Ia berbaring di sofa dan membaca, tetapi berkali-kali ia berhenti dan tak bisa mengingat tiga halaman yang terakhir dibacanya, kemudian ia mengulang lagi.

Kemudian Violet mulai diam, dan Sophie pun sama sekali tak bisa membaca. Ia berdiam diri di sofa, mendengarkan kucing itu, takut kalau tiba-tiba hewan itu meloncat ke arahnya. Akhirnya ia ke dapur, terlihat kucing itu meringkuk di dekat stoples tempat tepung dan gula, tertidur pulas. 

“Hush,” usirnya. “Violet. Kau tak boleh tidur dekat makanan.”

Violet membuka matanya yang terlihat berat, memandang Sophie sebentar dan kemudian menutup matanya dan tidur kembali.

Sophie mengambil sapu, dan menyapukan ujung-ujungnya ke meja dapur. “Hush.” Ia menggerak-gerakkan sapu itu. “Violet. Hei.” Akhirnya ia menyodok kucing itu. Violet tersentak dan meloncat. “Ayo turunlah. Jangan dekat-dekat makanan.”

Violet menggeliat, merentangkan telapak kakinya, menguap dan kembali tidur.

Sophie masih berdiri dengan sapu di tangan, berpikir-pikir apa yang harus ia lakukan, ketika Gordon datang membawa tas golfnya. “Ada kejadian apa?”

“Kucing ini tidur dekat makanan. Aku tak bisa menurunkannya.”

Gordon menyuruhnya memanggil pemadam kebakaran.

“Aku tak mau dia dekat-dekat makanan,” kata Sophie menyodorkan sapu tadi. “Ayo turunkan.”

Gordon mengangkat kucing itu dan meletakkannya di dada.

“Apa tak bisa kita taruh di suatu tempat saja?” tanya Sophie. “Mungkin di kamar kosong atau di mana?” Kucing itu melongok dari balik lengan Gordon dan menyipitkan matanya. “Oh, lihat, kucing itu meledekku.”

“Sophie, jangan seperti anak kecil. Dia belum kenal kau. Mungkin kalau sedikit kau belai, dia akan mengenalmu.”

“Aku tak mau menyentuhnya. Pokoknya, taruh di kamar kosong, oke?”

Malam itu Gordon memasak sup Thailand. Sophie menemukan sehelai rambut di mangkuknya dan tak mau makan, meski Gordon meyakinkan bahwa itu bukan bulu kucing. Setelah itu mereka menonton televisi dan masuk kamar.

Malam Minggu, Gordon tak ingin langsung tidur. Sejak mereka tinggal bersama, gairah seksualnya mengikuti suatu pola: Malam Minggu; Minggu siang; Rabu/Kamis malam. Kadang-kadang pagi.

Ia mulai mencium Sophie. Jambangnya menyentuh kulit wanita itu. Pada akhir pekan ia tak mencukur jambang; ia baru membeli Range Rover dan ia pikir lebih cocok jika berjambang, lebih jantan. Tetapi bulu-bulu di wajahnya itu terlihat lucu dan Sophie malu pergi dengannya ke supermarket dalam keadaan seperti itu.

“Gordon, hentikan,” kata Sophie.

Ia mengangkat kepala dari balik selimut.

“Jambangmu,” katanya sambil mengusap pipi laki-laki itu. “Mencakarku.”

“Menggelitik, kan?” katanya sembari membelai paha Sophie. “Iya, kan?”

Sophie menyingkirkan tangan Gordon. “Mencakar,” katanya.

“Sophie,” Gordon mencium perutnya. 

Sophie mencengkeram rambut laki-laki itu. “Gordon, tolong, bercukurlah.”

Gordon menggerutu, menuju kamar mandi. Ketika kembali ke tempat tidur, ia tak bergairah lagi. Mereka saling membelakangi dalam kegelapan.


SETIAP KALI MELIHAT KUCING ITU, Sophie teringat Anna yang mengenakan kaus-T dan mata abu-abunya yang terlihat aneh. Kadang-kadang sepertinya Annalah yang meringkuk, bukan Violet.

Sophie merasa, kucing itu dendam karena ia menggantikan tempat Anna. Hewan bisa merasakan hal seperti itu. Kalau ia memasuki kamar kosong untuk bermain-main dengan Violet—ia berjanji kepada Gordon untuk berusaha melakukan itu—kucing itu tak mengacuhkannya. Suatu saat pernah hewan itu mencakar jari Sophie; Sophie menyembunyikan lumba-lumba mainannya di jemari.

Hal yang paling mengesalkan, kucing itu membuat Anna punya alasan untuk menelepon Gordon hampir setiap hari. Laki-laki itu mengeluh kesal; tapi jelas terlihat, sebenarnya ia juga menikmati hal itu, dan akhirnya Sophie merasa sudah waktunya ia bertindak. Namun ketika saatnya tiba, ia tak tahu harus bilang apa. “Aku tak suka,” hanya itu yang bisa ia lakukan.

Gordon tersenyum dan menepuk-nepuk tangannya—seperti yang ayah Sophie lakukan setiap kali ia marah—dan mengatakan bahwa ia konyol karena mengkhawatirkan hal itu. Tapi kemudian suatu malam Gordon mengatakan, ia setuju Anna mengunjungi kucingnya.

“Di sini? Di rumah kita?”

“Tenanglah,” kata Gordon. “Ini bukan masalah serius.”

Kemudian, Anna pun mulai mengunjungi kucingnya, biasanya setiap Sabtu siang. Sophie berusaha agar ia tak ada di rumah pada waktu-waktu tersebut; ia mengerjakan sesuatu atau pergi berbelanja. Setiap hari Sabtu ia duduk di Friendly’s sambil minum kopi dan menunggu jarum jam menunjukkan angka lima, sembari menenangkan diri bahwa semua itu hanya akan berlangsung sementara dan akhirnya segalanya akan berjalan baik.

Tetapi dengan berjalannya waktu, kamar kosong itu semakin lekat dengan bau kucing, dan Sophie semakin yakin ada sesuatu antara Gordon dan Anna. Setiap malam mereka mengobrol lewat telepon; mungkin hanya soal kucing. Gordon mengunci diri dalam kamar kosong dan kadang-kadang itu bisa berlangsung hingga satu jam, tertawa-tawa.

Suatu hari, ketika Gordon belum sampai ke rumah pukul 6 sore, ia menelepon ke kantor. Katanya laki-laki itu sudah meninggalkan kantor satu jam yang lalu.

Sampai di rumah sudah pukul tujuh lewat. “Ada pasien datang waktu praktek hampir selesai,” begitu alasannya. “Tapi katanya kau pulang pukul 5,” kata Sophie.

“Tolol.” Ia mengambil pensil, kemudian meletakkannya kembali. “Aku harus mencari pegawai baru.

“Jadi kau ada di sana?”

“Tentu saja.” Ia memeluk Sophie. “Kalau saja kau lihat, Sophie. Luar biasa abses pasien itu.”

Napasnya menebar bau alkohol. “Gordon,” kata Sophie.

Laki-laki itu menciumnya. Lidahnya menyisakan rasa minuman keras.

Beberapa malam kemudian Gordon menelepon, mengatakan ia akan makan malam dengan Anna. “Ada kesepakatan yang perlu kami bicarakan,” katanya.
“Kesepakatan,” tegas Sophie.

“Benar. Soal perceraian.”

“Pengacaramu ikut juga?”

“Honey,” katanya. “Yang benar saja.”

Sophie membuat selada tapi tak sanggup memakannya. Bau kucing itu menyebar ke seluruh penjuru rumah. Akhirnya ia bersihkan kotak kotoran kucing, meski Gordon berjanji akan mengerjakan itu.

Sambil membersihkan kotoran kucing dan menahan baunya, ia bayangkan Gordon dan Anna berada di Beshara menikmati makan malam, sementara ia membersihkan kotoran. Bagus, pikirnya. Biarkan dia melewatkan waktu bersama wanita itu dan akan ingat mengapa hubungan mereka retak. Ia harus tenang. Kalau ia marah, hanya akan membuat laki-laki itu menjauh. Dan itulah yang diharapkan Anna, tentunya—tapi ia tak akan membuat wanita itu senang. Ketika ia hendak meninggalkan kamar, kucing itu menyelinap di antara kakinya tapi Sophie menendangnya ke dalam dan membanting pintu kamar. Ia bukan tergolong orang yang kejam tetapi ada rasa senang melihat Violet tersentak.

Di balik pintu kucing itu mulai mengeong-ngeong dan mencakar-cakar meminta keluar. Sophie menuju ruang duduk, berbaring di sofa, memakai headphone dan mendengarkan musik jazz. Ia memejamkan mata dan tak peduli cakaran Violet yang merusak pintu itu.

Waktu terbangun, hari sudah gelap. Ia melepas headphone tadi dan terkejut mendengar tawa Anna. Ia menuju dapur. 

Ada dua botol anggur yang hampir kosong tergeletak di atas meja dapur.

“Hei, itu Sophie,” kata Gordon. “Sini, duduklah.”

“Tidak,” sahutnya. “Kenapa tak kau bangunkan aku?”

Anna bangkit. “Well, sebaiknya aku pergi.”

“Sekarang?” Gordon mengangkat botol anggur. “Masih ada sisa.”

“Kalian habiskan saja,” kata Anna. “Aku sudah cukup.

Sophie tetap di dapur sementara Gordon mengantar Anna keluar. Terdengar gumaman, disusul dengan tawa.

“Telepon aku,” kata Gordon.

Sophie tidur lebih awal. Ia berbaring di dalam gelap, mengenang akhir pekan yang dulu mereka lewatkan di hotel. Ia ingat pertama kali Gordon mengajaknya menonton pertandingan Red Sox dan ia memakan sandwich sosis. Mereka khawatir kalau-kalau bertemu Anna karena ia tinggal di sekitar situ. Tetapi mereka tak bertemu Anna; masa-masa itu Gordon berusaha menjauhkan wanita itu dari hidupnya. Malam hari Sophie kembali ke apartemennya, tidur seorang diri.

Kalau saja saat ini ia masih mempunyai apartemen itu, tentunya ia akan pergi ke sana dan meringkuk di sofa sambil menonton film. Telepon akan ia matikan dan membiarkan Gordon meninggalkan pesan saja.

Gordon membuka pintu. “Sophie? Sedang apa kau?”

Sophie tak menjawab. 

“Sophie, sekarang pukul 9.30. Ada apa?”

Ia menoleh. “Betulkah?”

Gordon duduk di tempat tidur di sisinya. Tercium bau anggur dari mulutnya. “Tentu.”

Sophie menarik napas dalam-dalam. Ia tak ingin marah-marah. Dengan nada tenang ia meminta Gordon bercerita tentang ia dan Anna, selengkapnya.

“Aku dan Anna?” tanyanya. “Kau bercanda? Wanita itu meninggalkanku.” Ia membelai perut Sophie dan menciumnya. Tubuh Sophie terasa hangat.

“Honey, aku ingin meminta sesuatu,” kata Sophie.

“Katakanlah.”

“Singkirkan kucing itu.”

Gordon masih membelai Sophie. “Kami sedang berusaha,” katanya.

Sophie mendorong wajah laki-laki itu menjauh. “Demi Tuhan, Gordon, itulah yang kumaksud.”

Gordon terduduk seketika, seakan wajahnya tertampar. “Ada apa lagi?”

“Soal ‘kami´ itu. Aku tak suka kau dan Anna sebagai ‘kami’. Mengerti? Aku tak suka kau makan malam dengannya, aku tak suka ia berada di rumah kita.”

“Kami berteman, sayang. Kau harus bisa menerima itu.”

“Aku tak mau menerima apa pun. Tidak di dalam rumahku.”

“Sophie,” kata Gordon, “ini rumah kita.”

Sophie terlentang. “Well, kalau begitu menurutmu.”

“Lalu kenapa?” Wajah Gordon memerah. “Kalau begitu menurutku, lalu kenapa?”

Tetapi saat itu Sophie tak ingin bertengkar. Ia menatap keluar jendela dan merenungkan bagaimana ia bisa berada di sana, tinggal di rumah itu dengan dokter gigi itu. Akhirnya Gordon bangkit. “Tutup pintunya,” kata Sophie.


SOPHIE DIBESARKAN di Michigan, di sebuah kota dekat Saginaw, dan rasanya ia tak pernah melihat orang tuanya bertengkar. Mereka generasi kedua asal Jerman dan meski tak tergolong orang-orang yang hangat, mereka selalu menghargai orang lain. Ada aturan tertentu bagi orang yang sudah menikah, dan itu benar-benar diterapkan. Tak ada mantan pacar, mantan suami atau mantan istri datang ke rumah. Orang-orang yang merupakan bagian dari masa lalu, tetap menjadi masa lalu.

Orang-orang di sini termasuk gila, pikir Sophie. Ia benci itu. Keesokan paginya ia berangkat kerja namun tak dapat berkonsentrasi. Ia harus menelepon ke sana kemari namun selalu lupa apa yang harus ia katakan. Setelah menekan nomor telepon dan orang di seberang sana menjawab, ia lupa siapa yang dihubunginya itu. 

Ia menatap foto dirinya bersama Gordon yang terpasang di rak: Gordon memeluknya; mereka mengenakan pakaian renang, dengan senyum ceria. Kalau saja mereka bisa bahagia seperti saat itu kembali. Bagaimana bisa dari keadaan seperti itu menjadi seperti sekarang? Sophie merenung.

Akhirnya ia meminta izin kepada bosnya, dengan alasan tak enak badan. Ia pun meninggalkan kantor. 

Apa yang dlihatnya di rumah hampir membuatnya pingsan. Violet kabur dari kamarnya dan mengacak-acak seluruh ruangan. Tanaman hias tergeletak di lantai. Surat kabar Minggu robek menjadi potongan-potongan kecil dan berserakan di mana-mana. Dan sofa baru itu pun menjadi sasaran, kainnya tercabik-cabik, benangnya menjuntai di sana-sini. Violet duduk di tengah sofa, asyik menjilat-jilat tubuhnya. Ia memiringkan kepala dan seandainya bisa tersenyum, pastilah kucing itu akan tersenyum.

Sophie tak menjerit. Ia tak berteriak atau mengejar kucing itu. Ia letakkan tas kerjanya, menarik napas dalam-dalam dan mencomot kucing itu. Ia mendatangi Pengayom Satwa di Newburyport yang terletak beberapa kilo dari sana dan mengatakan bahwa ia menemukan kucing liar itu.

“Kau tak mau memeliharanya?” tanya wanita yang menemuinya sambil membelai bulu Violet.

Sophie menggeleng.

“Well, sayang sekali. Kelihatannya ia sangat manis.”

“Ya, dia memang manis. Tapi kami tak bisa memelihara hewan.”

Wanita itu mengambil Violet dan menaruhnya dalam kandang. Sambil mengisi formulir dengan nama dan alamat palsu, Sophie melirik Violet. Kucing itu menatapnya dengan mata terbelalak dari balik kurungan besi.

“Apa yang kalian lakukan dengan hewan-hewan ini?” tanya Sophie. 

Wanita itu menaikkan ikat pinggangnya. “Well, kami coba cari orang yang mau memelihara. Tetapi kalau tak ada, setelah tiga hari, kami musnahkan.”

“Oh.” Sophie membuka tas dan menutupnya kembali. “Baiklah, terima kasih.”

Dalam perjalanan pulang, Sophie menenangkan diri, toh itu hanya seekor kucing. Ia melakukan hal yang benar. Kalau ada yang patut disalahkan, Annalah orangnya.


“HERAN, BAGAIMANA BISA kau sedemikian marahnya?” kata Sophie.
Mereka berdua di dapur. Berjam-jam Gordon mengelilingi sekitar tempat tinggal mereka mencari Violet.

“Heran? Itu kucingku, Sophie. Sudah empat tahun aku memilikinya.”

“Kupikir itu kucing Anna.”

“Well, itu kucing kami.”

“Tapi itu kan cuma kucing, Gordon.”

“Aku harus menelepon Anna. Akan kutelepon dia dari kamar Violet.”

Sophie masuk kamar dan berusaha membaca majalah. Dari balik dinding ia mendengar Gordon berbicara dengan Anna. Kemudian terdengar laki-laki itu memanggil-manggil Violet di halaman belakang. Suara Gordon menghantuinya. Ia ingat ceritanya, betapa ketika Anna meninggalkannya ia mengikuti dari belakang dan berdiri di halaman, memohon-mohon agar wanita itu tak pergi darinya. Sophie bangkit dan melihat Gordon di kegelapan, mencari-cari Violet di semak-semak dengan senter di tangannya.

Akhirnya Gordon masuk. “Kutinggalkan makanan untuk Violet.”

Ia melepas pakaian dan membaringkan tubuhnya. Ia meraih remote control dan menyalakan televisi.

“Jangan,” kata Sophie. Wanita itu mematikan televisi dan membelai dada Gordon. “Kemarilah. 

“Mau apa?”

“Kau tahu, kan?” Ia mencium leher Gordon. “Rileks.”

“Sophie. Bagimana aku bisa rileks dalam keadaan begini?” Ia kembali menyalakan televisi.

Keesokan malamnya, Gordon menghubungi Pengayom Satwa terdekat, yang terletak di Lawrence. Kata mereka, tak ada Violet di sana. Ia mendatangi semua tetangga, menanyakan apakah mereka melihat kucingnya. Ia juga mendatangi rumah-rumah di kompleks lain serta memasang pengumuman yang menawarkan hadiah bagi yang menemukan Violet.

Ia kembali memanggil-manggil. Sophie menutup jendela.

Pagi harinya Anna menelepon, mengatakan bahwa ia akan datang nanti malam untuk membantu mencari kucing mereka. Sophie melihat poster-poster yang Gordon pasang pada setiap tiang telepon. Tak terbayangkan, ia masih akan mendengar Gordon memanggil-manggil Violet di halaman belakang. Saat istirahat makan siang, ia mendatangi Pengayom Satwa di Newbuyport dan mengatakan kepada wanita yang menemuinya—kali ini wanita lain—bahwa ia menginginkan Violet kembali. Wanita itu masuk ke dalam tetapi kembali tanpa membawa kucing yang dicarinya.

“Dia sudah tak ada,” kata wanita itu.

“Maksudnya? Ada orang yang memeliharanya? Di mana dia?”

“Mungkin ia masuk rombongan yang mereka kerjakan pagi ini,” jelas wanita itu.
“Kerjakan? Apa maksud Anda?”

“Maaf.”

“Maksudnya ….”

Wanita itu mengangguk. Jantung Sophie berdegup keras. “Kata wanita itu, kucing itu akan dipelihara tiga hari.”

“Ini hari ketiga.” Wanita itu menepuk-nepuk tangan Sophie. “Saya ikut menyesal.”

“Tak apa, aku mengerti.” Sophie kembali ke mobil dan duduk selama beberapa saat, berusaha menenangkan diri.

Sophie membayangkan, malam itu ia masih akan mendengar suara Gordon di halaman belakang. Dan juga Anna—kali ini Anna juga akan berada di sana. Ia memikirkan semua kebohongan yang pernah mereka katakan dan kebohongan lain yang akan ia dengar. Dan sekarang, ia juga berbohong. Ia menjadi sama gilanya seperti mereka. 

Ia menyalakan mobil dan beberapa saat duduk terdiam, mendengarkan deru suara mesin. Ia mengemudikan mobilnya menyusuri tepian sungai menuju Lawrence, lingkungan di mana apartemen lamanya berada. Mereka masih menyimpan datanya, tak perlu mengisi formulir lagi. Ia menandatangani cek pembayaran sewa bulan ini dan uang jaminan.

“Mau melihat-lihat dahulu?” tanya pegawai di sana.

Ia menggeleng. Ia sudah tahu betul bagaimana bentuk apartemen di sana.[]


Keterangan:
1. Judul asli cerpen: Cat Fight
2. Karya asli dari Daniel Lyons


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daniel Lyons yang diterjemahkan oleh Lina Jusuf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 20/XXXI 15 – 21 Mei 2003


0 Response to "Kucing Kesayangan"