Lampion Buat Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lampion Buat Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:10 Rating: 4,5

Lampion Buat Ibu

HATI manusia menyimpan terlalu banyak keinginan
Kepalanya menyusun terlalu banyak rencana
Ada baiknya, sang manusia, sesekali menatap mata kanak-kanak
Untuk bisa kembali menyadari:
Kebahagiaan datang karena kita memberi
Cinta ada karena kita berbagi
Ketakutan sirna karena kita tak punya rasa dengki

Dan untuk hidup, itu cukup.

(Puisi Srilanka—Pengarang Tak Dikenal)
 

Prolog: 
Kenal Adrika? Jika belum, tengok bayanganya di sini. Rambut hitam lurus berponi. Pipi merah jambu. Bibirnya mengukir senyum, memamerkan gigi susunya yang sedikit terlalu maju. Setiap kali aku melihat wujudnya, hatiku serta-merta bernyanyi. Terlebih, jika aku sempat mencuri tatap pada mata kanak-kanaknya yang menyala terang.

Kenal Aku? Jika belum, tak penting. Aku hanya sang udara yang berputar di sekeliling kehidupan manusia. Aku berputar ke segala arah. Hari ini, Jumat Legi, aku ada di sekitar Adrika. Memandanginya, mendengarkannya, menyentuh kulitnya. Kala hari berganti, aku akan kembali berputar, kembali mencari. 

Mencari mata kanak-kanak yang sesungguhnya mengajarkan manusia arti hidup.


IBU RIRIS HARI INI BAIIIIK SEKALI! Anak-anak diberi kertas warna-warni, gunting, lem, dan benang besar. “Kita akan membuat lampion, anak-anak. Kalian tahu lampion?” tanya Ibu Riris. Aku dengar semua bilang, “Tahuuu, Buuu!” Aku juga ikut-ikut bilang begitu. Keras-keras, biar Ibu Riris dengar suaraku. Padahal, hmm, apa, ya, lampion itu?

“Lihat semua. Ayo. Eit, eit …. Tidak pegang-pegang gunting dulu, Aily. Semua lihat sini. Untuk lampion kalian, Ibu sudah siapkan kerangkanya. Yang kalian buat adalah badannya. Seperti ini.”

Apa, sih, itu putih-putih? Yang di meja seperti kawat itu apa? Kerangka itu apa? Yang dipegang Ibu Riris itu apa? Uuuh, lampion itu apa, sih?

“Kalian akan Ibu ajarkan membuat lampion. Ibu siapkan kerangkanya. Kalian buat badannya. Lalu kita satukan dan isi dengan bola lampu … lihat, lihat, nanti akan seperti ini jadinya.”

Haaa …? Wuiii. Bagus sekali! Bagus sekali! Ck, ck, ck. Ibu Riris memang hebat. Dia seperti tukang sulap. Kemarin dia buat kapal terbang dari kertas. Lalu kembang sepatu. Lalu baju boneka. Sekarang, lampion. Bagus sekali. Bagus sekali. Aku mau, deh, buat lampion. Sekarang juga. Se-ka-rang …!

“Ayo. Kalian mau buat warna apa, boleh pilih. Ini Ibu sudah siapkan kertasnya. Bayu mau warna apa? Hijau? Lalu Syadif? Biru? Ini. Lalu … eit, eit. Sabar. Tunggu Ibu panggil namanya. Mmm …. Adrika mau warna apa?”

Aku mau warna pink. Tapi putih bagus juga. Atau kuning ….

“Adrika?”

“Putih, Ibu.”

Kertas putih. Lem. Gunting. Benang.

Kita akan bikin lampion. Ya, ya, ya. Mmm, lampion ini nanti buat Ibu. Buat ditaruh di kamar Ibu ….


UUUH. HIK! AKU NGGAK BISA. Ternyata, aku nggak bisa. Menggunting itu susah sekali. Apalagi harus lurus pada garis putus-putus yang dibuat Ibu Riris. Kenapa, sih, selalu mencong jadinya? Lalu, kenapa Dafa bisa tarik benangnya dengan gampang, padahal jari kelingkingku sampai terlipat-lipat rasanya. Berat. Sakit. Pegal. Tuh, kan … aku nggak bisa. Nggak jadi. Buang aja. Lampion ini terlalu jelek. Aku nggak bisa. Hik, hik. Aku mau nangis aja, deh. Ibu, sih, selalu bilang: sampai seember air matamu, tak ada yang akan berubah. Tapi, aku bener-bener mau nangis. Aku nggak bisa bikin lampion buat Ibu ….

“Bisa, Adrika?”

Hik, hik, hik. Huu. Huu ….

“Lho … kenapa mesti menangis? Apa tanganmu berdarah? Apa ada yang luka? Tidak, bukan? Ayo. Hapus air matanya, Adrika. Bilang sama Ibu, kenapa kamu menangis?”

Ibu Riris nggak akan ngerti! Ibu Riris kan jarinya gendut-gendut seperti pisang susu. Pasti kuat menarik benang. Ibu Riris kan sudah besar. Orang besar bisa menulis, menggunting, membuat garis lurus. Anak kecil selalu mencong-mencong garisnya. Orang besar selalu bisa bikin yang anak kecil tidak bisa. Hik, Hik.

“Adrika.”

“Tadi aku tarik kertasnya kekencengan, Ibu. Terus, kertasnya robek. Terus … hik, hik, mmm … terus aku robekin semuanya. Aku habisin. Aku buang ….”

“Lho ….”

Ibu Riris mengambil kertas putih baru yang bergaris putus-putus di mejanya.
“Ulang saja dari mula, Nak. Kamu pasti bisa.”

“Nggak mau. Susah.”

“Yaaa. Kok, begitu. Tadi katanya lampionnya mau dikasih buat Ibu di rumah ….”
Aaah? Oh, iya. Betul juga. Lampion ini kan mau aku kasih Ibu ….

“Iya, sih. Iya. Tapi, susah.”

“Pasti bisa. Sini Ibu ajarkan. Pegang dengan tangan kanan ….”

“Nggak mau!”

“Coba dulu. Tidak sesusah yang kamu kira. Ibu janji, deh. Mana tangan kanan Adrika.”

Eh? Eeeeh? Aih. Kenapa, ya, kalau duduk dekat Ibu Riris, apa-apa jadi mudah? Lihat, deh. Kertas yang dari tadi tak mau diam di meja, kini tak bergerak. Lihat, guntinganku lurus pada garis yang putus-putus. Lihat, aku punya kertas berbentuk segi enam, seperti teman-teman yang lain. Lihat, aku bisa melipat kecil-kecil dan rapi. Lihat, lihat … lampionku akan jadi ….

“Betul, ‘kan? Adrika bisa? Tidak susah, ‘kan?”

“Iya, Bu.”

“Nanti jadi, deh, lampion Adrika buat Ibu di rumah. Mau ditaruh di mana di rumah?”

Di mana, ya? Ruang TV lampunya ada enam dan besar-besar. Kamar mandi tidak ada cantelan. Mmm …. Oh, di kamar Ibu, dong. Ini kan lampion buat Ibu.
“Di kamar Ibu.”

“Oh, bagus. Ibumu pasti suka.”

“Ibu Riris tahu dari mana kalau Ibu pasti suka lampion aku?”

“Ibumu pernah bilang, apa pun yang Adrika buat di sekolah, Ibu pasti suka.”

“Ibu bilang begitu? Iya?”

“Ibu bilang begitu.”

Ayo. Ayo. Kita gunting lagi lurus-lurus. Kita tarik benangnya sekuat tenaga. Pegal tidak apa, asal lampion ini jadi. Kelingking sakit sedikit, jangan menangis. Toh, nanti aku akan punya lampion cantik sekali. Aku taruh di kamar Ibu. Biar Ibu, sebelum tutup mata sebelum tidur, bisa lihat lampionku. Terus, Ibu sepanjang hari akan ingat aku. Waktu Ibu di kantor. Waktu Ibu di kapal terbang. Waktu Ibu di supermarket.

Capek sedikit tak apa, asal bisa membuat Ibu senang hatinya.


LIHAT, NIH, LAMPIONKU SUDAH JADI. Bagus sekali. Ada namaku kecil di situ. A-d-r-i-k-a. Aku tulis sendiri. Kata Ibu Riris, tulisanku bagus dan huruf D-nya perutnya menghadap ke belakang. Kemarin perutnya aku letakkan di depan. Kata Ibu Riris, itu huruf B. Hari ini tidak salah lagi. Hari ini namaku betul-betul ‘Adrika’, bukan ‘Abrika’, seperti hari Kamis.

Ibu Riris memberi angka 8 untuk lampionku. Lampion Syadif, Dafa, dan Bayu hanya dapat nilai 7. Aku sebetulnya, sih, lebih senang angka 7. Aku kan lahir tanggal tujuuuuh! Tapi, kata Ibu Riris, makin besar angkanya, makin bagus. Kalau lampionku makin bagus, Ibu tentu makin senang. Jadi, yaaa … nggak apa-apa, deh, dapat angka 8.

“Da-dag, Adrika. Aku pulang duluan, ya.”

“Yuk, Adrika. Itu mamaku sudah tunggu aku di gerbang.”

“Adrika, Senin jangan lupa, ya, bawa tempat roti yang Barbie. Biar kita samaan. Aku pulang dulu, ya. Itu Pak Hasan sudah datang ….”

Hah? Aduh. Kenapa semua sudah pulang? Aduh. Ke mana Pak Yassin? Aduh. Aku akan sendirian, nih. Memang, sih, masih banyak anak-anak. Tapi, itu sepertinya anak kelas satu. Itu bukan teman-teman aku. Aduh ….

“Hai, Adrika. Kenapa kamu belum pulang?”

Eh, si Urip. Temanku yang selalu muncul kalau kelas sudah kosong.

“Urip! Kamu ke sini. Mmm, Pak Yassin belum jemput ….”

“Oh. Aku memang belum lihat mobil kamu! Eh, apa itu?”

“Lampion.”

“Apa, sih, lampion?”

“Ya, ini namanya lampion! Nanti di dalamnya ditaruh bola lampu.”

“Wiii ….”

“Atau lilin, Urip. Jadi nyala-nyala, gitu. Ada sinarnya ….”

“Wiii ….”

“Aku bikin ini tadi buat ibuku.”

“Wiii ….”

Gigi Urip kuning warnanya. Dan giginya duduk berjauhan. Seperti anak-anak kalau sedang musuhan. Aku suka takut kalau melihat gigi-gigi itu. Tapi, aaah, Urip selalu baik, kok, sama aku. Bapaknya Urip, temannya Pak Yassin. Tiap pagi dan siang ada di depan sekolah ini. Meniup-niup peluit dan teriak, “Terus, kanan, kiri, ooop.” Kata Ibu, itu namanya tukang parkir.

“Ah. Kamu ‘wiii´ terus dari tadi, Urip. Kenapa?”

“Aku … aku … ingin punya lampion seperti kamu, Adrika. Aku juga mau kasih lampion pada ibuku.”

“Aku bilang juga apa! Kamu sekolah, makanya.”

“Ah, Adrika. Kata bapakku, uangnya belum cukup.”

Ibu benar! Dulu Ibu pernah bilang, ada orang yang punya banyak uang-banyak baju-banyak mainan. Ada orang yang tak punya sama sekali. Orang yang berpunya harus bersyukur kepada Allah, karena diberi rezeki. Orang yang berpunya, kata Ibu juga, harus memberi pada yang tidak ….

“Aku betul-betul ingin membuat lampion seperti ini. Buat ibuku.”

“Mmm ….”

“Seperti kamu bikin buat ibumu.”

“Mmm. Besok, deh, aku ajarin kamu, Urip.”

“Betul?”

“Betul.” 

“Tapi, kan besok libur.”

“Oh, iya. Aku lupa. Besok kita tidak ketemu, ya ….”

“Senin saja kalau begitu. Hei, Adrika. Itu mobil kamu yang merah jambu ….”

“Merah jambu! Merah jambu! Pink, Urip. Itu warna pink. Ya, sudah. Aku pulang dulu, ya. Aku mau cepat-cepat sampai rumah ….”

“Ya, kan bahasa Indonesianya merah jambu …. Mmm, betul, ya, Adrika. Hari Senin aku diajari, ya. Biar lampionnya bisa aku bawa ….”

“Hah? Bawa ke mana?”

“Ke rumah sakit. Ibuku kan sedang tidur di rumah sakit.”

“Haaa?”

“Ibu sudah lama sakit tidak sembuh-sembuh. Makanya tidak boleh tidur di rumah. Harus tidur di rumah sakit, karena di rumah sakit ada selang kecil yang mengisi perut Ibu dengan makanan. Selang itu mahal, kata Bapak. Makanya, uang Bapak tak cukup buat sekolah aku ….”

“Aaah?”

“Kasihan, ya, ibuku.”

“Adrikaaa.”

“Sana pulang, Adrika. Pak Yassin sudah menunggu.”

Bagaimana, ya, rasanya jadi Urip? Pulang ke rumah dan ibunya tak ada? Karena ibunya harus tidur di rumah sakit. Bagaimana kalau Ibu sakit tidak sembuh-sembuh? Oh. Kalau Ibu batuk, itu artinya Ibu akan lemas seharian. Tak bisa baca cerita. Tak bisa main puzzle. Aku sedih sekali. Lalu Urip? Apa tadi katanya? Ibunya tidur di rumah sakit? Tidak pulang? Oh. Oh.

“Adrikaaa.”

“Sebentar, Pak Yassin.”

“Sampai Senin, Adrika. Betul, ya. Ajari aku.”

Terus badan Ibu dimasukin selang, karena Ibu tak bisa makan. Oh. Ibu diam. Ibu kesakitan. Ibu tak bisa ngomong sama aku lewat handphone-nya. Ibu tidur terus, seperti ibunya Urip. Oh, aku bisa nangis karena kangen pada Ibu. Oh, kasihan sekali. Urip pasti menangis juga karena kangen pada ibunya …. Nanti, kalau Urip pulang ke rumah, ibunya tak akan ada di sana ….

“Urip, kamu kepingin betulan lampion ini?”

“Kepingin sekali, Adrika. Makanya ajarin, ya.”

“Ambil ini saja, deh. Tapi, ada namaku di situ ….”

“Haaa?”

“Buat kamu saja lampion ini. Kasih lampu atau lilin. Gantungin di kamar ibu kamu di rumah sakit …. Nanti nyala-nyala, bagus sekali. Ibu kamu bisa lihat sinarnya ….”

“Betul buat aku”

“Betul. Tidak apa, ya, ada nama ‘Adrika’-nya?”

“Oh, tidak apa. Kecil, kok. Hampir-hampir tidak kelihatan. Tapi … bagaimana dengan ibumu?”

“Mmm, nanti aku bikinkan ibuku lampion yang baru. Sampai Senin, ya, Urip.”
“Terima kasih, Adrika. Terima kasih ….”

“Yuk.”

“Ya. Ya.”

Aku mau pulang cepat-cepat. Aku mau cerita sama Ibu, ibunya Urip sakit. Lampion aku yang bagus sekali, yang dapet nilai 8 itu, aku kasih Urip. Buat Ibu, biar aku bikinkan yang baru. Ibu nanti bisa pilih sendiri, mau warna apa.

“Terima kasih, ya, Adrika. Terima kasih, ya.”

“Ah, kasihan Urip. Ibunya tak pulang. Bapaknya tak punya uang. Ia tak sekolah. Ia tak punya lampion buat ibunya.

Biar dia pakai lampionku saja, kalau begitu.


“PUTRIKUUU!”

Itu Ibu!

“Ibuuu.”

“Hai, Nak. Coba cium Ibu. Cup. Cup. Muah. Muah. Hei. Rambutmu sudah panjang sekali. Ibu sampai susah mencium pipimu.”

“Ibu.”

“Tadi bikin apa di sekolah, Nak?”

“Ibu.”

“Ya?”

“Ibu … jangan sedih. Jangan marah.”

“Lho, memangnya kenapa?”

“Betul, ya. Tidak marah. Tidak sedih.”

“Oke. Oke. Ibu tidak marah. Ibu tidak sedih. Nah, katakanlah, ada apa, Sayang?”

“Tadi di sekolah aku buat lampion.”

“Oh, ya?”

“Warna putih, Ibu. Aku tulis namaku di situ.

“Oh, cantik sekali, pasti. Nanti kita isi dengan nyala api yang kecil, Nak ….”

“Tapi, Ibu ….”

“Ibu gantung di atas meja komputer Ibu, ya?”

“Tapi, Ibu …. Dengerin dulu ….”

“Ya?”

“Lampionnya sudah tidak ada.”

“Haaa? Yaaa ….”

“Ibu sudah janji tidak sedih ….”

“Oh, Ibu tidak sedih. Paling-paling … lampion itu tertinggal di sekolah, ‘kan? Kamu bisa ambil hari Senin, Nak ….”

“Tidak, Ibu. Lampion buat Ibu sudah aku kasih ke Urip.”

“Urip?”

“Anaknya bapak tukang parkir di sekolah aku. Yang giginya kuning-kuning dan besar-besar itu ….”

“Husssh.”

“Ibu tahu, ‘kan?”

“Tahu. Tahu. Tapi … kenapa kamu kasih ke dia, Sayang?”

“Karena …. Mmm, eh, Ibu tahu enggak. Urip itu kasihan sekali, deh. Bapaknya tak punya uang. Dia tak bisa sekolah. Dan ibunya, Ibu …. Ibunya di rumah sakit, Ibu, tak pulang-pulang ….”

Ibu tahu, Nak. Ibu tahu. Kemarin Ibu memberikan uang dalam amplop untuk bapak tukang parkir itu. Ibu tahu, Nak, meskipun Ibu tak pernah berbicara dengan Urip atau ibunya, bahwa ibunya Urip bisa jadi, tak akan pernah pulang ….

“Lampion itu aku kasih ke Urip, Ibu. Karena Urip mau bawa lampion itu ke kamar ibunya di rumah sakit ….”

Putriku yang jelita. Sini Ibu lihat matamu. Seingat Ibu, ketika kamu masih di perut Ibu dan kita masih bernapas bersama, Ibu minta Tuhan sisipkan bintang pada matamu. Supaya orang bisa melihat sinarnya. Sinar kebaikan. Sinar kemurahan hati. Itu sebabnya Ibu sering memandangi matamu kala kamu sedang bercerita. Supaya sinar matamu, menembus juga ke hati Ibu.

“Jadi lampion itu sekarang ada di rumah sakit? Dipandangi Urip dan ibunya?”

“Kayaknya begitu. Mmm, Ibu tidak marah, ‘kan? Tidak sedih, ‘kan?”

Ibu juga dulu minta sama Allah, supaya matamu sebening cermin, Nak. Biar Ibu bisa berkaca di situ. Dan sore ini Ibu seperti melihat bayangan Ibu jauh lebih kecil dari bayanganmu. Tangan kamu yang separuh tanganku, telah berbuat amal berlipat-lipat dari tanganku. Terima kasih, Nak, bahwa kamu mengingatkan Ibu: kalau dengan jarimu yang kecil-kecil itu kamu bisa membuat orang lain melewati hari dengan senyuman, mengapa Ibu tidak?

“Oh, Ibu bangga, Nak. Ibu terharu. Lihat, mata Ibu sampai basah.”

“Bangga itu apa, Ibu? Terharu itu apa?”

“Bangga itu ….” Tak akan ada kata yang bisa melukiskan rasa bangga Ibu pada kebaikan hati anaknya. Kalaupun ada, tak akan pernah cukup. “Nanti engkau akan tahu sendiri, Nak.”

“Nantinya kapan?”

“Mungkin … kalau kamu sudah besar.”

“Ah, masih lama, ya.”

“Ha … ha … ha …. Iya. Masih lama.”

“Ha … ha … ha ….”

“Sekarang, bagaimana kalau kamu mandi?”

“Mandi? Mmm. Tapi, janji dulu ….”

“Janji apa?”

“Besok beli kertas. Aku kan mau buat lampion baru. Buat ditaruh di kamar Ibu. Digantung di langit-langit.”

“Gampang ….”

“Ibu mau warna apa? Merah? Putih? Kuning?”

“Apa yang Adrika bikin buat Ibu, Ibu pasti suka. Sekarang mandi dulu ….”

“Iya. Iya. Tapi, betul, ya. Aku nanti dikasih kertasnya, kerangkanya, semuanya, deh …. Buat bikin lampion. Eh, Ibu. Lampion yang buat ibunya Urip tadi dapet angka 8. Kata Ibu Riris, bagus sekali lampion itu. Buat Ibu, nanti aku buatin yang lebih bagus lagi ….”

Epilog
Rasanya aku sudah harus pergi. Adrika tak lama lagi akan sibuk dengan mainan masak-masakannya yang baru, lalu jatuh tertidur sampai besok pagi. Tapi, sebelum aku kembali berputar, kupandang dulu mata kanak-kanaknya yang benderang. Kusimpan keindahan sinarnya, kupelihara keheningan sorotnya.

Dalam gerakku, akan kusebar sinar itu ke alam sekitar. Kupercikkan, agar menelusup ke kepala dan hati para insan. Hingga kaum dewasa menjadi maklum adanya bahwa pada anak-anaklah, mereka seharusnya berguru.


Chiba, Desember 2003
Buat Ike dan Princess-nya. 


Rujukan
[1] Disalin dari karya Susi Hutapea
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tablid Nova" edisi No. 19/XXXII 6 – 12 Mei 2004.

0 Response to "Lampion Buat Ibu"