Masih Meringkuk di Gulita Toba - Menyaring Titah di Partukkoan - Kecut Unte Jungga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Masih Meringkuk di Gulita Toba - Menyaring Titah di Partukkoan - Kecut Unte Jungga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Masih Meringkuk di Gulita Toba - Menyaring Titah di Partukkoan - Kecut Unte Jungga

Masih Meringkuk di Gulita Toba

1)
di sini dulu gulita terancang 
jangan harap berani berkunjung bintang 
meski sesekali langit membuka tudung 
cahaya takkan kunjung kencang dari bait gunung 
semangat berharap kerap rentan berguncang 
lenggang mengacir kala menumbang rimba gelanggang 

sepasang lengan baru berani bergelagat ria 
kalau merayu kerelaan hantu-hantu dengan ratapan mantra iba 
gejolak luka-luka tepi belantara akhirnya mau seperti hamparan yang rela rata 

selesai masa bercinta, 
tercipta tujuh belas laki-laki penggembur bentala 
enam belas benih jadi perempuan peniup bara 
tertunduk-tunduk meneguhkan padi siaga 

kebiasaan lelaki penghilang malang 
lalu-lalang ke bukit. datang dan pulang menyalakan perang 
menghela tindak-tanduk binatang jalang 
menggubah lembah lalang ke rupa ladang 

menggurah muka ke garis merona 
selepas waktu melahap tenaga 
agar jembalang tak seseram masa padam bentang petang 

jika tak ada padi-padi mampu diguncang 
tak ada pembayar tulus tenaga 
dewi murung masih terbungkus setengah bunting 

sejumlah tanya yang lapar 
kerap mengusik inti kepala bapa-bapa 
maka berburu mabuk dan adu tidur 
adalah waktu tercepat menentramkan sengsara

2)
di sela ketibaan selera lancang pencari-cari upeti 
di celah riak samudra terselip dua-tiga pendoa 
diutus menawan pukau mantra datu wangsa 

mula-mula dua pendoa datang tak matang 
tumbang ditebang abar barbar pemangsa 

tapi darah tiris selain tragis selalu mengikhlaskan sesal suci 
dengan rayuan beratus-ratus ayat yang berjurus tulus tanpa benci 
datang merasuk turunan. datu tirus simpuh, patuh ditebas cikal doa hari-hari 
bersama pedang keji, para penanam belati pasrah rebah ditembus kasih 
satu per satu mantra tawar sakti. mati dipapar bahana cahaya hati 

mahir bersimpuh, tumbuh dan rekahlah badan mekar si jalang 
mendirikan satu-satu mimpi dengan beriring doa berani terbang 
tiba-tiba terkabar mencapai awang tinggi mencari terang 
disulut berita sudah menggapai berkat. ditabal setingkat kejora menjulang

3)
mata pengeluh dari keruh tidur, terbelalak 
menatap langit toba mula-mula terbata-bata 
menduga-duga makna 
kelap kelip datang menumpas sengsara gulita? 

yang berawan cemburu, sesungguhnya mata peronta 
tergoda memanen piutang 
demikian putra-putri penentang 
bermimpi disuruh bapa ikut menumbuhkan tulang 
berharap kelak pulang seperti bintang 
beruntung menenteng cahaya senang 

tapi rasa senang di mana-mana bernasib tak pernah tenang 
mimpi-mimpi bintang melanglang sejujurnya tak lagi ingin pulang 
yang tegar menjulang menerangi hanya negeri laut seberang 
bapa pun muram di malam toba gulita kedua kali. terguling bercucuran linang

4)
satu-dua orang loba lekas mengaku saudara Sang Bintang Punggawa 
mencuri hikmah binar ke mata, benar-benar tak gentar meniru-niru cahaya 
beribarat mengantar warna pengusir ratap merana dan bimbang 
di pintu-pintu kampung mengakui diutus satu bintang 
meski hanya bertanda jubah berpenampang cahaya benderang 

menghamparkan sinar, konon pantulan untung-untung Sang Bintang 
konon tulus diterbangkan dari sisi kanan Saudara seperut inang 
cara bagi lengang huta-huta melepas kesima mendengar lolong 

si loba mengarak orang-orang ikut meninggikan batu. mengatasi bukit tenang 
persatuan tatap bintang, pertemuan mengenang buah mimpi-mimpi pemenang 

tujuan pertama di antara rumah kampung oleng dan kandang bau kencing 
menumbuhkan lambang mulia di tampuk paling agung 
bertangkai gemerlap asing, sedap dipandang-pandang 
persekutuan satu rumpun keluarga menggunturkan dada 
wahana menaikkan serunai setinggi hati 
penanda pemilik bintang bukan sembarang 

di belakang iringan riuh yang lantang 
diam mengerling sekaum lapar dan compang 
diri disuruh sembunyi nasib
sebab di upacara seagung itu aib pantang dijulang-julang

5)
satu dari si loba bernasib jadi penghulu lembah gaung 
dulu penggerutu gunung, kini saban hari semangat berhitung-hitung 
di purnama pertama bimbangnya sering menjelang 
di purnama kedua pandai bersenandung mengapung mumpung 

jangankan jagung, kulihat padi-padi dan kemenyan sudah jarang dilarung 
“mengapa kau tambahi lumbung?” mataku bingung 
“berhitung jangan pakai mata, pung! nanti kau pusing,” ia membusung

6)
desas-desus tiba menjadi rupa menjelang purnama kelima kali 
ada si loba diusung kelap-kelip beriring bunyi-bunyi 
kusangka dibawa bintang, hendak jadi bintang atau mendapat bintang 
(ternyata disebut sekampung, seseorang digaruk kabar buruk saat berhitung) 

di bulan sama, berentetan tiba di tiap pagi sulung 
kusangkakan perantau agung pulang menenteng kelap-kelip terang 
(disebut orang sekampung sudah tiga bintang mengeram dalam peti 
mengakhiri mimpi ulung) 

“mereka bintang jatuh. tiap sehari menggenapi umur di petang seberang 
sebelum kaku terlentang, berpesan diusung menyuburkan kampung. 
minta disimpan di kolong batu tinggi, di bawah belulang ompung, di bawah among 
selalu begitu cara bintang tiba ke muasal. kaku dalam gelap,” ujar kerabat malang peristiwa 

peristiwa demikian melintang di toba
menambah gulita terbentang di mata kerabat 
menabung linang di bukit-bukit 

Balige, Juli 2016

Menyaring Titah di Partukkoan

mari duduk menukil kebiasaan cermat pendengar tua
menangkap ngengat berjingkat-jingkat di celah cerita
diam-diam ingin beranak pinak ke ceruk gelap tangga tahta
menyiksa raja cemas sampai berkepala tampak oleng
tak mampu sesekali bersabda

jangan kau bayangkan akibat peninggalan keji raja
walau memutus nadi kurban lumur darah tanpa raut amarah

ingatlah letih kening baginda yang tunduk memutar pelik
sesekali kepingin mengundang rentak memantik gelak
sampai tiba suara bungsu dari lubuk dada
mencipta cahaya menemukan renik meski tak semerah kerumut
benderang segala angkara dari pusaran gelagat
mengenyahkan alibi di altar eksekusi

sekarang mulailah mengumpul makna
dari waktu yang liar beterbangan
merangkai debu hingga bersatu meninggikan kerangka
landasan pulang pecahan tubuh dari liang setengah baka
upah terhalau dikucar-kacir sengketa

seperti para moyang agung bertarung
setia bersandar sendi di partukkoan
kembalilah ke mari menampilkan keajaiban batu-batu
dalam hikmat menampakkan khasiat kata-kata datu

mampu merayu segala yang sembunyi sedingin
hantu palung
 tahu-tahu ruh terpana dibawa pulang
dari plesir tega angin surga cukup tersungging memahami pertanda

Medan, Mei 2017


Kecut Unte Jungga

rupaku makin mirip keparat mulai keriput
menabung kecut di rongga dada tua
diperas-peras hantu belanga

siapa bilang aku tambang karma
menimpa doa-doa ikan menempa maut
belum pernah kugantung ratap
menjenguk jagat danau dan lelembut
jangan umpat-umpat aku sepantar telaga sampah

si tua sepertiku bertuah luluh melulu
ditusuk tumpah sumpah perantau
sebelum membusuk kuingat nasibmu
kurasuk susuk aroma paling ampuh
sampai keberanian ajalmu berbaring setampan teguh

siapa bilang aku kumparan bala
di mata luka-luka medan laga
belum pernah kujajah darah
seperti lelembut buruk memamah

kubantu ajal ikan-ikan bergelagat sia-sia
menangga derajat raja-raja


Bresman Marpaung lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 15 April 1968. Kini ia bermukim dan bekerja di Medan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bresman Marpaung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 17 Juni 2017

0 Response to "Masih Meringkuk di Gulita Toba - Menyaring Titah di Partukkoan - Kecut Unte Jungga"