Pergi ke Bukit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pergi ke Bukit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Pergi ke Bukit

KAYAH menyeka keringat di dahinya. Di kakinya berpijak, kini terhampar sepetak lahan yang hampir selesai ditanam. Mujur baginya karena telah menemukan seeorang yang bisa disewanya untuk membajak ladang peninggalan orang tuanya itu dua hari lalu.

Kayah berharap, anak laki-laki satu-satunya masih bisa menemaninya di ladang. Apa lacur, ia tak bisa menahan keinginan anaknya untuk berangkat. Kenyataan itu serupa dengan apa yang dihadapinya setahun lalu saat Dali memutuskan keluar dari sekolah dengan alasan ingin bekerja. 

"Mana bisa, Mak, saya punya Honda baru seperti Toni kalau cuma nambal ban?" Kayah teringat percakapan dengan anaknya seminggu yang lalu.

"Kamu juga bisa bantu emak di ladang," ujar Kayah.

"Tidak setiap hari harus di ladang kan, Mak?"

"Kalau ayahmu masih ada, dia juga akan melarangmu pergi ke sana, Li."

"Semua orang pergi ke sana, Mak. Lihat saja rumah si Toni, jadi bagus begitu sekarang. Mak tak ingin rumah kita seperti itu?"

Kayah tercenung mendengar jawaban anaknya. Apa yang dikatakan Dali tak sepenuhnya salah. Ia bisa melihat banyak perubahan yang terjadi di lingkungannya. Beberapa rumah dibangun lebih bagus sejak tiga tahun terakhir. Dalam setiap bulan, ada saja sepeda motor keluaran terbaru yang dibeli oleh warga di kampungnya. Itu belum seberapa, Herman Gendut yang mendadak dipanggil 'bos' oleh orang-orang di sekitarnya, belum lama ini membeli mobil baru. Jangan tanya soal barang-barang elektronik lainnya, semua seolah-olah sedang berlomba datang ke kampungnya.

"Emak sudah cukup senang seperti ini, Li," uajar Kayah pasrah.

Tentu saja, Kayah harus mengatakan hal itu kepada Dali. Sejak Burhan, suaminya, tak pernah kembali lima tahun lalu, ia banyak berharap pada Dali. Baginya, kehilangan satu anggota keluarga adalah sebuah bencana besar yang tidak boleh terulang lagi. Lima tahun lalu, agar bisa berangkat ke Malaysia, suaminya harus menjual dua ekor kerbau yang biasanya digunakan untuk membajak sawah atau ladang.

"Mana mungkin kita bisa bangun rumah yang bagus, kalau saya cuma membajak ladang, Yah," ujar Burhan sebelum kepergiannya. "Sekarang, orang-orang lebih suka membajak pakai mesin, lebih cepat. Ongkosnya juga tidak jauh beda. Jadi, biarlah kita lepas saja kerbau itu."

Kayah tidak bisa mengatakan apa-apa waktu itu. Ia tahu, apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Tetapi, sejauh ini ia merasa cukup. Ia tidak pernah mengeluh. Dulu, sebelum situasi berubah, orang-orang di kampung selalu menyewa Burhan untuk membajak sawah atau ladang saat musim tanam tiba. Burhan memiliki dua ekor kerbau yang cukup sehat untuk dipekerjakan seharian. Namun, orang-orang telah berubah, alat-alat berubah, meski masih ada beberapa yang menyewanya karena alasan kebiasaan yang turun temurun.

"Lagi pula, saya juga ingin melihat anak kita seperti anak tetangga lainnya. Coba lihat, mereka tak perlu bersusah payah lagi naik angkutan desa kalau pergi sekolah. Sekarang mereka punya sepeda motor baru."

"Iya, benar. Tapi, mengapa harus ada orang tua mereka yang terkubur hidup-hidup di bukit itu?" tanggap Kayah.

"Sudahlah, jangan bicara soal itu. Yang berhasil juga tak sedikit. Buktinya, aku sendiri tak pernah punya keinginan ikut mereka, kan? Kayah membenarkan apa yang dikatakan suaminya.


***
SEJAK perbukitan di sebelah kampung mereka didatangi orang-orang dari berbagai tempat, warga di kampungnya pun berduyun-duyun ke sana. Orang-orang melubangi bukit itu untuk mencari emas. Mereka akan berada di sana selama berpekan-pekan dan hanya pulang mengambil bahan-bahan makanan untuk bekal berikutnya selama di bukit. Beberapa yang beruntung akan menyempatkan diri ke kota dan belanja lebih banyak, membelikan ini itu untuk keluarganya di rumah. Sementara, yang lainnya, yang belum beruntung, tak ada pilihan lain selain cepat-cepat kembali ke bukit dengan harapan bahwa berikutnya merekalah yang akan mendulang emas.

Kayah merasa bersyukur karena suaminya tidak tergoda mengikuti mereka. Ia lebih senang melihat suaminya bekerja di ladang. Biarpun tidak begitu luas lahan yang mereka miliki, hatinya tenteram jika melihat ladang peninggalan orang tuanya selalu terawat dengan baik. Tentu saja, ia akan berusaha membantu suaminya sebisa mungkin untuk menjaganya.

Namun, hari itu harapannya pupus. Kayah harus merelakan suaminya yang ingin mendulang uang di negeri orang. Tahun pertama, semua baik-baik saja.  Burhan sempat berkirim surat, mengabarkan jika dirinya baik-baik saja. Dalam suratnya, Burhan bercerita sudah bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Harapan yang mulai tumbuh di hati Kayah, berangsur-angsur layu sejalan bergulirnya waktu. Hingga empat tahun berikutnya, ia tak mendapatkan kabar apa-apa dari Burhan. Dalam keterbatasannya Kayah sudah berusaha mencari informasi, tapi semuanya sia-sia.


***
KAYAH kembali menyeka keringat di dahinya. Di kakinya berpijak, kini terhampar sepetak lahan yang hampir selesai ditanami benih-benih kacang tanah. 

Kayah menatap sekeliling ke ladang-ladang tetangga. Semak-semak bertumbuhan di sana-sini. Beberapa ekor kerbau merumput di antaranya. Dulu-dulu, ia jarang melihat pemandangan seperti ini. Ladang-ladang selalu tergarap pada waktunya. Ia bisa melihat benih-benih palawija yang mulai tumbuh, menghijau daun-daunnya, aneka warna bunganya dan biji-bijinya yang bernas. Namun, sejak di bukit ditemukan batu-batu yang,  katanya, bisa disulap jadi emas, ladang-ladang mulai kehilangan penggarapnya. Semakin banyak laki-laki yang pergi ke bukit, meski satu dua di antara mereka ada yang tidak kembali. Sementara itu, para perempuan melakukan apa saja yang mereka bisa: memasak untuk anak-anak dan orang-orang tua yang di rumah; menggembalakan sapi atau kerbau piaraan di ladang-ladang mereka yang terbengkalai.

Kayah menyeka keringat di dahinya sekali lagi. Ia menatap jauh ke arah rumahnya yang terhalang gerumbulan bambu. Sudah seminggu Dali pergi ke bukit. Kalau tak salah perkiraan, Dali akan kembali ke rumah hari ini. Lagi pula, bekal yang dibawanya sepertinya memang hanya cukup untuk bertahan selama seminggu.

"Biar saya coba sepekan saja, Mak. Setelah itu, saya akan pulang mengabari, Mak," ujar Dali waktu itu.

***
Senja yang mulai membentangkan cahaya pucat matahari membuat bayangan tubuh Kayah memanjang di tanah ladang. Tak lama lagi matahari akan tenggelam di gunung sebelah barat dan angin mulai terasa lebih dingin. Kayah mengeluhkan pinggangnya yang sejak semalam terasa ngilu. Ia terpikir untuk segera meninggalkan ladang saja. Sesampainya di rumah, rasanya ia akan memasak air hangat untuk mandi. 

Sudah hampir Maghrib ketika Kayah pulang dari ladang. Tadinya, ia berharap pintu rumahnya terbuka dan melihat Dali sedang duduk-duduk di beranda. Namun, yang ia dapati tetaplah sebuah rumah dengan pintu yang tertutup rapat. Ia mengambil kunci yang disembunyikannya di balik sebongkah batu di samping rumah. Sudah menjadi kebiasaannya selalu menyimpan kunci di tempat itu jika sedang keluar rumah. Dengan begitu, jika Dali pulang sekolah atau pulang dari pangkalan tambal ban tidak perlu lagi susah-susah mencarinya. 

Saat pintu rumah terbuka, Kayah segera mencium aroma yang sangat dikenalnya. Ia mencoba menajamkan penciumannya, memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan hidungnya. Aroma itu semakin menguat seolah menghampiri dirinya ketika ia melangkah ke dapur untuk menjerang air. Aroma itu adalah bau tubuh anaknya. "Oh, Dali sudah pulang rupanya," batinnya. 

Ketika Kayah mulai menyalakan kompor, sekibasan angin mengusik di balik punggungnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati sesosok Dali melintas begitu saja menuju pintu dapur yang terbuka.

"Ya, Tuhan, Nak. Emak jadi kaget. Jam berapa tadi sampai?" tanya Kayah.

Sosok Dali tidak menjawab apa-apa, selain hanya tersenyum, lantas berlalu ke arah sumur di belakang rumah. "Oh, mungkin dia mau membersihkan diri dulu di padasan*," pikir Kayah, mengira kebiasaan anaknya.

Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Seharian ia pergi ke ladang sehingga tak sempat mengisi air padasan.

"Padasan-nya kosong, Li. Emak tak sempat mengisinya tadi," ujar Kayah.

Kayah melanjutkan aktivitasnya kembali. Sembari menunggu air mendidih, ia menyiapkan racikan kopi untuk dua cangkir: satu untuknya, satu untuk Dali. Dali menyukai kopi sejak masih kecil, mengikuti kebiasaan ayahnya. Kayah juga minum kopi, tapi sesekali saja.

Ketika Kayah mulai menyeduh kopi, terdengar sebuah keributan kecil di luar. Suara langkah-langkah kaki semakin mendekat ke rumahnya. Penasaran dengan apa yang didengarnya, Kayah beranjak ke depan meninggalkan kopi yang belum tuntas diseduhnya. Sampai di depan rumah, sejumlah orang telah menunggu. Orang-orang itu berwajah murung, kumal, dan tampak sangat kelelahan. Beberapa di antaranya memikul sebuah tandu.

"Kayah, biarkan kami masuk terlebih dulu. Akan saya jelaskan di dalam" ujar seseorang.

Tanpa menunggu persetujuan Kayah yang hanya bisa membisu, rombongan kecil itu pun masuk ke dalam rumah.

"Kami sudah berusaha dengan segala cara untuk menyelamatkannya. Tapi, mungkin hanya sampai di sinilah takdir anakmu," ujar seseorang yang mewakili rombongan.. "Bersama dua penambang lainnya, Dali tertimbun tanah longsor saat sedang menggali lubang."

Kayah bertambah bingung mendengar apa yang baru saja dikabarkan.

"Saudara-saudara mungkin salah orang. Astaghfirullah, mana mungkin anak saya bisa tertimbun? Baru saja saya bertemu dengannya. Dia sedang membersihkan diri di belakang," ujar Kayah.

Seseorang yang mewakili rombongan itu segera beringsut, tangannya menyingkap selembar kain yang menutupi sesosok jasad di tengah-tengah ruangan itu. "Kami semua warga kampung ini. Kami sangat mengenal anakmu," katanya kemudian.

Kayah terperangah melihat sebentuk wajah yang sangat dikenalnya itu. Antara percaya dan tidak, Kayah meraih tubuh tak berdaya itu seraya menggoncang-goncangnya berkali-kali. Kayak menjerit sejadi-jadinya.


Pagesangan, 22 Desember 2016

*) Padasan: Sejenis tempayan yang diberi lubang pancuran. Biasanya digunakan sebagai tempat menampung air untuk membersihkan diri atau berwudhu.

Tjak S Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di sejumlah media. Mukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjak S Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 4 Juni 2017 

0 Response to "Pergi ke Bukit"