Menyambut Umar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menyambut Umar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:06 Rating: 4,5

Menyambut Umar

Aku mendengar kau tiba di kota ini, bagai seekor  macan
menyendiri. Ada rindu diiris lolongan anjing dini hari, terbenam
alunan serunai ditiup seseorang

Penjaga kota setengah mengantuk mengeja katamu
"Besok pagi, yakinlah kita masih minum kopi"
setelah perang, suara itu berdiam di lorong waktu

Orang-orang berderap saat waangi arabika meruap
bumi muntah gas dan minyak mendidih
lalu seua menguap dalam tipuan yang sedih

Kau berbisik, "Aku Umar, seorang teuku. Adakah kau tahu?"
tak seorang warga bangkit menyiapkan kenduri
tak ada kabar seorang johan telah kembali

Tak ada kanak-kanak menggambar wajahmu
pada poster sisa pemilu di tembok kota
pada sebuah survei siapa pemimpin kita

Orang-orang melukis kusut rambutmu
saat rebah diterjang peluru
dan selalu percaya di kota ini
tak ada lagi pahlawan bangun pagi

2017

Puisi-puisi di atas dikutip dari buku Ziarah Sunyi yang diluncurkan dalam acara tadarus puisi religi di Gedung Tempo, 13 Juni 2017. Buku tersebut menghimpun puisi religi karya 30 penyair. 


Nezar Patria, lahir di Siglo, 5 Oktober 1970. Bekerja sebagai wartawan dan menetap di Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nezar Patria
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Tempo" Sabtu - Minggu 17 - 18 Juni 2017

0 Response to "Menyambut Umar"