Perang Daun - Damai Air | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perang Daun - Damai Air Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Perang Daun - Damai Air

Perang Daun

jika ini tentang bunga
tiada berani namamu kutanam di lubang dada

jika ini tentangmu
meski bukan aku
musim pasti menulis bunga
seperti kelopak jatuh raga
tak satu gugur warna
sia-sia hari menjelmakan petaka

jika ini tentang muslihat
tiada bunga tak kuat jika berkawan seikat
melampaui sepanjang hamparan maksud
menyerah dinujum persekutuan harum tirakat

jangan membawa angin beritikad keji
tak guna mendera sepanjang tangkai
walau pucuk tak lagi mampu membusung
tampuk kau petik tetap semurni cita-cita
mekar berguling ke hampar sungai mengurai
gelagatmu tak bisa selamat menabur sekujur bilur

tiap lembah masih gampang mengingat
cara musim setia menghibur firasat sepasang zigot
seperti bunga kawin yang selalu sempat bersatu
menyisipkan calon serdadu
meski diterjang mati

Medan, 2016

Damai Air

air di tempayan
yang kau dulang segigih beriak
dari hulu ingin anak-anak
tentu tenang dan tak pernah berhasrat dalam
menyimpan gelagat
seperti jarum di jerami

dalam sejengkal terbaca akal paling dangkal
walau khatam mengendap firasat paling redam

serasa lebih pandai
aku harus merasa mengerti bahasa air
yang tak riam dan tampak pasrah telanjang
kubaca ruam lebih dari sepangkal
mendatar sejengkal

andai ku tepuk seperti kawan
paling-paling berlagak berisik memercikku
seperti kecipak rasa malu menawan-nawan kawan

apalagi bila kubiarkan mukaku tersipu
hamparan di wajah lebih cepat terdampar
disapu hamparan masa lalu
maka tak perlu aku berancang-ancang kencang
mengarak balasan bak sebuah perang

sampai tiba-tiba terdengar
suara memanggil-manggil
dari tepi selokan berburu ke tepi kali
meliuk ke ujung muara

orang-orang sibuk memastikan
aroma bangkai
seorang lelaki dan air setempayan
telah hilang tiada kabar pasti
ìkau harus tetap hanyut dalam damai.
damai yang bisu seribu basah
kalau masih ingin jadi takhyulî
begitu tenang bisik air itu mengasingkanku

Medan 2016

Bresman Marpaung lahir di Pematang Siantar, 15 April 1968. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, ini menggeluti dunia sastra sejak 1984. Puisi, cerpen, esai, dan artikelnya dimuat di berbagai media massa. Puisinya terhimpun dalam antologi bersama. Bergabung dalam Komunitas Omong-omong Sastra Medan. (44)





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bresman Marpaung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 4 Juni 2017

0 Response to "Perang Daun - Damai Air"