Perempuan dari Masa Lalumu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan dari Masa Lalumu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:31 Rating: 4,5

Perempuan dari Masa Lalumu

AKU tak percaya kau tewas dalam kecelakaan kereta itu! Seorang lelaki mengaku polisi mengabarkan bahwa kau duduk di gerbong 8 Senja Merah jurusan Jakarta-Semarang yang barusan ditabrak Anggrek Hitam jurusan Jakarta-Surabaya.

“Anda jangan macam-macam! Suamiku tidak naik kereta ke Semarang. Malam tadi ia berangkat ke Yogyakarta.”

Kumaki lelaki itu. Aku mengingatkannya agar tidak melakukan iseng kelewat batas. Acap kali aku mendapat telepon dari orang usil. Tapi tak pernah seketerlaluan ini.

“Maaf, saya serius! Jenazah suami Anda akan segera kami berangkatkan.”

Masih saja aku mengelak untuk percaya. Sesaat kemudian aku menjadi begitu gugup ketika teleponmu tak bisa kuhubungi. Belaka bunyi operator yang kudengar berulang.

Dini hari menyusut, sebentar lagi akan larut dalam subuh yang berkabut. Namun, waktu terasa telah kehilangan heningnya. Kecemasan pecah dan berhamburan di dadaku. Ketakutan ini rasanya datang terlalu pagi.

Kunyalakan televisi, kupindah-pindah channel dengan tergesa. Beberapa stasiun televisi masiH senyap. Dadaku segera gemeratap ketika sebuah breaking news memberitakan Anggrek Hitam menabrak Senja Merah dari belakang.

Gerbong Senja Merah paling bontot, gerbong 9, ringsek parah sebab terdesak keras dan mendadak oleh lokomotif Anggrek Hitam. Sedangkan gerbong 8 terguling. Puluhan korban tewas sudah dievakuasi. Sebagiannya masih tertimbun bangkai gerbong.

Barangkali benar kata lelaki tadi, pikirku.

Tapi kau tidak berada di kereta itu, kan? Bukankah petang tadi kau berangkat ke Yogyakarta, bukan ke Semarang? Aku tahu pasti rencanamu pergi ke Yogyakarta menemui rekanan bisnis yang akan menangani proyek hotel baru di sana. Mungkinkah tiba-tiba kau mengalihkan tujuan hingga benar-benar naik kereta yang gerbongnya remuk itu?

Waktu membuktikan kebenarannya. Ketika matahari terlalu galau untuk beranjak siang, sebuah mobil jenazah berhenti di muka rumah. Sirinenya meraung-raung seolah melemparkan ribuan kutuk ke sudut-sudut rumah kita. Aku linglung ketika tetangga—yang sejak pagi tengah menunggu kedatanganmu—memapah tubuhmu yang sudah beku.

***
Belum kutemu jawaban mengapa kau naik kereta ke arah Semarang. Kuharap ada sesuatu yang dapat mengantarkan jawaban sebelum kau kukuburkan. Demi aku tak turut mati digantung rasa penasaran.

Pelayat makin banyak berdatangan. Ayah, ibu, famili, dan kerabat menumpahkan duka. Sebagian dari mereka menangis dengan airmata yang tak henti memburai. Aku yang sedari dulu benci menangis di hadapan orang ramai pada akhirnya melelehkan airmata pula.

Hanya Haura, putrimu yang delapan tahun itu, tidak tampak kesedihan di mukanya. Rautnya biasa-biasa saja ketika melihatku dan kakek-neneknya mengisak. Ia belum bisa memahami arti kehilangan, barangkali. Ataukah ia sebenarnya tengah memeram gejolak yang menggoncang dadanya, dan tak tahu bagaimana menumpahkannya. 

Berita tentang kecelakaan kereta makin berkembang. Kudengar seorang pelayat bilang—mengutip siaran televisi—mulanya Senja Merah telat berangkat hampir satu jam. Setiba di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, kereta itu berhenti di jalur 3 untuk menunggu persilangan Anggrek Hitam dari arah Jakarta yang masih berada di belakang. Dua belas menit berikutnya Anggrek Hitam tiba di Petarukan. Mustinya, kereta itu berhenti di jalur 1. Tapi masinis yang melihat sinyal merah di jalur 1 malah menerobos. Jadilah lokomotif itu menyodok gerbong kereta yang berhenti di depannya. Tiga puluh enam nyawa melayang, dan puluhan lainnya luka-luka.

Pertanyaan dan penyangkalanku lantas beralih pada sekuensi waktu yang telah melaju. Andai kereta berangkat tepat waktu, kau niscaya terhindar dari perangkap tragis itu. Satu jam keterlambatan kereta itu kupikir sebagai jebakan waktu yang tak menyediakan jalan keluar. Keterlambatan itu sama halnya masa tunggu untuk memapaskan Anggrek Hitam berlintasan di jalur yang sama dan dalam waktu bersamaan pula.

Tapi, lebih tepat jika kesalahan musti ditanggung masinis yang ceroboh itu! Jelas-jelas sinyal merah di hadapannya, mengapa ia tak menghentikan keretanya. Malah, beberapa saat sebelum sampai Petarukan, masinis Anggrek Hitam sempat tertidur. Mengendalikan kereta tanpa keterjagaan penuh sama halnya mengantarkan diri dan orang lain kepada celaka maut.

Terasa amat kejam jika hanya menyalahkan masinisnya. Barangkali telah banyak masinis berlaku sigap serta hati-hati? Toh, kecelakaan kereta di negeri ini tak pernah henti. Terus bersusulan kecelakaan memakan korban nyawa yang lantas tersulap menjadi barisan angka yang hanya membujur kaku di lembar-lembar kertas. Sebabnya beragam macam rel anjlok, kelebihan muatan atau penumpang, lokomotif maupun gerbong yang sudah masanya digudangkan, atau perawatan kereta yang kurang maksimal.

Maka, kupikir, sebenarnya kecelakaan kereta yang berkali-kali itu disebabkan orang massal yang bekerja di perkeretaapian. Kecelakaan berulang itu memperlihatkan manajemen dan etos kerja perkeretaapian yang coreng-moreng. Salah pula orang-orang yang masih percaya kereta untuk mengantarkan mereka ke tujuan, di tengah perulangan kecelakaan yang sebenarnya menjadi peringatan baginya. Andai orang-orang tidak lagi percaya, tentu kereta menjadi tidak laku dan bangkrut. Tak kan ada lagi kecelakaan kereta, bukan?

Pikiranku terus menelusur mundur. Lalu kusadari, sebenarnya kecelakaan yang menimpamu adalah buah ulahku. Mestinya, sesuai rencana awalmu, kau berangkat ke Yogyakarta kemarin lusa. Aku memintamu menunda kepergian karena egoku yang ingin tetap bersamamu. Kau baru dua hari di rumah setelah dua bulan menggarap proyek di Bali itu. Kuminta waktumu sehari semalam lagi untuk menuntaskan rindu.

Aku, yang barangkali terlalu manja, memintamu mengantar ke salon dan berkeliling mal untuk memborong aneka baju sejak pagi. Sore harinya kita masih sempat mencurahkan percintaan. Andai kau pergi kemarin lusa, niscaya kau bisa melewati perangkap waktu yang sudah bersiap menjatuhkan kecelakaan pada dini hari tadi. Ah, bodohnya aku!

Aku merasa ciut dan kerdil. Andai bisa kutarik waktu untuk kembali, bakal kutata ulang lajunya hingga kau terbebas dari perangkap tragis itu. Rasa bersalah ini sudah terlambat!

Tapi mengapa kau pergi ke Semarang? Jadilah kecelakaan yang menimpamu itu salahmu sendiri, bukan?

“Tak perlu kau salahkan siapa-siapa,” kata Ayah. “Begitulah nasib bekerja, tak butuh banyak alasan maupun penjelasan.”

Tiba-tiba kuingat pesanmu. Dulu sekali, di masa muda kita, ketika kau tengah berupaya mencuri perasaanku. “Waktu tak berpintu,” katamu. “Waktu hanyalah ruang kedap yang kita tak bisa lolos ke mana pun. Manusia hanya memerlukan sebuah gerakan untuk menciptakan momentum. Lantas terjadilah ragam peristiwa di antara beberapa jeda.” Sesaat kemudian kau nyatakan cinta padaku.

“Ini peluangku. Barangkali esok takkan ada kesempatan untukku. Bahkan jika malam ini aku terlambat sedikit saja. Tapi, jikalah kau memang takdirku, maka waktu pasti akan terus menunggumu,” katamu, seraya tiba-tiba tanganmu yang hangat meremas tanganku.

***
Keretamu diberangkatkan. Aku mengiringkanmu dengan kidung sendu. Kulapangkan dadaku seolah altar yang siap menampung apa aja. Hingga dukacita ini bisa kuterima.

Ya, bukan salah siapa-siapa. Waktu telah memilihmu. Dan kau tak kuasa menghindarinya. Waktu begitu rapat hingga acap kali ramalan maupun perkiraan terpental ketika hendak menembusnya. Dan kita manusia biasa, tak selalu mempersiapkan perisai untuk menepis ramalan buruk seperti seorang nujum.

Langit mendung sore ini. Sepertinya Tuhan sengaja memberi latar kelam agar upacara kematianmu bersuasana lebih muram. Setelah mencuat tanah basah itu, kutaburkan kembang dan kunaikkan doa-doa ke langit untuk kebahagiaanmu di alam yang kelak pun aku akan menyusulnya. Semoga kelak kita bisa bersua.

Lengang menikamku perlahan. Pelayat mulai menceraikan diri dari area pemakaman. Aku masih ingin bersimpuh di sebelah nisanmu. Membaca kembali ingatan-ingatan usang yang barangkali bisa kian meneduhkan. Ingin kubangkitkan rasa bahagia dengan mengenang jejak kebersamaan kita di masa silam. Ada tawa, canda, sedih, kesal, gairah, rindu, dan cinta yang berlesatan di pikiranku. Namun, aku lebih memilih untuk mengingat saat-saat bahagia kita. Aku ingin tetap hidup dengan kenangan itu, sebagai kekuatan untuk menjalani masa depan yang barangkali begitu sepi dan ngeri.

Seorang perempuan, kukira usianya sepadan denganku, tiba-tiba menghampiri kuburmu. Ia berdiri dan agak lama mengamati nisanmu. Ia beralih menatapku. Makin lama pandangannya seperti makin surut. Hatiku bertanya-tanya siapakah ia.

“Aku turut berduka cita atas kematian Mas Juna.”

Ia menjabat tanganku. Tangannya terasa dingin. Kuanggukkan kepala dan kuhaturkan terima kasih. Aku heran ketika tiba-tiba meleleh buliran bening dari sudut matanya hingga mengiris pipinya yang putih bersih.

“Harusnya aku tak meminta Mas Juna untuk menemuiku,” katanya seraya isaknya yang tak bisa disembunyikan. “Mestinya kuinsyafi, masa lalu hanyalah milik masa lalu. Mestinya kubiarkan masa lalu membiak bersama keheningannya sendiri hingga tak menuntut apa-apa di masa kini.”

Kedirianku meluruh. Aku mulai mengira bahwa ia pernah menjadi bagian penting dari masa lalumu. Perempuan yang barangkali pernah membukukan kenangan bersamamu. Ah, mengapa kau tak pernah berbagi cerita denganku tentang perempuan itu?

Seandainya perempuan itu memperkenalkan siapa dirinya. Seandainya ia menceritakan masa lalu macam apa hingga mengantarnya berhadapan denganku di saat perkabungan masih hitam. Tapi ia buru-buru undur diri. Ia pergi menyisakan sejumlah pertanyaan di benakku.

(N) Semarang, Oktober 2010


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Musyafak Timur Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1208/XXIV 18 – 24 April 2011

0 Response to "Perempuan dari Masa Lalumu"