Mantra Hujan - Sabang - Bayangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mantra Hujan - Sabang - Bayangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Mantra Hujan - Sabang - Bayangan

Mantra Hujan

Seseorang muncul dari tengah hujan:
bergaun hitam motif Krawang Gayo,
bergerak di tengah kerumunan orang,
di antara pohon-pohon kopi yang berputik

Akulah Puteri Bensu, katamu,
datang dari tengah hutan,
membawa payung-payung besi
Menanti Malim Dewa

Menyemai benih-benih kopi
menyiramnya dengan air Danau
dan di tepi Renggali
Ikan-ikan depik tak henti bernyanyi

Mulutnya komat-kamit
menyemburkan aroma Arabika
kental dan wangi
Matanya secerah pagi

Tapi hujan tak juga berhenti
“Mengapa mantraku jadi beku?”
Di Seladang, daun-daun kopi kuyup
didongmu meletup-letup

Kau lalu melompat ke pucuk pohon
memetik beberapa buah kopi
lalu menyemburkannya dengan puisi
Hujan mendadak berhenti.

Bener Meriah, 26 November 2016


Sabang

dari taman di tepi laut ini: suara perahu mesin hijau
menembus hingga ujung pulau

seorang perempuan muda berdiri di tepi menanti
sang lelaki kembali
membariskan sisa-sisa mimpi

di sebuah rumah kecil sudut lain
anak-anak memasak buku-buku sekolah yang kusut
dan rusak

kapal-kapal datang dan pergi
mengangkut kota-kota dari segenap pojok bumi:
harum dan wangi

mereka mendaki bukit-bukit dan menulis nama
masing-masing
di kilometer nol dengan tinta merah

dan kau menggigil membayangkan
pohon-pohon memerah dan memuncratkan getah darah

hingga malam jatuh dan ombak berhenti berdebur:
kau hanya menulis sepotong surat cinta

yang tak pernah kau tahu harus mengirimnya ke
mana
alamat telah rusak dan kapal-kapal sudah bertolak

kau hanya bisa memandang buritan diselingi peluit
yang melengking
arloji telah hanyut, air mata telah kering

Sabang, 29 Nov 2016

Bayangan

seseorang datang dalam tidurku
 lalu meninggalkan bibir busuknya
di gelas minum kita ---

aku bukan perempuan bermata merah, katamu,
yang selalu meracau tentang pulau-pulau

aku pun bukan juliet, katamu,
tak mampu membentengi tidurku
dengan cahaya matamu

aku adalah camar-camar yang selalu terbakar
ketika menemukan ikan-ikan menggelepar di pantai

dan gelas minum kita makin busuk
meski bermili-mili aroma terapi kita semprotkan

Tangsel, 1 Desember 2016


Mustafa Ismail, lahir di Aceh pada 1971. Ia hijrah ke Jakarta pada 1996 ketika mengikuti Mimbar Penyair Abad 21. Buku puisinya Tarian Cermin (2007 & 2012), Menggambar Pengantin (2013 & 2014) dan Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian (Agustus 2016). Buku cerpen tunggalnya “Cermin” (2009).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustafa Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 4 Juni 2017

0 Response to "Mantra Hujan - Sabang - Bayangan"